Indonesia Negeri Tercintaku Indonesia Negeri Tercintaku

PERISAI MUKMIN CHANNEL YOUTUBE

Berbagi kumpulan shalawat Nabi dan dzikir yang sangat baik di amalkan dalam kehidupan sehari hari

MP3 LAGU-LAGU PRAMUKA

Lagu-lagu pramuka yang ber-irama cerdas dan riang selalu setia menemani anggota pramuka, baik pada saat latihan rutin maupun berkemah, mengajak generasi bangsa untuk selalu memiliki jiwa dan keyakinan yang mantap dalam mengisi pembangunan nasional.

MP3 LAGU ANAK INDONESIA

Lagu anak Indonesia walaupun lirik lagunya singkat tapi isinya syarat dengan pesan orang tua terhadap anaknya. Bagi ada yang mempunyai anak kecil, sangat baik jika menguasai lagu-lagu khusus untuk anak-anak karena disamping liriknya mudah diingat juga lagu lagu tersebut mengandung pesan moral yang baik bagi anak kita tercinta.

MP3 LAGU DAERAH NUSANTARA INDONESIA

Nusantara Indonesia yang bergitu luas terdiri dari beragam macam etnis dan suku budaya yang masing-masing memiliki kebudayaan yang berbeda satu sama lainnya. Salah satu budaya daerah yang selalu menjadi kebanggaan daerah masing-masing bahkan menjadi kebanggaan nasional adalah berupa Lagu Daerah.

MP3 LAGU PERJUANGAN DAN WAJIB NASIONAL

Lagu atau musik perjuangan ialah lagu yang membangkitkan semangat persatuan untuk melawan penjajah. Mengingat, mengenang, memperkenalkan kepada generasi muda bangsa indonesia bagaimana semangat dan perjuangan pahlawan-pahlawan yang telah berjasa membela negara di masa lampau.

JELAJAH WISATA DI INDONESIA

Indonesia kaya akan Keindahan alamnya, masing-masing punya pesona dan keistimewaan khas tersendiri yang tak akan dapat ditemukan di belahan bumi manapun. Tidak hanya itu, tempat wisata buatan pun juga ikut meramaikan bursa tempat wisata pilihan di indonesia. Dengan mengetahuinya kita akan tertarik, namun dengan menyaksikannya langsung akan membuat decak kagum terpesona.

77 WARISAN BUDAYA INDONESIA

Indonesia sebagai bangsa yang besar dan memiliki keanekaragaman suku dan budaya memiliki jutaan warisan karya kebudayaan yang perlu dijaga dan dilestarikan oleh seluruh anak bangsa, seringnya budaya milik indonesia yang diklaim sebagai budaya asli negara lain.

01 Maret 2026

Asal Usul Nama Kota Bekasi Dari Chandrabhaga hingga Jadi Kota Penyangga Jakarta

Asal Usul Nama Kota Bekasi Dari Chandrabhaga hingga Jadi Kota Penyangga Jakarta

Dikutip dari buku Sejarah Lokal di Indonesia karya Taufik Abdullah, sejarah Bekasi sendiri dimulai sejak zaman kerajaan, tepatnya Bekasi menjadi Ibukota Kerajaan Tarumanegara yang termasuk kerajaan terbesar di Jawa Barat pada masanya.

Sejarah Bekasi dari awal mula menjadi Ibukota Kerajaaan Tarumanegara tertulis dalam Prasasti Tugu yang merujuk pada sebuah sungai besar yang melewati kota Bekasi itu sendiri. Nama sungai tersebut adalah Candrabaga yang artinya sama dengan Bagasasi yang menjadi cikal bakal nama wilayah Bekasi.

Sejarah Bekasi

Zaman kerajaan runtuh karena kedatangan bangsa Eropa di tahun 1527, setelah itu Belanda menjadikan Bekasi sebagai distrik yang termasuk kabupaten Jatinegara. Setelah zaman kolonialisme Belanda digantikan dengan zaman penjajahan Jepang Kabupaten Jatinegara tersebut meliputi Cikarang, Kebayoran dan Matraman.

Setelah kemerdekaan Indonesia dideklarasikan, kabupaten Jatinegara selalu mengalami perubahan, mulai dari meliputi Tambun, Cikarang hingga Kedung Gede yang sekarang terkenal dengan daerah Bojong.

Di tahun 1948, Belanda mencoba untuk menguasai Indonesia kembali dan Bekasi dimasukan ke wilayah negara Pasundan yang berbatasan dengan Bulak Kapal.

Selanjutnya pada tahun 1961 nama Kabupaten Jatinegara diganti dengan Kabupaten Jakarta Timur dengan ibu kotanya di Cawang. Di tahun 1972 nama Kabupaten Jakarta Timur digantikan dengan kabupaten Bekasi dengan Cikarang sebagai ibukotanya dan yang sekarang menjadi wilayah kota Bekasi tumbuh dengan status kecamatan Bekasi.

Status Kecamatan Bekasi dinaikkan menjadi kota administratif pada tahun 1982 untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakatnya seiring perkembangan pesatnya dari segi perindustrian, penduduk hingga infrastruktur.

Dan pada akhirnya di tahun 1996 kota administratif Bekasi ditingkatkan menjadi kotamadya dengan nama Kota Bekasi hingga saat ini yang memiliki hari jadi setiap tanggal 10 Maret.

Ragam Fakta Bekasi
Berikut ini beberapa ragam fakta yang terangkum dari sejarah Bekasi dari zaman kerajaan hingga sekarang berkembang pesat sebagai kota yang mandiri:
  • Bekasi menjadi ibu kota Kerajaan Tarumanegara karena wilayahnya yang strategis di tanah Jawa Barat.
  • Bekasi terkenal dengan kota sebagai pemasok pejuang kemerdekaan yang menjadikan julukan kota Bekasi adalah Kota Patriot.
  • Bekasi menjadi wilayah yang paling sulit ditaklukan oleh Belanda.
  • Insiden Kali Bekasi menjadi salah satu peristiwa yang menunjukkan keberanian serta sikap patriotisme rakyat Bekasi.

Demikian penjelasan mengenai sejarah Bekasi beserta ragam fakta menariknya. (ARH)

Asal usul nama kota Depok dari tanah partikelir hingga Kota Modern

Asal usul nama kota Depok dari tanah partikelir hingga Kota Modern

Kota Depok bermula dari sebuah Kecamatan yang berada di lingkungan Kawedanan (Pembantu Bupati) wilayah Parung Kabupaten Bogor. Pada tahun 1976 perumahan mulai dibangun baik oleh Perum Perumnas maupun pengembang yang kemudian diikuti dengan dibangunnya kampus Universitas Indonesia (UI), serta meningkatnya perdagangan dan jasa yang semakin pesat sehingga diperlukan kecepatan pelayanan.

Perkembangan Depok yang begitu cepat menjadi perhatian bagi Pemerintah Orde Baru. Menteri Dalam Negeri kala itu, Amir Machmud, mulai mengkaji peningkatan status Kecamatan Depok menjadi Kota Administratif. Peningkatan status Kota Depok dilakukan agar pembangunan lebih tertata dan terarah sebagai kota masa depan, ketimbang dikelola sepenuhnya oleh Kota Bogor yang hanya sebagai kecamatan yang dipimpin oleh Camat.

Pembentukan Kota Administratif Depok dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri Amir Machmud sekaligus melantik Wali Kota Administratif yang pertama, yaitu Mochammad Rukasah Suradimadja oleh Gubernur Jawa Barat, Aang Kunaefi.

Di awal tahun 1999, Kota Administratif Depok dimekarkan dan seluruh desa berganti status menjadi Kelurahan. Hasil pemekaran wilayah tersebut terdiri dari 3 (tiga) Kecamatan dan 17 (tujuh belas) Desa, yaitu:
  • Kecamatan Pancoran Mas, terdiri dari 6 (enam) Desa, yaitu : Desa Depok, Desa Depok Jaya, Desa Pancoran Mas, Desa Mampang, Desa Rangkapan Jaya, dan Desa Rangkapan Jaya Baru.
  • Kecamatan Beji, terdiri dari 5 (lima) Desa, yaitu : Desa Beji, Desa Kemiri Muka, Desa Pondok Cina, Desa Tanah Baru, dan Desa Kukusan.
  • Kecamatan Sukmajaya, terdiri dari 6 (enam) Desa, yaitu : Desa Mekarjaya, Desa Sukmajaya, Desa Sukamaju, Desa Cisalak, Desa Kalibaru, dan Desa Kalimulya.
Selama kurun waktu 17 tahun Kota Administratif Depok berkembang pesat baik di bidang Pemerintahan, Pembangunan, dan Kemasyarakatan. Khususnya di bidang Pemerintahan Kota Depok berkembang menjadi 3 (tiga) wilayah Kecamatan yang terdiri dari 23 (dua puluh tiga) Kelurahan, yang terbagi atas:
  • Kecamatan Pancoran Mas, terdiri dari 6 (enam) Kelurahan, yaitu : Kelurahan Depok, Kelurahan Depok Jaya, Kelurahan Mampang, Kelurahan Pancoran Mas, Kelurahan Rangkapan Jaya, dan Kelurahan Rangkapan Jaya Baru.
  • Kecamatan Beji terdiri dari 6 (enam) Kelurahan, yaitu : Kelurahan Beji, Kelurahan Beji Timur, Kelurahan Pondok Cina, Kelurahan Kemiri Muka, Kelurahan Kukusan, dan Kelurahan Tanah Baru.
  • Kecamatan Sukmajaya, terdiri dari 11 (sebelas) Kelurahan, yaitu : Kelurahan Sukmajaya, Kelurahan Sukamaju, Kelurahan Mekar Jaya, Kelurahan Abadi Jaya, Kelurahan Bakti Jaya,
  • Kelurahan Cisalak, Kelurahan Kalibaru, Kelurahan Kalimulya, Kelurahan Cilodong, Kelurahan Jati Mulya, dan Kelurahan Tirta Jaya.
Terbentuknya Kota Depok

Pesatnya perkembangan dan tuntutan aspirasi masyarakat semakin mendesak agar Kota Administratif Depok dinaikkan statusnya menjadi Kotamadya dengan harapan pelayanannya menjadi lebih maksimal. Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Bogor bersama – sama Pemerintah Provinsi Jawa Barat memperhatikan perkembangan tersebut, dan mengusulkannya kepada Pemerintah Pusat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Hingga akhirnya pada tanggal 20 April 1999, berdasarkan Undang-undang No.15 tahun 1999, Kota Depok diresmikan menjadi Kotamadya Daerah Tk. II Depok. Peresmian pembentukan Kotamadya Daerah Tk.II Depok dilakukan pada tanggal 27 April 1999 bersamaan dengan Pelantikan Pejabat Walikotamadya Kepala Daerah Tk. II Depok saat itu, Drs. H. Badrul Kamal, yang menjabat sebagai Walikota Kota Administratif Depok.

Momentum peresmian Kotamadya Daerah Tk. II Depok dan pelantikan pejabat Walikotamadya Kepala Daerah Tk. II Depok saat itu, dijadikan suatu landasan yang bersejarah dan tepat untuk dijadikan hari jadi Kota Depok.

Berdasarkan Undang-undang nomor 15 tahun 1999, Wilayah Kota Depok meliputi wilayah Administratif Kota Depok terdiri dari 3 (tiga) Kecamatan, ditambah sebagian wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor, yang meliputi:
  • Kecamatan Cimanggis, yang terdiri dari 1 (satu) Kelurahan dan 12 (dua belas) Desa , yaitu : Kelurahan Cilangkap, Desa Pasir Gunung Selatan, Desa Tugu, Desa Mekarsari, Desa Cisalak Pasar, Desa Curug, Desa Harjamukti, Desa Sukatani, Desa Sukamaju Baru, Desa Cijajar, Desa Cimpaeun, Desa Leuwinanggung.
  • Kecamatan Sawangan, yang terdiri dari 14 (empat belas) Desa, yaitu : Desa Sawangan, Desa Sawangan Baru, Desa Cinangka, Desa Kedaung, Desa Serua, Desa Pondok Petir, Desa Curug, Desa Bojong Sari, Desa Bojong Sari Baru, Desa Duren Seribu, Desa Duren Mekar, Desa Pengasinan Desa Bedahan, Desa Pasir Putih
  • Kecamatan Limo yang terdiri dari 8 (delapan) Desa, yaitu : Desa Limo, Desa Meruyung, Desa Cinere, Desa Gandul, Desa Pangkalan Jati, Desa Pangkalan Jati Baru, Desa Krukut, Desa Grogol.
  • Dan ditambah lagi 5 (lima) Desa dari Kecamatan Bojong Gede, yaitu : Desa Cipayung, Desa Cipayung Jaya, Desa Ratu Jaya, Desa Pondok Terong, Desa Pondok Jaya.

Kota Depok selain merupakan Pusat Pemerintahan yang berbatasan langsung dengan Wilayah Jakarta juga merupakan wilayah penyangga yang diarahkan untuk kota pemukiman , kota pendidikan, pusat pelayanan perdagangan dan jasa, kota pariwisata dan sebagai kota resapan air.

Asal Usul Nama Kota Depok

Nama Depok diketahui merupakan suatu singkatan dari " De Eereste Protestantse Organisatie van Kristenen" artinya jemaat/organisasi Kristen yang pertama. Akronim ini muncul pada tahun 1950-an di kalangan masyarakat Depok yang tinggal di Belanda.

Dalam versi lainnya disebutkan bahwa nama Depok merujuk sebagai tempat pertapaan. Ada istilah Padepokan, diambil dari Bahasa Sunda yang berarti pertapaan. Merujuk Depok sebagai tempat pertapaan, Depok ditafsirkan pula sebagai daerah pemukiman orang kota.

Jejak Sejarah Kota Depok

Dalam Jejak-Jejak Masa Lalu Depok : Warisan Cornelis Chastelein (1657-1714), Jan-Karel Kwisthout mengatakan, Depok merupakan eksperimen Chastelein yang ingin melanggengkan kekuasaan lewat pendekatan humanis dan agama.

Chastelein merupakan pedagang tajir keturunan Perancis-Belanda yang membangun tanah koloninya sendiri. Ia membeli lahan partikelir di selatan Batavia yaitu Srengseng (sekarang Lenteng Agung) dan Depok. Tanah di Srengseng kemudian dibangun menjadi rumah peristirahatan Chastelein, sementara tanah di Depok dijadikan lahan penghasil produk-produk pertanian. Saat itu, dengan status tanah partikelir, Depok bukanlah bagian dari kekuasaan Hindia-Belanda. Karena itu, Depok memiliki pemerintahan sendiri dan dikenal dengan nama Het Gemeente Bestuur van Het Particuliere Land Depok.

Untuk mengelola lahan di Depok yang luas dan subur, Chastelein mendatangkan sejumlah budak yang berasal dari Bali, Makassar, Malaka hingga Sri Lanka. Beberapa produk natura dihasilkan, di antaranya : indigo, coklat, sirsak, nangka dan belimbing. Produk pertanianpun terus dihasilkan, Kota Depok menjadi lahan pertanian yang subur dan makmur.

Menjelang mangkatnya, Chastelein mewariskan tanah Depok kepada para budaknya. Dalam surat wasiat bertanggal 13 Maret 1714, tanah warisan itu diamanatkan dalam bentuk kepemilikan bersama. Wasiat itu menerangkan pula, setelah Chastelein meninggal, 150 orang hambanya yang mengerjakan tanah pertanian di Depok akan dimerdekakan. Baik Kristen atau Muslim mereka memperoleh kebebasan.

Chastelein meninggal pada 28 Juni 1714 di Batavia akibat wadah epidemi. Sejak saat itu budak kuli pertanian yang mewarisi tanah Chastelein hidup sebagai orang merdeka. Mereka kemudian menjadi penduduk asli Depok yang lebih dikenal sebagai istilah orang Belanda Depok. Komunitas ini hidup secara turun temurun dengan sistem pemerintahan yang diwariskan Chastelein.

Biografi Ismail Marzuki Sang Maestro Musik Indonesia

Biografi Ismail Marzuki Sang Maestro Musik Indonesia
Masa Kecil Ismail Marzuki

Ismail Marzuki adalah pencipta lagu-lagu perjuangan Indonesia. Beliau lahir pada 11 Mei 1914 di Kwitang, Jakarta Pusat. Lagu-lagu gubahannya berhasil membakar semangat para pejuang kemerdekaan untuk melawan penjajah waktu itu.

Atas karya-karyanya yang sangat berarti bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia, Ismail Marzuki ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 5 November 2004.

Sebenarnya, Ismail Marzuki bukanlah nama asli. Nama aslinya adalah Ismail bin Marzuki. Jadi, Marzuki merupakan nama ayahnya. Namun, orang-orang banyak yang memanggilnya Ismail Marzuki.

Ibu Ismail Marzuki, Solehah meninggal tidak lama setelah melahirkannya. Setelah kepergian ibunya, Ismail hanya tinggal bersama ayah dan kakaknya.

Bakat bermusik Ismail diwariskan melalui ayahnya yang merupakan seorang pemain rebana. Selain aktif menjadi pemain rebana, ayah Ismail juga memiliki bengkel. Bisa dibilang, keluarga Ismail berasal dari kalangan ekonomi yang cukup. Ayahnya senang mengoleksi benda-benda berbau musik seperti piringan hitam dan gramofon. Nah, dari sinilah kecintaan Ismail terhadap musik terus tumbuh sejak kecil.

Pendidikan Ismail Marzuki

Ismail Marzuki bersekolah di sekolah Kristen HIS Idenburg, Menteng. Teman-temannya yang merupakan orang Belanda sering kali memanggilnya dengan nama Benjamin atau Ben di sekolah ini.

Tidak lama setelah itu, ayah Ismail memutuskan untuk memindahkannya ke Madrasah Unwabul-Salah di Kwitang. Marzuki khawatir kalau anaknya nanti akan bersifat kebelanda-belandaan, guys.

Ketika kenaikan kelas, ia sering mendapatkan hadiah berupa alat musik dari ayahnya. Nggak heran dong ya, kenala Ismail Marzuki akhirnya dijuluki maestro!

Setelah lulus dari madrasah, Ismail Marzuki melanjutkan pendidikannya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau pendidikan setara SMA di zaman kolonial Belanda.

Grup musik pertamanya terbentuk saat ia bersekolah di MULO. Di grup tersebut, Ismail memainkan alat musik banjo dan kerap memainkan musik-musik jazz. Jadi, bisa dibilang kemampuan musiknya ia pelajari secara otodidak, bukan dari pendidikan formal.

Karier Musik Ismail Marzuki

Ismail Marzuki memulai karier bermusiknya sejak ia berusia 17 tahun, lho! Tapi sebelum itu, Ismail pernah bekerja sebagai kasir di Socony Service Station. Ia mengumpulkan gajinya untuk membeli sebuah biola.

Karena merasa kurang cocok bekerja sebagai kasir, Ismail Marzuki memutuskan untuk beralih pekerjaan menjadi penjual piringan hitam produksi Columbia dan Polydor dengan gaji yang tidak tetap.

Dari pekerjaannya sebagai penjual piringan hitam inilah akhirnya menjadi loncatan kariernya di bidang musik. Ismail mendapatkan banyak kenalan artis dari sini.

Lagu pertama yang ia ciptakan saat berusia 17 tahun berjudul “O Sarinah”. Lagu ini menggambarkan keadaan Indonesia yang tertindas. Banyak alat musik yang dikuasai Ismail. Ia pernah menjadi pemain gitar, saxophone, dan harmonium di orkes musik Lief Java sejak tahun 1936.

Pada Oktober 1944, lagu Ismail Marzuki Rayuan Pulau Kelapa dibuat untuk menggambarkan cinta kasihnya pada tanah air.

Ismail Marzuki Menggunakan Musik sebagai Alat Perjuangan

Pada tahun 1940, pecahnya Perang Dunia II berdampak ke kehidupan Hindia-Belanda. Radio Nederlandsch-Indische Radio-Omroep Maatschappij (NIROM) membatasi acara siaran musik mereka. Hal ini membuat masyarakat di Jakarta akhirnya membangun radio sendiri bernama Vereniging Oostersche Radio Omroep (VORO).

Setiap malam Minggu, VORO menyiarkan orkes Lief Java dan Ismail Marzuki mengisi acara lawak menggunakan nama samaran “Paman Lengser” ditemani oleh Memet alias “Botol Kosong”. Di tahun yang sama, Ismail Marzuki menikahi gadis pujaannya bernama Eulis Zuraidah.

Setelah Jepang masuk, hal ini mengubah arah bermusik Ismail Marzuki. Pada tahun 1942, Jepang membubarkan radio NIROM dan menggantinya dengan Hoso Kanri Kyoku. Ismail pernah tergabung dalam orkestra Radio Militer Jepang tersebut.

Di masa penjajahan Jepang ini, Ismail Marzuki mengubah haluan bermusiknya menjadi alat perjuangan. Berbeda saat masa penjajahan Belanda yang ia jadikan untuk mendapatkan popularitas.

Hal ini bisa dilihat dari lagu ciptaannya yang berjudul “Bisikan Tanah Air” dan “Indonesia Tanah Pusaka”. Lagu ini diperdengarkan secara luas melalui radio. Tidak lama setelah itu, kepala Seidenbu (Badan Propaganda) melaporkan Ismail Marzuki ke Kempetai. Ismail pun dipanggil oleh polisi Militer Jepang untuk diinterogasi.

Setelah itu, lahirlah lagu-lagu perjuangan lain seperti “Gagah Perwira” untuk membakar semangat kemerdekaan khusus untuk Peta (Pembela Tanah Air). Dalam melakukan perjuangan melalui musik ini, Ismail Marzuki tidak sendirian. Ia dibantu oleh komponis patriotis bernama Cornel Simanjuntak menghasilkan lagu “Maju Tak Gentar”. Selain itu juga menggubah lagu “Bagimu Negeri” bersama Kusbini.

Pada Oktober 1944, lagu Ismail Marzuki Rayuan Pulau Kelapa dibuat untuk menggambarkan cinta kasihnya pada tanah air.

Saat Indonesia telah merdeka, Ismail masih bersiaran di RRI. Pada tahun 1947, saat Belanda kembali menguasai RRI, Ismail memutuskan untuk hengkang dari RRI. Alasannya adalah ia tidak mau bekerja sama dengan Belanda, guys.

Ismail Marzuki mau kembali ke RRI kalau sudah berhasil diambil alih oleh Indonesia lagi. Di era ini, Ismail Marzuki memimpin Orkes Studio Jakarta. Di sinilah lagu “Pemilihan Umum” tercipta dan diperdengarkan pertama kali pada Pemilu 1955.

Oh iya, setelah masa Perang Dunia II, Ismail Marzuki masih terus menciptakan lagu, loh! Salah satunya adalah lagu nasional yang masih sering kita dengar sampai sekarang, yaitu “Halo-Halo Bandung”. Saat itu, Ismail bersama istrinya pindah ke Bandung akibat rumah mereka di Jakarta hancur oleh hantaman peluru mortir.

Ketika Ismail Marzuki tinggal di Bandung, ayahnya meninggal di Jakarta. Namun ia terlambat menerima berita sehingga ia baru bisa ke Jakarta beberapa hari setelah pemakaman. Lagu Ismail Marzuki Gugur Bunga pun tercipta untuk mengenang kepergian ayahnya.

Walaupun lagu-lagunya berbau perjuangan, namun Ismail Marzuki juga menciptakan lagu yang bergaya romantis, lho. Misalnya saja “Sepasang Mata Bola”, “Ke Medan Jaya”, “Melati di Tapal Batas Bekasi”, “Saputangan dari Bandung Selatan”, “Selamat Datang Pahlawan Muda”, dan “Selendang Sutra”. Lagu Ismail Marzuki Rayuan Pulau Kelapa digunakan sebagai lagu penutup siaran TVRI pada masa pemerintahan Orde Baru.

Lagu apa saja yang diciptakan oleh Ismail Marzuki? Lagu gubahan sang maestro ini tuh sebenarnya banyak banget, guys! Nah, berikut judul-judul lagu terkenal yang pernah diciptakan oleh Ismail Marzuki:
  • Aryati
  • Keroncong Sejati
  • Gugur Bunga
  • Melati di Tapal Batas
  • Bapak Kromo
  • Wanita
  • Rayuan Pulau Kelapa
  • Sepasang Mata Bola
  • Melancong ke Bali
  • Panon Hideung
  • Bandung Selatan di Waktu Malam
  • O Sarinah
  • Keroncong Serenata
  • Duduk Termenung
  • Als de Ovehedeen
  • Kasim Baba
  • Bandaneira
  • Pulau Saweba
  • Lenggang Bandung
  • Sampul Surat
  • Ibu Pertiwi
  • Hari Lebaran
  • Karangan Bunga dari Selatan
  • Selamat Datang Pahlawan Muda
  • Di Tepi Laut
  • Juwita Malam
  • Olee lee di Kutaraja
  • Di Ambang Sore
  • Halo-Halo Bandung
  • Rindu Malam
  • Sabda Alam
  • Roselani
  • Rindu Lukisan
  • Indonesia Pusaka
Gugurnya Sang Maestro

Ismail Marzuki meninggal akibat penyakit paru-paru. Suatu hari, ia mendapatkan hadiah saxophone dari temannya yang mengidap penyakit paru-paru. Setelah itu, Ismail mengeluhkan gangguan di pernapasannya. Dokter menjelaskan bahwa ia mengidap penyakit paru-paru.

Sang maestro akhirnya tutup usia pada 25 Mei 1958 dalam usia 44 tahun di Kampung Bali, Jakarta Pusat. Untuk menghormati jasanya, pemerintah membuka sebuah taman pusat kebudayaan dan kesenian di Cikini yang diberi nama Taman Ismail Marzuki. Di tahun 2004, Ismail Marzuki dianugerahi gelar pahlawan nasional.

Wah, menarik ya kisah perjuangan Ismail Marzuki melalui lagu-lagu gubahannya. Bahkan hingga saat ini, lagu-lagunya banyak loh yang diaransemen ulang oleh musisi-musisi hebat. Contohnya “Sabda Alam” yang dinyanyikan ulang oleh almarhum Chrisye dan “Juwita Malam” oleh grup band legendaris Slank.

Legenda Si Pitung Cerita Rakyat Betawi

Menelusuri sepak terjang si jagoan legendaris di kalangan masyarakat Betawi.

Legenda Si Pitung Cerita Rakyat Betawi

Cerita Rakyat Betawi: Legenda Si Pitung berasal dari provinsi DKI Jakarta. Legenda ini begitu terkenal dalam kebudayaan masyarakat Betawi, hingga sering dijadikan bahan pembicaraan oleh para sejarawan dan ahli budaya. Salah satu yang paling termasyhur adalah cerita yang dirangkum dalam buku Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit, dan Senjata Api dan esai bertitel In Search of Si Pitung: The History of an Indonesian Legend—dimuat jurnal Bijdragen tot de Taal, Land-en Volkenkunde, Vol. 152, 1996.

Kedua buku tersebut adalah buah karya seorang sejarawan asal Belanda, Margreet van Till. Ceritanya berkisar seputar sepak terjang Si Pitung yang diyakini merupakan seorang tokoh nyata, bukan mitos seperti yang dipercayai masyarakat luas. Selain itu, terdapat juga sebuah novel adaptasi karya Lukman Karmani yang berjudul Si Pitung: Tjerita Klasik Djaman Betawi (1969). Seiring berjalannya waktu, sang legenda merambah ke ranah pop kultur yang ditandai dengan kemunculan film bertajuk Si Pitung (1970) dan dibintangi Dicky Zulkarnain.

Ada banyak versi cerita Si Pitung yang beredar di masyarakat. Termasuk di antaranya adalah versi Indonesia, Belanda, dan Tionghoa, yang masing-masing memiliki pandangan berbeda tentang Si Pitung. Jika versi Indonesia menggambarkan Si Pitung sebagai seorang pahlawan pembela masyarakat Betawi, versi Belanda dan Tionghoa justru melihat Si Pitung sebagai buronan kompeni. Untuk menghindari kebingungan, Cerita Rakyat Betawi: Legenda Si Pitung kali ini akan mengambil versi Indonesia, demi menghormati legasinya di tengah masyarakat Betawi dan signifikansinya dalam budaya Indonesia hingga kini.

Cerita dari abad ke-19 ini mengisahkan napak tilas Ahmad Nitikusumah atau Si Pitung yang dikenal sebagai sosok “Robin Hood” Indonesia. Kisah ini berawal saat ia diberi mandat oleh sang ayah untuk menjual seekor kambing. Ketika berhasil terjual, duit sebesar 25 gulden yang didapatkannya dicuri oleh komplotan bandit di daerah tersebut. Ia pun murka dan berniat membalas dendam. Tak disangka, ia justru bergabung dengan komplotan yang terdiri dari tujuh orang tersebut, bahkan menjadi pemimpin untuk merampok para tuan tanah Belanda (kompeni). Dari sinilah julukan Pitung berasal, yaitu pituan pitulung yang berarti tujuh sekawan atau tolong-menolong dalam Bahasa Jawa. Meski mengacu pada komplotan beranggotakan tujuh orang tersebut, nama Si Pitung kerap diasosiasikan dengan Ahmad seorang.

Komplotan ini memulai aksi perampokan pertamanya di rumah Haji Saipudin, tuan tanah asal Bugis, Sulawesi Selatan. Merasa berhasil, Si Pitung dan komplotannya merencanakan aksi-aksi lainnya di kemudian hari. Hal ini membuat gusar para kompeni, centeng (pengawal), dan warga sekitar lainnya, sehingga Si Pitung dan komplotannya menjadi buronan seantero masyarakat. Berkat kelihaian dan kemampuan bela diri yang dimilikinya, ia berhasil meloloskan diri berkali-kali. Namun, semua ini berhenti ketika seorang polisi bernama A.W. Van Hinne berhasil menangkapnya. Lantas, bagaimana nasib Si Pitung dan komplotannya? Beginilah kisah lengkapnya.

Sepak Terjang Si Pitung

Si Pitung lahir di Jakarta (dulu Batavia) pada 1886, tepatnya pada masa penjajahan Belanda. Ia diketahui bernama asli Ahmad Nitikusumah, anak dari pasangan Bang Piung dan Mak Pinah yang bermukim di daerah Rawabelong. Semasa kecil, Si Pitung bersekolah di Pondok Pesantren Haji Naipin, tempat ia dididik dengan pendidikan agama yang kuat sambil belajar ilmu bela diri. Ia juga dikenal sebagai pribadi berakhlak baik dan disukai oleh warga sekitar.

Suatu hari, Si Pitung yang waktu itu masih berusia sekitar 15 tahun, ditugaskan oleh sang ayah untuk menjual seekor kambing hasil ternak keluarga di Pasar Tanah Abang. Setelah berhasil menjualnya, ia berjalan pulang dengan perasaan bangga dan tak sabar untuk memberitahu sang ayah.

Malang beribu malang, ia dihadang oleh komplotan Belanda dan Tionghoa yang dijuluki sebagai ‘centeng’. Mereka merampas uang sebesar puluhan gulden yang didapatkan Si Pitung dari hasil penjualan kambing. Ia pulang dengan tangan kosong dan hati sedih. Ayahnya pun menjadi geram ketika mendengar berita tersebut.

Si Pitung ikut murka dan berjanji untuk membalas dendam kepada para bandit tersebut. Ketika berhasil menemukan mereka, Si Pitung mengerahkan kemampuan bela dirinya dan memberi pelajaran kepada komplotan tersebut. Usai bertarung, komplotan yang terdiri oleh enam pemuda bernama Abdoelrachman, Moedjeran, Merais, Dji-ih, Gering, dan Jampang tersebut justru dibuat terkesan atas keahlian Si Pitung dan mengajaknya bergabung.

Meski awalnya menolak, ia akhirnya bergabung sebagai pemimpin komplotan dengan syarat bahwa hasil rampokan akan dibagikan kepada mereka yang membutuhkan. Ia berniat menggunakan ilmu bela dirinya untuk melawan para kompeni dan tuan tanah yang begitu semena-mena terhadap warga.

Si Pitung dan komplotan melakukan aksi pertamanya di kantor Maester Cornelis, tempat seorang tuan tanah asal Bugis, Haji Saipudin, bekerja. Aksi ini dilakukan secara cerdik oleh Si Pitung dengan menyamar sebagai salah satu pegawai pemerintahan Belanda. Penipuan ini dilakukan dengan cara mencuri seragam salah satu petugas dan menyamar sebagai demang atau kepala daerah wilayah Maester Cornelis.

Selanjutnya, Si Pitung memberi surat perintah kepada Haji Saipudin agar menyimpan uangnya di kantor Maester Cornelis untuk keperluan pengawasan pencurian. Tak disangka, Haji Saipudin setuju dan memberikan uangnya kepada “Demang Maester Cornelis” alias Si Pitung. Setelah itu, harta Haji Saipudin dibawa kabur oleh Si Pitung dan komplotannya.

Merasa berhasil melakukannya tanpa menimbulkan kecurigaan pihak berwenang, Si Pitung dan komplotan terus-menerus melakukan berbagai perampokan selanjutnya. Hingga suatu hari, pihak berwenang menemukan jas hitam, seragam polisi, topi yang digunakan untuk tipu muslihat, sekaligus uang rampasan sebesar 125 Gulden. Kabar ini pun perlahan terdengar dan menggemparkan warga yang khawatir hartanya akan dicuri oleh Si Pitung dan komplotannya.

Puncak Pelarian

Pihak berwenang lalu memutuskan untuk memberitakan di sebuah surat kabar dengan tujuan memburu mereka. Bahkan, disiapkan ganjaran uang sebesar 400 gulden bagi siapa saja yang berhasil menangkap sang komplotan. Meski ketujuh orang tersebut diincar, Si Pitung lah yang paling dicari lantaran perannya sebagai ketua. Akan tetapi pencarian tersebut selalu berujung nihil, padahal sejumlah detektif juga ikut turun tangan.

Sebenarnya, beberapa kali para pihak berwenang sempat menemukan Si Pitung dan mencoba menembaknya. Namun, selain ilmu bela diri nan andal, Si Pitung juga memiliki sebuah kesaktian yang terus-menerus menyelamatkannya dari tangkapan polisi dan malapetaka lainnya.

Kemudian, pencarian terhadap Si Pitung terus-menerus dilakukan, kali ini dikepalai seorang Kepala Polisi Kolonial yang bernama A.W. Van Hinne. Pencarian ini dibantu oleh warga setempat yang bertindak sebagai informan. Hari demi hari, mereka menyisiri daerah Kampung Bambu dan sekitarnya, tempat Si Pitung sering beredar dan beraksi.

Suatu hari, Van Hinne mendapatkan berita dari salah satu informan bahwa Si Pitung tengah berada di wilayah Tanah Abang. Dengan amat berhati-hati karena takut kehilangan sang bandit ulung, Van Hinne menyiapkan strategi untuk menyergapnya. Tak lama kemudian, Si Pitung menampakkan diri dan mencoba melarikan diri. Namun, Van Hinne dan pasukannya berhasil menangkap dan menembak kaki Si Pitung.

Lemah lunglai dan tak mampu melakukan perlawanan, Van Hinne kembali menembak dan kali ini mendarat tepat di bagian dada. Perlahan, Si Pitung terjatuh ke tanah dan meninggal. Lalu bagaimana dengan kesaktiannya? Bukankah harusnya hal tersebut dapat menyelamatkannya dari malapetaka? Ternyata, sehari sebelumnya, Pitung memotong rambutnya hingga kesaktiannya hilang. Diketahui, untuk mempertahankan kesaktiannya, ia tidak boleh melepas jimat atau memotong rambut.

Selepas kepergiannya, Si Pitung disemayamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Kebon Jeruk, Jakarta. Kemudian, makam sang legenda terus-menerus dijaga oleh warga Betawi karena ia dihormati sebagai pahlawan pembela keadilan dari para penindas. Warga Betawi pun percaya bahwa Si Pitung terus melindungi mereka dari malapetaka hingga saat ini.

Moral Cerita

Dari Cerita Rakyat Betawi: Legenda Si Pitung, terdapat sejumlah pesan moral yang dapat dipetik. Pertama dan yang paling penting adalagh untuk selalu memiliki niat mulia dalam bertindak, seperti Si Pitung yang disenangi masyarakat berkat kepribadiannya yang supel dan suka menolong. Hanya saja, tindakan yang dilakukan harus sesuai kaidah kebaikan dan tidak melanggar hukum. Kebaikan yang dilakukan sesuai kapasitas, pasti akan membuahkan hasil yang lebih bermanfaat bagi semua pihak.

Mengenang Pak Suyadi, Tokoh Indonesia Pencipta Si Unyil

Mengenang Pak Suyadi, Tokoh Dongeng Indonesia Pencipta Si Unyil

Tanggal 28 November disepakati sebagai Hari Dongeng Nasional. Penetapan tersebut baru ada sejak tahun 2015 ketika para seniman dan komunitas dongeng mendeklarasikannya di Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 28 November 2015 lalu. Tanggal itu diambil dari hari kelahiran Drs. Suyadi atau yang lebih populer disapa Pak Raden.

Pak Raden adalah tokoh dari seri anak-anak Si Unyil yang ciri-cirinya memakai baju adat Jawa dan blangkon serta berkumis lebat. Pak Raden biasanya muncul ketika Unyil dan teman-temannya melakukan kekeliruan dan Pak Raden datang untuk memarahi dan memberi petuah kepada mereka. Pak Suyadi-lah pengisi suara Pak Raden.

Selain menjadi dubber, Pak Suyadi juga gemar mendongeng untuk anak-anak. Dikutip dari Bobo.id, Pak Suyadi memang sangat mencintai dunia anak-anak. Selain mendongeng dan menjadi pengisi suara Pak Raden, beliau juga suka melukis. Beberapa dongeng karyanya pun sudah diterbitkan dalam bentuk buku. Semasa hidupnya, Pak Suyadi memang hadir untuk menghibur dan menginspirasi anak-anak Indonesia.

Pak Suyadi lahir pada 28 November 1932 di Jember, Jawa Timur. Beliau memiliki nama lengkap Raden Soejadi. Pak Suyadi adalah lulusan Instutut Teknologi Bandung (ITB) pada 1960 untuk Jurusan Seni Rupa. Tak lama setelah tamat ITB, Pak Suyadi melanjutkan studi animasi ke luar negeri tepatnya di negara Perancis selama tiga tahun sampai 1963.

Tokoh Dongeng Indonesia Pencipta Si Unyil

Pak Suyadi membuat film Si Unyil pada tahun 1981 bersama Pak Kurnain Suhardiman. Film tersebut identik dengan boneka-boneka tiga dimensi yang dimainkan dengan tangan. Pak Suyadi bertanggung jawab sebagai penata artistik dan pencipta boneka-boneka yang menjadi karakter dalam film Si Unyil tersebut. Sementara itu, Pak Kurnain bertanggung jawab pada kreasi cerita.

Pak Suyadi menciptakan kurang lebih 300 boneka selama pembuatan film Si Unyil. Beliau juga ikut serta sebagai pengisi suara Pak Raden. Seiring film Si Unyil mengudara, nama Pak Suyadi pun meredup dan malah lebih dikenal dengan sapaan Pak Raden.

Mungkin ada yang bertanya-tanya siapa istri dan anak-anak Pak Suyadi. Namun, sampai akhir hayatnya yang tutup usia pada 30 Oktober 2015 silam, Pak Suyadi melajang alias tidak memiliki istri dan keturunan. Dikutip dari Kompas.com, Pak Suyadi hidup bersama dua orang pengasuhnya bernama Madun dan Nanang di rumahnya.

Semangat Mendongeng pada Hari Dongeng Nasional

Semangat Pak Suyadi untuk dongeng harus terus berkobar. Membacakan dongeng pada anak-anak menjadi salah satu kegiatan yang krusial untuk dilakukan oleh orangtua.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Nadiem Makarim pun setuju akan hal itu. Dalam acara Hari Mendongeng Nasional yang diselenggarakan di Perpustakaan Kemendikbud, Jakarta beberapa hari lalu, Nadiem mengajak para orangtua meluangkan waktu untuk mendongeng kepada anak-anak.

"Apa maknanya mendongeng dan membaca itu? Maknanya adalah agar adik-adik semua senang dan mencintai cerita dan mencintai buku. Karena dari cerita itulah kita menciptakan imajinasi dan dari situlah kita berlatih jadi kreatif," ujar Mendikbud.

06 Desember 2025

Biografi KH Zainal Mustafa Singaparna Tasikmalaya

KH. Zainal Mustafa, seorang tokoh ulama dan pejuang yang gigih, memainkan peran penting dalam perlawanan melawan penjajahan Jepang di Jawa Barat.

Biografi KH Zainal Mustafa Singaparna Tasikmalaya

Biografi beliau mencerminkan dedikasi yang luar biasa dalam perjuangan kemerdekaan dan pengembangan pendidikan Islam, terutama melalui pendirian pesantren di Tasikmalaya. Berikut ini adalah perjalanan hidup KH Zainal Mustafa, dari masa kecil hingga perjuangan besarnya melawan penjajah.

Masa Muda dan Pendidikan KH Zainal Mustafa

KH Zainal Mustafa lahir pada 1 Januari 1899 di Sukamanah, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat, dengan nama kecil Hudaemi. Sepulang dari ibadah haji pada tahun 1927, beliau mengganti namanya menjadi Zainal Mustafa.

Pendidikan formalnya dimulai di Sekolah Rakyat, namun minat mendalamnya pada ilmu agama membawanya berguru kepada para ulama terkemuka di berbagai pesantren, termasuk Pondok Pesantren Gunung Pari. Selama 17 tahun, Hudaemi mendalami ilmu agama hingga akhirnya memutuskan untuk mendirikan pesantren sendiri.

Pada tahun 1927, KH Zainal Mustafa mendirikan Pondok Pesantren Sukamanah di Desa Cikembang, yang kelak menjadi pusat pendidikan agama di Tasikmalaya. Di sini, beliau tak hanya mengajarkan ilmu agama tetapi juga menanamkan nilai-nilai akidah Islam, terutama paham Syafi'i, kepada para santrinya. KH Zainal Mustafa segera dikenal sebagai ulama yang disegani dan kerap memberikan ceramah agama di berbagai daerah di Tasikmalaya.

Pendirian Pesantren dan Perlawanan Terhadap Penjajahan

Pada tahun 1933, KH Zainal Mustafa bergabung dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan dipercaya sebagai Wakil Ro'is Syuriah di cabang NU Tasikmalaya. Keteguhan beliau dalam menyebarkan agama Islam di tengah situasi politik yang sulit membuatnya harus menghadapi tantangan besar, terutama dari pemerintah kolonial Belanda yang mengawasi dengan ketat kegiatan di pesantren. Namun, KH Zainal Mustafa tidak gentar, bahkan mengadakan pertemuan rahasia untuk melawan penjajahan Belanda.

Pada 17 November 1941, karena dianggap mengancam stabilitas kolonial, KH Zainal Mustafa bersama beberapa rekan ditangkap oleh pemerintah Belanda. Namun, perjuangannya tidak berhenti di situ. Setelah Belanda menyerah kepada Jepang pada Maret 1942, KH Zainal Mustafa tetap menunjukkan sikap tegas dalam melawan penjajahan, kali ini terhadap Jepang.

Perlawanan Terhadap Jepang dan Pengorbanan di Sukamanah

KH. Zainal Mustafa menentang keras kebijakan Jepang, terutama terkait dengan aturan "Seikerei" (sikap tunduk kepada Kaisar Jepang), yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai agama Islam.

Beliau bersama para muridnya menolak keras untuk mengikuti aturan ini. Puncaknya, pada 25 Februari 1944, terjadi pertempuran sengit di Sukamanah saat tentara Jepang mencoba menangkapnya. Meskipun pasukan Jepang berhasil memenangkan pertempuran tersebut, perlawanan dari KH Zainal Mustafa dan pengikutnya telah meninggalkan dampak yang besar.

KH. Zainal Mustafa akhirnya ditangkap dan diadili di Jakarta bersama 23 orang lainnya. Di Tasikmalaya, sebanyak 79 orang yang ikut terlibat dalam peristiwa ini dijatuhi hukuman penjara. KH Zainal Mustafa sendiri dieksekusi oleh tentara Jepang, dan jasadnya awalnya dimakamkan di Ancol, sebelum dipindahkan ke Sukamanah pada 25 Agustus 1973. Penghormatan dan Penghargaan Atas Perjuangan KH. Zainal Mustafa.

Atas jasa dan keberaniannya dalam melawan penjajahan, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Pergerakan Nasional kepada KH. Zainal Mustafa pada tahun 1972 melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 064/TK/Tahun 1972.

Kisah hidup KH. Zainal Mustafa terus menjadi inspirasi hingga kini, mengajarkan generasi muda untuk senantiasa berjuang demi kebenaran dan kemerdekaan. Sebagai tokoh pejuang, beliau adalah simbol keteguhan hati yang pantang menyerah dalam melawan penjajahan.

03 Desember 2025

Ruh Orang tua Menunggu Kiriman Doa Anak Shaleh

Ruh Orang Tua Menunggu Kiriman Doa Anak
Setiap anak utang budi sangat besar pada orang tuanya. Ibu merupakan makhluk Allah yang diciptakan untuk bisa mengandung, melahirkan, dan menumbuhkembangkan anaknya masing-masing. Cinta ibu melebihi kecintaannya kepada pribadinya sendiri. Bagi ibu, ibarat tidak makan tidak masalah yang penting anaknya bisa makan karena saking cintanya seorang ibu kepada anak. Setelah ibu, ada orang lain yang juga mempunyai kasih sayang besar kepada seorang anak, yaitu sosok ayah walaupun levelnya masih di bawah ibu. Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari kakeknya Bahz, ia memerintahkan untuk menghormati ibu sebanyak tiga kali lipat dibanding ayah. Hadits ini tidak berarti ayah tidak terhormat. Hormat kepada ayah tetap wajib, sedangkan kewajiban hormat kepada ibu tiga kali lipat daripada hormat kepada ayah, baru kemudian kerabat paling dekat, dekat, dan mulai yang lebih jauh.
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا بَهْزٌ، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ جَدِّي، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللّٰهِ، مَنْ أَبَرُّ؟ قَالَ: " أُمَّكَ "، قَالَ: قُلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: " أُمَّكَ "، قَالَ: قُلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: " أُمَّكَ، ثُمَّ أَبَاكَ، ثُمَّ الْأَقْرَبَ فَالْأَقْرَبَ

Artinya: “Saya tanya kepada Rasulullah ﷺ, ‘Ya Rasul, siapa yang paling berhak saya sikapi dengan sebaik mungkin?’ Jawab Rasul, ‘Ibumu’, ‘Lalu siapa lagi, Ya Rasul?’ ‘Ibumu’, ‘Siapa lagi, Ya Rasul?’ ‘Ibumu’. 'Lalu siapa lagi?' ‘Baru kemudian bapakmu, keluarga terdekat, dekat, dan seterusnya”.(Musnad Ahmad: 20048)


Dalam hadits lain, ada seorang sahabat yang sudah bersusah payah sepenuh tenaga mencurahkan keringatnya untuk membahagiakan ibunya. Saat lelaki itu melaporkan kebaikannya kepada Baginda Nabi, Rasulullah menyatakan bahwa hal tersebut tidak bisa membalas secara seimbang dengan jerih payah yang dilakukan ibu walau satu tarikan napas panjangnya. Sebab, lazimnya seorang ibu melayani anak dengan harapan akan panjang umurnya, tapi seorang anak merawat ibu dengan harapan pendek umurnya supaya tidak merepotkan.

ﺍَﻥَّ ﺭَﺟُﻼً ﺍَﺗَﻰ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺹ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺍِﻥَّ ﻟِﻰْ ﺍُﻣًّﺎ، ﺍَﻧَﺎ ﻣَﻄِﻴَّﺘُﻬَﺎ ﺍُﻗْﻌِﺪُﻫَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻇَﻬْﺮِﻯ ﻭَ ﻻَ ﺍَﺻْﺮِﻑُ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﻭَﺟْﻬِﻰ ﻭَ ﺍَﺭُﺩُّ ﺍِﻟَﻴْﻬَﺎ ﻛَﺴْﺒِﻰ، ﻓَﻬَﻞْ ﺟَﺰَﻳْﺘُﻬَﺎ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻻَ، ﻭَ ﻻَ ﺑِﺰَﻓْﺮَﺓٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ . ﻗَﺎﻝَ : ﻭَ ﻟِﻢَ؟ ﻗَﺎﻝَ : ِﻻَﻧَّﻬَﺎ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺗَﺨْﺪُﻣُﻚَ ﻭَ ﻫِﻲَ ﺗُﺤِﺐُّ ﺣَﻴَﺎﺗَﻚَ . ﻭَ ﺍَﻧْﺖَ ﺗَﺨْﺪُﻣُﻬَﺎ ﺗُﺤِﺐُّ ﻣَﻮْﺗَﻬَﺎ

Artinya: “Sesungguhnya ada seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ, lalu bertanya ‘Sesungguhnya saya mempunyai seorang ibu, dia saya gendong di punggung saya. Saya tidak pernah bermuka masam kepadanya. Upah kerja saya kasihkan kepada dia. Apakah yang demikian itu saya telah membalas budinya?’ Rasulullah ﷺ menjawab ‘Belum, walau satu tarikan napas panjangnya’. Orang tersebut kemudian bertanya lagi ‘Mengapa demikian ya Rasulullah?’ Jawab Rasul, ‘Karena ibumu memelihara kamu dengan berharap agar kamu panjang umur, sedangkan kamu memeliharanya itu dengan berharap ia lekas mati”.(HR. Abul Hasan al-Mawardi)


Abu Umamah pernah bercerita dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Majah. Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah:

يَا رَسُولَ اللّٰهِ، مَا حَقُّ الْوَالِدَيْنِ عَلَى وَلَدِهِمَا؟ قَالَ: هُمَا جَنَّتُكَ وَنَارُكَ

Artinya: “Ya Rasulallah, apa hak yang semestinya diterima oleh kedua orang tua dan harus dipikul oleh anaknya?, jawab Rasul ‘Mereka adalah surga dan nerakamu”.(HR. Ibnu Majah: 3662)


Dalam hadits ini dijelaskan bahwa kedua orang tua adalah di antara faktor seorang anak bisa masuk surga atau neraka. Apabila anak patuh kepada orang tua, berarti bisa masuk surga. Jika anak tidak patuh, berarti neraka. Maksud kepatuhan di sini selama tidak sampai melanggar norma agama. Jika melanggar norma, tidak boleh diikuti petunjuknya karena aturannya adalah tidak ada ketaatan untuk maksiat kepada Tuhan.

Ruh Orang Tua Menunggu Kiriman Doa Anak

Masih banyak lagi hadits-hadits yang menjelaskan tentang hubungan orang tua terhadap anak maupun sebaliknya. Namun sehebat apa pun orang yang hidup di alam dunia ini, pastilah akan merasakan kematian. Ibu dan ayah masing-masing merupakan makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang sudah digariskan oleh Allah pasti akan mengalami kematian. Sebagai balas budi anak kepada kedua orang tua, bagaimana sikap anak kepada orang tua ketika mereka sudah meninggal dunia? Abu Usaid pernah menceritakan sebuah hadits berikut:

بَيْنَمَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللّٰهِ، هَلْ بَقِيَ عَلَيَّ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ بَعْدَ مَوْتِهِمَا أَبَرُّهُمَا بِهِ؟ قَالَ: " نَعَمْ خِصَالٌ أَرْبَعَةٌ: الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا، وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا، وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا رَحِمَ لَكَ إِلَّا مِنْ قِبَلِهِمَا، فَهُوَ الَّذِي بَقِيَ عَلَيْكَ مِنْ بِرِّهِمَا بَعْدَ مَوْتِهِمَا

Artinya: “Suatu ketika saya sedang duduk-duduk bersama Rasulullah ﷺ. Tiba-tiba ada seorang laki-laki dari sahabat Anshar sowan. Ia bertanya kepada Rasul, ‘Ya Rasul, apakah saya bisa berbaik budi kepada kedua orang tua saya yang sudah meninggal?’ Rasul lalu menjawab, ‘Iya, ada empat hal, yaitu (1) mendoakan mereka, (2) memohonkan ampunan untuk keduanya, (3) menunaikan janji mereka dan memuliakan teman mereka, dan (4) menjalin silaturahim dengan orang-orang yang tidak akan menjadi saudaramu kecuali melalui perantara ayah-ibumu. Itulah budi baik yang harus kamu lakukan setelah mereka meninggal”.(Musnad Ahmad: 16059)


Hadits di atas dapat dipahami bahwa memintakan ampun kepada orang yang sudah meninggal adalah bermanfaat sebab Rasulullah memerintahkan untuk mendoakan kedua orang tua yang meninggal. Rasul tidak pernah menyuruh kepada orang dengan kegiatan yang sia-sia (mulghah). Semua perkataan Nabi Muhammad adalah wahyu. Dia tidak pernah berbicara sesuai keinginan hawa nafsuya. Selain itu, istighfar atau memohonkan ampunan bagi orang tua yang meninggal juga diperintahkan.

Pelajaran yang bisa dipetik lagi dari hadits di atas dan hal ini banyak dilupakan oleh generasi saat ini adalah memuliakan teman-temannya orang tua dan menyambung persaudaraan baik dari jalur ayah maupun jalur ibu. Keduanya sangat penting supaya orang-orang di sekeliling mereka akan selalu terjaga hubungannya. Istilah lain dalam bahasa Jawa, supaya tidak kepaten obor (api silaturahim padam begitu saja).

Dengan demikian, berbakti kepada kedua orang tua tidak berhenti saat mereka masih hidup, namun sampai mereka meninggal pun, anak tetap harus berbakti kepada mereka dengan cara-cara yang dituntunkan oleh Rasulullah ﷺ.

Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari kehidupan baru di alam barzakh. Dalam ajaran Islam, ruh orang yang telah meninggal tetap hidup dalam dimensi yang berbeda. Mereka dapat merasakan kebahagiaan atau kesedihan sesuai dengan amal perbuatannya semasa hidup. Bagi orang tua yang telah wafat, ada satu hal yang sangat mereka nantikan dari dunia: doa dari anak-anaknya.

1. Kehidupan Setelah Kematian Menurut Al-Qur’an

Allah ﷻ menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa setelah kematian, manusia akan memasuki alam barzakh yaitu tempat menunggu sampai hari kebangkitan.

وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Dan di hadapan mereka ada barzakh (dinding pembatas) sampai hari mereka dibangkitkan.”(QS. Al-Mu’minun: 100)


Ayat ini menegaskan bahwa setelah meninggal, ruh seseorang berada di alam penantian. Di sana, mereka bisa mendapatkan nikmat kubur atau azab kubur, tergantung amal mereka di dunia.

2. Orang Tua yang Beriman Akan Mendapat Nikmat di Alam Kubur

Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila seorang hamba diletakkan di kuburnya, lalu ia menjawab pertanyaan malaikat dengan benar, maka dibukakanlah untuknya pintu surga. Ia pun mencium baunya dan merasa tenang.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Bagi orang tua yang beriman, kuburnya menjadi taman dari taman-taman surga. Ruh mereka mendapatkan ketenangan, terutama jika mereka memiliki anak-anak saleh yang senantiasa mendoakan.

3. Doa Anak: Hadiah Terindah untuk Orang Tua

Rasulullah ﷺ bersabda:“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa doa anak saleh tidak hanya sampai kepada orang tua, tetapi juga menjadi sebab kebahagiaan dan cahaya bagi mereka di alam kubur. Setiap kali seorang anak membaca Al-Fatihah, istighfar, atau sedekah atas nama orang tuanya pahala itu langsung dikirimkan kepada ruh mereka.

4. Ruh Orang Tua Menunggu Kiriman Doa dari Dunia

Dalam beberapa riwayat, disebutkan bahwa ruh orang yang telah wafat mengetahui amalan keluarganya di dunia. Para ulama menjelaskan bahwa ruh orang beriman merasa gembira ketika mendapatkan kiriman doa, dan bersedih ketika keluarganya lupa mendoakannya.

Imam As-Suyuthi dalam Syarh As-Sudur menulis:“Sesungguhnya mayit bergembira dengan kebaikan yang dilakukan oleh keluarganya, dan pahala amalan itu disampaikan kepada mereka.”

Oleh karena itu, doa anak sangat berarti bagi orang tua. Mereka menunggu kiriman doa seperti seseorang yang menunggu kabar gembira dari orang yang dicintai.

5. Cara Anak Mengirimkan Doa untuk Orang Tua

Berikut amalan sederhana yang bisa dilakukan agar orang tua mendapatkan ketenangan di alam kubur:
  • Membaca Al-Fatihah dan menghadiahkannya untuk ruh kedua orang tua, ➤ “Khushushon ilaa ruuhi abii wa ummii, Al-Faatihah…”
  • Membaca istighfar: ➤ “Allahummaghfir liwalidayya warhamhuma kamaa rabbayani shaghira”
Bersedekah atas nama orang tua
  • Sedekah apa pun, baik makanan, uang, atau bantuan kepada yang membutuhkan.
  • Menjaga amal saleh dan akhlak baik, karena itu menjadi kebanggaan ruh orang tua di alam kubur.

6. Tanda Orang Tua Bahagia di Alam Kubur Beberapa tanda ruh orang tua yang tenang dan bahagia di alam barzakh menurut penjelasan ulama:

  • Anak-anaknya rajin berdoa dan beramal saleh.
  • Ada ketenangan dalam keluarga setelah kepergian mereka.
  • Mimpi indah melihat orang tua tersenyum atau berpakaian putih.
  • Hati terasa damai setiap kali mendoakan mereka.
  • Tanda-tanda ini adalah pertanda baik bahwa doa anak diterima dan ruh orang tua mendapatkan ketenangan.

Kesimpulan

Setelah meninggal dunia, orang tua kita tidak hilang begitu saja. Mereka menunggu kiriman doa, bacaan Al-Fatihah, dan sedekah dari anak-anaknya. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Anak saleh yang mendoakan orang tuanya” adalah amal yang terus mengalirkan pahala dan menjadi sumber kebahagiaan di alam kubur.

Maka, jangan lewatkan hari tanpa mendoakan mereka. Sebab, doa seorang anak adalah cahaya yang menerangi kubur orang tua.

26 November 2025

Sejarah Para Walisongo Tanah Jawa

SEJARAH PARA WALISONGO
Sejarah Para Walisongo Tanah Jawa
Wali Songo adalah orang-orang yang menyebarkan agama Islam di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat.
Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.
Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.
Era wali songo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat wali songo lebih banyak disebut dibanding yang lain.
Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai "tabib" bagi Kerajaan Hindu Majapahit, Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai "paus dari Timur" hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa yakni nuansa Hindu dan Budha. Mungkin selama ini banyak yang mengartikan bahwa wali songo itu jumlahnya sembilan orang, namun bila kita telaah lebih jauh ternyata wali songo ini terdiri dari beberapa orang dan melewati beberapa fase perkembangan.


FASE-FASE KEMUNCULAN WALISONGO

1. Fase Pertama Wali Songo
Islam telah menjadi agama di Nusantara khususnya pulau jawa, tetapi pada masa itu masih terbatas pada keluarga pedagang yang menikah dengan warga pribumi yang bermukim disekitar pelabuhan. Kerajan Majapahit dan Pajajaran masih berdiri kuat, masyarakat pun masih banyak yang beragama Hindu. Keterangan tentang situasi tersebut sampai kepada Sultan Muhammad I, penguasa Turki. Kemudian beliau mengirim surat kepada para pembesar di pembesar Islam di Afrika Utara dan Timur Tengah. Isinya meminta para ulama yang mempunyai karomah untuk dikirim ke pulau Jawa. Maka terkumpullah sembilan ulama berilmu tinggi serta memiliki karomah. Surat tersebut mendapat respon yang baik.
Pada tahun 808 Hijrah atau 1404 Masehi para ulama itu berangkat ke Pulau Jawa. Mereka adalah:
1.Syekh Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki ahli mengatur negara. Berdakwah di Jawa bagian timur. Wafat di Gresik pada tahun 1419 M. Makamnya terletak satu kilometer dari sebelah utara pabrik Semen Gresik.
2.Syekh Maulana Ishak berasal dari Samarqand (dekat Bukhara-Rusia Selatan). Beliau ahli pengobatan. Setelah tugasnya di Jawa selesai Maulana Ishak pindah ke Pasai dan wafat di sana.
3.   Syekh Maulana Ahmad Jumadil Kubra, berasal dari Mesir. Beliau berdakwah keliling. Makamnya di Troloyo Trowulan, Mojokerto Jawa Timur.
4.Syekh Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maghrib (Maroko), beliau berdakwah keliling. Wafat tahun 1465 M. Makamnya di Jatinom Klaten, Jawa Tengah.
5.Syekh Maulana Malik Isroil berasal dari Turki, ahli mengatur negara. Wafat tahun 1435 M. Makamnya di Gunung Santri.
6.   Syekh Maulana Muhammad Ali Akbar, berasal dari Persia (Iran). Ahli pengobatan. Wafat 1435 M. Makamnya di Gunung Santri.
7.Syekh Maulana Hasanuddin berasal dari Palestina. Berdakwah keliling. Wafat pada tahun 1462 M. Makamnya disamping masjid Banten Lama.
8.   Syekh Maulana Aliyuddin berasal dari Palestina. Berdakwah keliling. Wafat pada tahun 1462 M. Makamnya disamping masjid Banten Lama.
9.   Syekh Subakir, berasal dari Persia, ahli menumbali (metode rukyah) tanah angker yang dihuni jin-jin jahat tukang menyesatkan manusia. Setelah para Jin tadi menyingkir dan lalu tanah yang telah netral dijadikan pesantren. Setelah banyak tempat yang ditumbali (dengan Rajah Asma Suci) maka Syekh Subakir kembali ke Persia pada tahun 1462 M dan wafat di sana. Salah seorang pengikut atau sahabat Syekh Subakir tersebut ada di sebelah utara Pemandian Blitar, Jawa Timur. Terdapat peninggalan Syekh Subakir berupa sajadah yang terbuat dari batu kuno disana.

2. Fase Kedua Wali Songo
Pada periode kedua ini masuklah tiga orang wali menggantikan tiga wali yang wafat. Ketiganya adalah:
1.   Raden Ahmad Ali Rahmatullah, datang ke Jawa pada tahun 1421 M menggantikan Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419 M. Raden Ahmad berasal dari Cempa, Muangthai Selatan (Thailand Selatan).
2.   Sayyid Ja’far Shodiq berasal dari Palestina, datang di Jawa tahun 1436 menggantikan Malik Isro’il yang wafat pada tahun 1435 M. Beliau tinggal di Kudus sehingga dikenal dengan Sunan Kudus.
3.Syekh Syarif Hidayatullah, berasal dari Palestina. Datang di Jawa pada tahun 1436 M. Menggantikan Syekh Maulana Ali Akbar yang wafat tahun 1435 M. Sidang walisongo yang kedua ini diadakan di Ampel Surabaya.
Para wali kemudian membagi tugas. Sunan Ampel, Syekh Maulana Ishaq dan Syekh Maulana Jumadil Kubro bertugas di Jawa Timur. Sunan Kudus, Syekh Subakir dan Syekh Maulana Al-Maghrobi bertugas di Jawa Tengah. Syekh Syarif Hidayatullah, Syekh Maulana Hasanuddin dan Syekh Maulana Aliyuddin di Jawa Barat. Dengan adanya pembagian tugas ini maka masing-masing wali telah mempunyai wilayah dakwah sendiri-sendiri, mereka bertugas sesuai keahlian masing-masing.


3. Fase Ketiga Wali Songo
Pada tahun 1463 M. Masuklah empat wali menjadi anggota Walisongo yaitu:
1.Raden Paku atau Syekh Maulana Ainul Yaqin kelahiran Blambangan Jawa Timur. Putra dari Syekh Maulana Ishak dengan putri Kerajaan Blambangan bernama Dewi Sekardadu atau Dewi Kasiyan. Raden Paku ini menggantikan kedudukan ayahnya yang telah pindah ke negeri Pasai. Karena Raden Paku tinggal di Giri maka beliau lebih terkenal dengan sebutan Sunan Giri. Makamnya terletak di Gresik Jawa Timur.
2.Raden Said, atau Sunan Kalijaga, kelahiran Tuban Jawa Timur. Beliau adalah putra Adipati Wilatikta yang berkedudukan di Tuban. Sunan Kalijaga menggantikan Syekh Subakir yang kembali ke Persia.
3.Raden Makdum Ibrahim, atau Sunan Bonang, lahir di Ampel Surabaya. Beliau adalah putra Sunan Ampel, Sunan Bonang menggantikan kedudukan Maulana Hasanuddin yang wafat pada tahun 1462. Sidang Walisongo yang ketiga ini juga berlangsung di Ampel Surabaya.

4. Fase Keempat Wali Songo
Pada tahun 1466 diangkat dua wali menggantikan dua yang telah wafat, yakni:
1.Raden atau Raden Fattah (Raden Patah)
Raden Patah merupakan murid dari Sunan Ampel, beliau putra Raja Brawijaya Majapahit. Pada tahun 1462 M, beliau diangkat sebaga Adipati Bintoro dan membangun Masjid Demak pada tahun 1465 M. pada tahun 1468 dinobatkan sebagai Sultan Demak.
2.Fathullah Khan, putra Sunan Gunung jati, beliau dipilih sebagai anggota Walisongo menggantikan ayahnya yang telah berusia lanjut.

5. Fase Kelima Wali Songo
Dalam fase ini, masuklah Sunan Muria atau Raden Umar Said, putra Sunan Kalijaga menggantikan wali yang telah wafat. Konon Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang itu adalah salah satu anggota Walisongo, namun karena Syekh Siti Jenar di kemudian hari mengajarkan ajaran yang menimbulkan keresahan umat dan mengabaikan syariat agama maka Syekh Siti Jenar dihukum mati. Selanjutnya kedudukan Syekh Siti Jenar digantikan oleh Sunan Bayat – bekas Adipati Semarang (Ki Pandanarang) yang telah menjadi murid Sunan Kalijaga.

 
PARA WALISONGO
A. SYEKH MAULANA MALIK IBRAHIM ( SUNAN GRESIK )
sunan gresik

Syekh Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi. Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal.  Ia bersaudara dengan Syekh Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Syekh Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad SAW.  Syekh Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379.  Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392M Syekh Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.
Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik. Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.  Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah (kasta yang disisihkan dalam Hindu). Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.

B. RADEN AHMAD ALI RAHMATULLAH ( SUNAN AMPEL )
sunan ampel
Ia putera tertua Syekh Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, di identikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang). Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya.  Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat.
Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu.  Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Fatah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M. Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura. Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dialah yang mengenalkan istilah "Mo Limo" (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk "tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina." Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.

C. RADEN PAKU/ SYEKH MAULANA AINUL YAQIN ( SUNAN GIRI )
sunan giri
 Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya, seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma) Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai. Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai.
            Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah "giri". Maka ia dijuluki Sunan Giri. Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton.
Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata. Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa. Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18. Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau. Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.

D. RADEN MAKDUM IBRAHIM ( SUNAN BONANG )
sunan bonang
Sunan Bonang adalah anak dari Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Syekh Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban. Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha. Ia kemudian menetap di Bonang (desa kecil di Lasem, Jawa Tengah) sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan / zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit. Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban. Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang. Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat 'cinta'('isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi.
Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga. Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah "Suluk Wijil" yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri. Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang "Tombo Ati" adalah salah satu karya Sunan Bonang. Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa ditafsirkan Sunan Bonang sebagai peperangan antara nafi (peniadaan) dan 'isbah (peneguhan).

E. RADEN QOSIM ( SUNAN DRAJAT )
sunan drajad
Nama kecilnya Raden Qosim.  Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang.  Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M. Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun Jelog (pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang). Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan. Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk. Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah "berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang'. Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.

F. SYEKH SYARIF HIDAYATULLAH ( SUNAN GUNUNG JATI )
sunan gunung jati
Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra' Mi'raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaiman. Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang,  putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina. Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir.  Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.
Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya "wali songo" yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir  Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan. Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah bersama putranya, Syekh Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten. Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah.  Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.

G. RADEN UMAR SA’ID ( SUNAN MURIA )
sunan muria
Ia putra Dewi Saroh, adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus. Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam.
Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya. Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530). Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu.
Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.

 H. RADEN JA’FAR SHODIQ ( SUNAN KUDUS )
sunan kudus
             Nama kecilnya Jafar Shodiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka.  Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa.
            Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang. Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh menunjuknya. Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha.
            Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus. Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti "sapi betina". Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi. Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya. Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.

I.  RADEN SYAHID ( SUNAN KALIJAGA )
sunan kalijaga
Dialah wali yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam. Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya. Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam ('kungkum') di sungai (kali) atau "jaga kali".  Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab "qadli dzaqa" yang menunjuk statusnya sebagai "penghulu suci" kesultanan. Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak.
            Tiang "tatal" (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga. Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung "sufistik berbasis salaf" -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah. Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi.
            Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja.
            Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga. Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga.  Di antaranya adalah Adipati Pandanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kota gede - Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu selatan Demak.
silsilah para walisongo