Keindahan dan keberagaman Indonesia dari budaya yang semarak dan tradisi yang kaya hingga tujuan wisata yang menakjubkan di seluruh kepulauan di indonesia tercinta
Lagu-lagu pramuka yang ber-irama cerdas dan riang selalu setia menemani anggota pramuka, baik pada saat latihan rutin maupun berkemah, mengajak generasi bangsa untuk selalu memiliki jiwa dan keyakinan yang mantap dalam mengisi pembangunan nasional.
Lagu anak Indonesia walaupun lirik lagunya singkat tapi isinya syarat dengan pesan orang tua terhadap anaknya. Bagi ada yang mempunyai anak kecil, sangat baik jika menguasai lagu-lagu khusus untuk anak-anak karena disamping liriknya mudah diingat juga lagu lagu tersebut mengandung pesan moral yang baik bagi anak kita tercinta.
Nusantara Indonesia yang bergitu luas terdiri dari beragam macam etnis dan suku budaya yang masing-masing memiliki kebudayaan yang berbeda satu sama lainnya. Salah satu budaya daerah yang selalu menjadi kebanggaan daerah masing-masing bahkan menjadi kebanggaan nasional adalah berupa Lagu Daerah.
Lagu atau musik perjuangan ialah lagu yang membangkitkan semangat persatuan untuk melawan penjajah. Mengingat, mengenang, memperkenalkan kepada generasi muda bangsa indonesia bagaimana semangat dan perjuangan pahlawan-pahlawan yang telah berjasa membela negara di masa lampau.
Indonesia kaya akan Keindahan alamnya, masing-masing punya pesona dan keistimewaan khas tersendiri yang tak akan dapat ditemukan di belahan bumi manapun. Tidak hanya itu, tempat wisata buatan pun juga ikut meramaikan bursa tempat wisata pilihan di indonesia. Dengan mengetahuinya kita akan tertarik, namun dengan menyaksikannya langsung akan membuat decak kagum terpesona.
Indonesia sebagai bangsa yang besar dan memiliki keanekaragaman suku dan budaya memiliki jutaan warisan karya kebudayaan yang perlu dijaga dan dilestarikan oleh seluruh anak bangsa, seringnya budaya milik indonesia yang diklaim sebagai budaya asli negara lain.
Keadaan Orang Tua Setelah Meninggal Dunia dan Menunggu Kiriman Doa dari Anaknya (Menurut Al-Qur’an dan Hadits)
Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari kehidupan baru di alam barzakh. Dalam ajaran Islam, ruh orang yang telah meninggal tetap hidup dalam dimensi yang berbeda. Mereka dapat merasakan kebahagiaan atau kesedihan sesuai dengan amal perbuatannya semasa hidup. Bagi orang tua yang telah wafat, ada satu hal yang sangat mereka nantikan dari dunia: doa dari anak-anaknya.
1. Kehidupan Setelah Kematian Menurut Al-Qur’an
Allah ﷻ menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa setelah kematian, manusia akan memasuki alam barzakh yaitu tempat menunggu sampai hari kebangkitan.
“Dan di hadapan mereka ada barzakh (dinding pembatas) sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100)
Ayat ini menegaskan bahwa setelah meninggal, ruh seseorang berada di alam penantian. Di sana, mereka bisa mendapatkan nikmat kubur atau azab kubur, tergantung amal mereka di dunia.
2. Orang Tua yang Beriman Akan Mendapat Nikmat di Alam Kubur
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila seorang hamba diletakkan di kuburnya, lalu ia menjawab pertanyaan malaikat dengan benar, maka dibukakanlah untuknya pintu surga. Ia pun mencium baunya dan merasa tenang.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Bagi orang tua yang beriman, kuburnya menjadi taman dari taman-taman surga. Ruh mereka mendapatkan ketenangan, terutama jika mereka memiliki anak-anak saleh yang senantiasa mendoakan.
3. Doa Anak: Hadiah Terindah untuk Orang Tua
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa doa anak saleh tidak hanya sampai kepada orang tua, tetapi juga menjadi sebab kebahagiaan dan cahaya bagi mereka di alam kubur. Setiap kali seorang anak membaca Al-Fatihah, istighfar, atau sedekah atas nama orang tuanya pahala itu langsung dikirimkan kepada ruh mereka.
4. Ruh Orang Tua Menunggu Kiriman Doa dari Dunia
Dalam beberapa riwayat, disebutkan bahwa ruh orang yang telah wafat mengetahui amalan keluarganya di dunia. Para ulama menjelaskan bahwa ruh orang beriman merasa gembira ketika mendapatkan kiriman doa, dan bersedih ketika keluarganya lupa mendoakannya.
Imam As-Suyuthi dalam Syarh As-Sudur menulis:
“Sesungguhnya mayit bergembira dengan kebaikan yang dilakukan oleh keluarganya, dan pahala amalan itu disampaikan kepada mereka.”
Oleh karena itu, doa anak sangat berarti bagi orang tua. Mereka menunggu kiriman doa seperti seseorang yang menunggu kabar gembira dari orang yang dicintai.
5. Cara Anak Mengirimkan Doa untuk Orang Tua
Berikut amalan sederhana yang bisa dilakukan agar orang tua mendapatkan ketenangan di alam kubur:
Membaca Al-Fatihah dan menghadiahkannya untuk ruh kedua orang tua.
➤ “Ilā ruhi abī wa ummī, Al-Fātiḥah…”
Membaca istighfar:
➤ “Allahummaghfir liwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira”
Bersedekah atas nama orang tua
Sedekah apa pun, baik makanan, uang, atau bantuan kepada yang membutuhkan.
Menjaga amal saleh dan akhlak baik, karena itu menjadi kebanggaan ruh orang tua di alam kubur.
6. Tanda Orang Tua Bahagia di Alam Kubur
Beberapa tanda ruh orang tua yang tenang dan bahagia di alam barzakh menurut penjelasan ulama:
Anak-anaknya rajin berdoa dan beramal saleh.
Ada ketenangan dalam keluarga setelah kepergian mereka.
Mimpi indah melihat orang tua tersenyum atau berpakaian putih.
Hati terasa damai setiap kali mendoakan mereka.
Tanda-tanda ini adalah pertanda baik bahwa doa anak diterima dan ruh orang tua mendapatkan ketenangan.
Kesimpulan
Setelah meninggal dunia, orang tua kita tidak hilang begitu saja. Mereka menunggu kiriman doa, bacaan Al-Fatihah, dan sedekah dari anak-anaknya. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Anak saleh yang mendoakan orang tuanya” adalah amal yang terus mengalirkan pahala dan menjadi sumber kebahagiaan di alam kubur.
Maka, jangan lewatkan hari tanpa mendoakan mereka. Sebab, doa seorang anak adalah cahaya yang menerangi kubur orang tua.
"Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata.".(QS. Al Baqarah [2]: 168)
Dalam kehidupan ini, anda harus mengetahui musuh nyata yang ada dalam diri anda. Musuh anda bukanlah teman yang dengki kepada anda, bukanlah saudara yang membenci anda, ataupun orang lain yang ingin mencelakakan dan menjatuhkan anda. Tetapi ketahuilah bahwa musuh anda sesungguhnya adalah setan yang akan selalu menyesatkan anda dari jalan kebenaran dan menginginkan anda untuk bersamanya di neraka kelak, selain itu musuh yang harus anda lawan adalah Hawa Nafsu yang ada pada diri anda.
Setan
Setan dan hawa nafsu adalah sesuatu yang saling berkaitan untuk menjerumuskan manusia kedalam kenistaan dan ikut bersama dengan mereka di neraka kelak selama-lamanya. Setan tidak akan pernah bosan dan menyerah untuk menggoda anak cucu nabi Adam sesuai dengan permintaannya kepada Allah SWT ketika diusir dari surga yang bunyinya:
"Ia (Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian, pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur".(QS. Al-A’raf [7]: 16-17).
Maksud dari ayat di atas adalah Allah menjadikan iblis/setan sebagai orang yang tersesat karena telah membantah perintah Allah untuk hormat kepada nabi Adam AS dan takabbur, menganggap dirinya lebih mulya dari nabi Adam. Setelah itu Allah mengusir iblis dari surga dan iblis pun mengatakan bahwa ia akan selalu mengganggu anak cucu nabi Adam untuk ingkar kepada Allah dan menjadi teman mereka selamanya di dalam neraka. Iblis akan melakukan hal apapun untuk dapat menyesatkan manusia, ia akan mengepung manusia lewat depan, belakang, samping kanan, samping kiri sampai manusia tersebut ikut dengan mereka sehingga mereka tidak selamat dan binasa sebagaimana Iblis.
Bagaimana Mungkin Allah Subhanahu Wa ta’ala Menjadikan Iblis Tersesat.? Padahal Allah Tidak Memiliki Sifat Kekurangan!
Maka jawabannya adalah bahwa kehendak (Iradah) Allah Subhanahu Wata’ala ada dua, yaitu : Iradah kauniyah dan Iradah Syar’iyah. Iradah Kauniyah adalah kehendak yang di inginkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk terjadi di alam semesta, namun tidak mesti hal tersebut disukai Allah, sedangkan Iradah Syar’iyah adalah keinginan yang Allah sukai, namun hal itu tidak mesti terjadi. Semua ini terjadi karena hikmah dan keadilan Allah Subhanahu Wata’ala. Allah-lah yang maha mengetahui segala hikmahnya dan Allah maha adil dengan seluruh yang Dia lakukan. ini merupakan sifat Allah yang maha sempurna.
Oleh karena itu, Imam al-Qurthubi rahimahullah menegaskan hal ini di dalam tafsirnya. Beliau rahimahullah berkata: “Madzhab Ahlussunnah menyatakan bahwa Allah Azza wa Jalla yang telah menjadikannya tersesat dan menciptakan kekufuran pada dirinya." Oleh karena itu, dalam ayat ini perbuatan yang menjadikan iblis sesat disandarkan kepada Allah Azza wa Jalla. Dan inilah yang benar. Tidak ada sesuatu apapun yang ada kecuali dia adalah ciptaan Allah Azza wa Jalla yang berasal dari kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala . Aliran al-Imamiyah, al-Qadariyah dan aliran yang lain telah menyelesihi syaikh (guru mereka), yaitu iblis, yang mana mereka mentaati iblis pada segala sesuatu yang dihiasi oleh iblis untuk mereka, tetapi tidak mentaatinya di dalam permasalahan ini. Mereka berkata, “Iblis telah berbuat kesalahan. Dan dia memang sering salah, karena dia telah menyandarkan kesesatan kepada Rabb-nya. Maha suci Allah dari hal tersebut.” Maka kita katakan kepada mereka (para pengikut aliran-aliran sesat tersebut), ‘Jika iblis (memang demikian), dia benar-benar sering berbuat kesalahan, lalu bagaimana pendapat kalian tentang perkataan Nabi yang mulia lagi ma’shûm (terjaga dari kesalahan), yaitu Nabi Nuh Alaihissallam. Beliau telah berkata kepada kaumnya:
"Nasihatku tidak akan bermanfaat bagimu sekalipun aku ingin menasihatimu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu. Dia adalah Tuhanmu dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan" (QS. Hud [11]: 34)
Siapakah yang Bisa Selamat dari Iblis/Setan.?
Allah SWT. Berfirman dalam Surat Ash-Shaad Ayat 82-85 yang artinya:
"(Iblis) berkata, “Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali, hamba-hamba-Mu yang terpilih (karena keikhlasannya) di antara mereka. (Allah) berfirman, “Maka, yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Aku katakan. Aku pasti akan memenuhi (neraka) Jahanam denganmu dan orang yang mengikutimu di antara mereka semuanya.”(QS. Ash-Shaad [38]: 82–85)
Orang yang bisa selamat dari setan adalah mereka yang benar-benar percaya kepada Allah dan tidak menyembah selain Allah, orang-orang yang terjaga prilaku dan keimanannya. Harus kita ketahui bahwa iblis akan selalu menggoda manusia hingga mereka ikut dengannya, tetapi orang-orang yang tetap taat kepada Allah dan selalu mendekatkan diri kepada-Nya lah yang akan selamat dari godaan setan/iblis dan ia akan masuk ke dalam surga-Nya bersama orang-orang yang taat, tetapi orang-orang yang menyekutukan Allah dan menyembah setan maka ia akan selama-selamanya di neraka Jahannam bersama setan yang mereka puja/sembah.
Hawa Nafsu
Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan: “Hawa nafsu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang selaras dengan keinginannya” (Asbabut Takhallaush minal hawa, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, hal.3).
Hawa nafsu dinamakan juga Al-Hawa karena bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kenistaan atau ke dalam neraka. Orang yang menuruti kemauan hawa nafsu, hakikatnya untuk mencari kenikmatan semu dan kepuasan sesaat yang ada di dunia, tanpa berpikir panjang akibat yang akan mereka tanggung. Hawa nafsu akan timbul ketika kita menginginkan sesuatu dan hal tersebut harus tercapai dengan cara apapun meskipun bertentangan dengan agama. Contohnya memuaskan hasrat dengan bercinta, ingin makan dan minum, ingin marah kepada seseorang, dan masih banyak lagi contoh tentang hawa nafsu.
Apakah Hawa Nafsu Merupakan Hal Tercela.?
Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya tersebut bahwa hawa nafsu diciptakan ada pada diri manusia guna menjaga kelangsungan hidupnya. Sebab, kalaulah tidak ada nafsu makan, minum dan nikah, tentulah manusia akan mati dan punah, karena tidak makan, minum dan menikah. Hawa nafsu mendorong manusia meraih perkara yang diinginkannya, sedangkan marah mencegahnya dari perkara yang mengganggunya dalam kehidupannya. Maka tidak selayaknya hawa nafsu dicela atau dipuji secara mutlak tanpa pengecualian. Sebagaimana marah tidak boleh dicela atau dipuji secara mutlak pula.
Allah mencela ittiba’ul hawa (mengikuti hawa nafsu) di beberapa ayat yang banyak dalam Al-Qur'an, diantaranya adalah firman-Nya dalam Surat Al-Jatsiyah dan Al-Qashash.
"Tahukah kamu (Nabi Muhammad), orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan dibiarkan sesat oleh Allah dengan pengetahuan-Nya, Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya, siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Apakah kamu (wahai manusia) tidak mengambil pelajaran?" (QS. Al-Jaatsiyah [45]: 23)
"Jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginannya tanpa mendapat petunjuk dari Allah? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim." (QS. Al-Qashash [28]: 23)
Sesuai keterangan diatas maka pada asalnya hawa nafsu itu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang disukainya, lalu jika condongnya kepada sesuatu yang sesuai dengan syari’at, maka terpuji, namun sebaliknya, jika kecondongannya kepada sesuatu yang bertentangan dengan syari’at, maka tercela. Sedangkan jika disebutkan hawa nafsu secara mutlaq tanpa terikat dalam kondisi tertentu atau disebutkan tentang celaan terhadap hawa nafsu, maka yang dimaksudkan dalam konteks itu adalah hawa nafsu yang tercela.
Jadi, Ia lawan atau kawan? Dalam menjalani kehidupan, hawa nafsu yang terpuji ibarat teman perjalanan bagi Anda, sedangkan hawa nafsu yang tercela adalah musuh Anda.
Hawa Nafsu Meliputi Dua Hal: Syubhat dan Syahwat
Mengikuti hawa nafsu yang tercela, bisa dalam masalah beragama (penyakit syubhat) atau dalam masalah syahwat dunia (penyakit syahwat), atau dalam kedua penyakit tersebut sekaligus. Ulama merinci sebagai berikut:
Jika terkait dengan hawa nafsu jenis syubhat, maka bisa sampai menjerumuskan seseorang ke dalam status ahli bid’ah dan dinamakan ahlul ahwa`. Dan kebiasaan salaf menamai ahli bid’ah dengan nama ahlul ahwa`.
Adapun hawa nafsu jenis syahwat, maka terbagi dua, yaitu dalam perkara yang mubah, seperti makan, minum, dan pakaian dan bisa juga dalam perkara yang diharamkan, seperti zina, khamr, dan pelakunya dinamakan dengan fajir, fasiq, atau pelaku maksiat.
Dari beberapa pemaparan di atas, maka selayaknya kita dapat menyimpulkan bahwa:
Iblis telah bersumpah untuk menyesatkan manusia sampai hari kiamat nanti.
Iblis akan menyesatkan dan menghalangi manusia agar tidak menempuh seluruh jalan kebenaran dan keselamatan. Iblis akan menjadikan kebatilan indah dalam pandangan manusia sehingga mereka terjerumus ke dalamnya.
Akan banyak orang yang mengikuti penyesatan iblis dan kita dianjurkan untuk meminta perlindungan dan penjagaan kepada Allah Azza wa Jalla dari Iblis dan pasukannya.
Jika terkait dengan hawa nafsu jenis syubhat, maka bisa sampai menjerumuskan seseorang ke dalam status ahli bid’ah.
Jika terkait hawa nafsu jenis syahwat, maka terbagi dua, yaitu dalam perkara yang mubah, seperti makan, minum, dan pakaian dan bisa juga dalam perkara yang diharamkan, seperti zina, khamr, dan pelakunya dinamakan dengan fajir, fasiq, atau pelaku maksiat.
Dikutip dari buku Sejarah Lokal di Indonesia karya Taufik Abdullah, sejarah Bekasi sendiri dimulai sejak zaman kerajaan, tepatnya Bekasi menjadi Ibukota Kerajaan Tarumanegara yang termasuk kerajaan terbesar di Jawa Barat pada masanya.
Sejarah Bekasi dari awal mula menjadi Ibukota Kerajaaan Tarumanegara tertulis dalam Prasasti Tugu yang merujuk pada sebuah sungai besar yang melewati kota Bekasi itu sendiri. Nama sungai tersebut adalah Candrabaga yang artinya sama dengan Bagasasi yang menjadi cikal bakal nama wilayah Bekasi.
Sejarah Bekasi
Zaman kerajaan runtuh karena kedatangan bangsa Eropa di tahun 1527, setelah itu Belanda menjadikan Bekasi sebagai distrik yang termasuk kabupaten Jatinegara. Setelah zaman kolonialisme Belanda digantikan dengan zaman penjajahan Jepang Kabupaten Jatinegara tersebut meliputi Cikarang, Kebayoran dan Matraman.
Setelah kemerdekaan Indonesia dideklarasikan, kabupaten Jatinegara selalu mengalami perubahan, mulai dari meliputi Tambun, Cikarang hingga Kedung Gede yang sekarang terkenal dengan daerah Bojong.
Di tahun 1948, Belanda mencoba untuk menguasai Indonesia kembali dan Bekasi dimasukan ke wilayah negara Pasundan yang berbatasan dengan Bulak Kapal.
Selanjutnya pada tahun 1961 nama Kabupaten Jatinegara diganti dengan Kabupaten Jakarta Timur dengan ibu kotanya di Cawang. Di tahun 1972 nama Kabupaten Jakarta Timur digantikan dengan kabupaten Bekasi dengan Cikarang sebagai ibukotanya dan yang sekarang menjadi wilayah kota Bekasi tumbuh dengan status kecamatan Bekasi.
Status Kecamatan Bekasi dinaikkan menjadi kota administratif pada tahun 1982 untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakatnya seiring perkembangan pesatnya dari segi perindustrian, penduduk hingga infrastruktur.
Dan pada akhirnya di tahun 1996 kota administratif Bekasi ditingkatkan menjadi kotamadya dengan nama Kota Bekasi hingga saat ini yang memiliki hari jadi setiap tanggal 10 Maret.
Ragam Fakta Bekasi
Berikut ini beberapa ragam fakta yang terangkum dari sejarah Bekasi dari zaman kerajaan hingga sekarang berkembang pesat sebagai kota yang mandiri:
Bekasi menjadi ibu kota Kerajaan Tarumanegara karena wilayahnya yang strategis di tanah Jawa Barat.
Bekasi terkenal dengan kota sebagai pemasok pejuang kemerdekaan yang menjadikan julukan kota Bekasi adalah Kota Patriot.
Bekasi menjadi wilayah yang paling sulit ditaklukan oleh Belanda.
Insiden Kali Bekasi menjadi salah satu peristiwa yang menunjukkan keberanian serta sikap patriotisme rakyat Bekasi.
Demikian penjelasan mengenai sejarah Bekasi beserta ragam fakta menariknya. (ARH)
Kota Depok bermula dari sebuah Kecamatan yang berada di lingkungan Kawedanan (Pembantu Bupati) wilayah Parung Kabupaten Bogor. Pada tahun 1976 perumahan mulai dibangun baik oleh Perum Perumnas maupun pengembang yang kemudian diikuti dengan dibangunnya kampus Universitas Indonesia (UI), serta meningkatnya perdagangan dan jasa yang semakin pesat sehingga diperlukan kecepatan pelayanan.
Perkembangan Depok yang begitu cepat menjadi perhatian bagi Pemerintah Orde Baru. Menteri Dalam Negeri kala itu, Amir Machmud, mulai mengkaji peningkatan status Kecamatan Depok menjadi Kota Administratif. Peningkatan status Kota Depok dilakukan agar pembangunan lebih tertata dan terarah sebagai kota masa depan, ketimbang dikelola sepenuhnya oleh Kota Bogor yang hanya sebagai kecamatan yang dipimpin oleh Camat.
Pembentukan Kota Administratif Depok dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri Amir Machmud sekaligus melantik Wali Kota Administratif yang pertama, yaitu Mochammad Rukasah Suradimadja oleh Gubernur Jawa Barat, Aang Kunaefi.
Di awal tahun 1999, Kota Administratif Depok dimekarkan dan seluruh desa berganti status menjadi Kelurahan. Hasil pemekaran wilayah tersebut terdiri dari 3 (tiga) Kecamatan dan 17 (tujuh belas) Desa, yaitu:
Kecamatan Pancoran Mas, terdiri dari 6 (enam) Desa, yaitu : Desa Depok, Desa Depok Jaya, Desa Pancoran Mas, Desa Mampang, Desa Rangkapan Jaya, dan Desa Rangkapan Jaya Baru.
Kecamatan Beji, terdiri dari 5 (lima) Desa, yaitu : Desa Beji, Desa Kemiri Muka, Desa Pondok Cina, Desa Tanah Baru, dan Desa Kukusan.
Kecamatan Sukmajaya, terdiri dari 6 (enam) Desa, yaitu : Desa Mekarjaya, Desa Sukmajaya, Desa Sukamaju, Desa Cisalak, Desa Kalibaru, dan Desa Kalimulya.
Selama kurun waktu 17 tahun Kota Administratif Depok berkembang pesat baik di bidang Pemerintahan, Pembangunan, dan Kemasyarakatan. Khususnya di bidang Pemerintahan Kota Depok berkembang menjadi 3 (tiga) wilayah Kecamatan yang terdiri dari 23 (dua puluh tiga) Kelurahan, yang terbagi atas:
Kecamatan Pancoran Mas, terdiri dari 6 (enam) Kelurahan, yaitu : Kelurahan Depok, Kelurahan Depok Jaya, Kelurahan Mampang, Kelurahan Pancoran Mas, Kelurahan Rangkapan Jaya, dan Kelurahan Rangkapan Jaya Baru.
Kecamatan Beji terdiri dari 6 (enam) Kelurahan, yaitu : Kelurahan Beji, Kelurahan Beji Timur, Kelurahan Pondok Cina, Kelurahan Kemiri Muka, Kelurahan Kukusan, dan Kelurahan Tanah Baru.
Kecamatan Sukmajaya, terdiri dari 11 (sebelas) Kelurahan, yaitu : Kelurahan Sukmajaya, Kelurahan Sukamaju, Kelurahan Mekar Jaya, Kelurahan Abadi Jaya, Kelurahan Bakti Jaya,
Kelurahan Cisalak, Kelurahan Kalibaru, Kelurahan Kalimulya, Kelurahan Cilodong, Kelurahan Jati Mulya, dan Kelurahan Tirta Jaya.
Terbentuknya Kota Depok
Pesatnya perkembangan dan tuntutan aspirasi masyarakat semakin mendesak agar Kota Administratif Depok dinaikkan statusnya menjadi Kotamadya dengan harapan pelayanannya menjadi lebih maksimal. Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Bogor bersama – sama Pemerintah Provinsi Jawa Barat memperhatikan perkembangan tersebut, dan mengusulkannya kepada Pemerintah Pusat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
Hingga akhirnya pada tanggal 20 April 1999, berdasarkan Undang-undang No.15 tahun 1999, Kota Depok diresmikan menjadi Kotamadya Daerah Tk. II Depok. Peresmian pembentukan Kotamadya Daerah Tk.II Depok dilakukan pada tanggal 27 April 1999 bersamaan dengan Pelantikan Pejabat Walikotamadya Kepala Daerah Tk. II Depok saat itu, Drs. H. Badrul Kamal, yang menjabat sebagai Walikota Kota Administratif Depok.
Momentum peresmian Kotamadya Daerah Tk. II Depok dan pelantikan pejabat Walikotamadya Kepala Daerah Tk. II Depok saat itu, dijadikan suatu landasan yang bersejarah dan tepat untuk dijadikan hari jadi Kota Depok.
Berdasarkan Undang-undang nomor 15 tahun 1999, Wilayah Kota Depok meliputi wilayah Administratif Kota Depok terdiri dari 3 (tiga) Kecamatan, ditambah sebagian wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor, yang meliputi:
Kecamatan Cimanggis, yang terdiri dari 1 (satu) Kelurahan dan 12 (dua belas) Desa , yaitu : Kelurahan Cilangkap, Desa Pasir Gunung Selatan, Desa Tugu, Desa Mekarsari, Desa Cisalak Pasar, Desa Curug, Desa Harjamukti, Desa Sukatani, Desa Sukamaju Baru, Desa Cijajar, Desa Cimpaeun, Desa Leuwinanggung.
Kecamatan Sawangan, yang terdiri dari 14 (empat belas) Desa, yaitu : Desa Sawangan, Desa Sawangan Baru, Desa Cinangka, Desa Kedaung, Desa Serua, Desa Pondok Petir, Desa Curug, Desa Bojong Sari, Desa Bojong Sari Baru, Desa Duren Seribu, Desa Duren Mekar, Desa Pengasinan Desa Bedahan, Desa Pasir Putih
Kecamatan Limo yang terdiri dari 8 (delapan) Desa, yaitu : Desa Limo, Desa Meruyung, Desa Cinere, Desa Gandul, Desa Pangkalan Jati, Desa Pangkalan Jati Baru, Desa Krukut, Desa Grogol.
Dan ditambah lagi 5 (lima) Desa dari Kecamatan Bojong Gede, yaitu : Desa Cipayung, Desa Cipayung Jaya, Desa Ratu Jaya, Desa Pondok Terong, Desa Pondok Jaya.
Kota Depok selain merupakan Pusat Pemerintahan yang berbatasan langsung dengan Wilayah Jakarta juga merupakan wilayah penyangga yang diarahkan untuk kota pemukiman , kota pendidikan, pusat pelayanan perdagangan dan jasa, kota pariwisata dan sebagai kota resapan air.
Asal Usul Nama Kota Depok
Nama Depok diketahui merupakan suatu singkatan dari " De Eereste Protestantse Organisatie van Kristenen" artinya jemaat/organisasi Kristen yang pertama. Akronim ini muncul pada tahun 1950-an di kalangan masyarakat Depok yang tinggal di Belanda.
Dalam versi lainnya disebutkan bahwa nama Depok merujuk sebagai tempat pertapaan. Ada istilah Padepokan, diambil dari Bahasa Sunda yang berarti pertapaan. Merujuk Depok sebagai tempat pertapaan, Depok ditafsirkan pula sebagai daerah pemukiman orang kota.
Jejak Sejarah Kota Depok
Dalam Jejak-Jejak Masa Lalu Depok : Warisan Cornelis Chastelein (1657-1714), Jan-Karel Kwisthout mengatakan, Depok merupakan eksperimen Chastelein yang ingin melanggengkan kekuasaan lewat pendekatan humanis dan agama.
Chastelein merupakan pedagang tajir keturunan Perancis-Belanda yang membangun tanah koloninya sendiri. Ia membeli lahan partikelir di selatan Batavia yaitu Srengseng (sekarang Lenteng Agung) dan Depok. Tanah di Srengseng kemudian dibangun menjadi rumah peristirahatan Chastelein, sementara tanah di Depok dijadikan lahan penghasil produk-produk pertanian. Saat itu, dengan status tanah partikelir, Depok bukanlah bagian dari kekuasaan Hindia-Belanda. Karena itu, Depok memiliki pemerintahan sendiri dan dikenal dengan nama Het Gemeente Bestuur van Het Particuliere Land Depok.
Untuk mengelola lahan di Depok yang luas dan subur, Chastelein mendatangkan sejumlah budak yang berasal dari Bali, Makassar, Malaka hingga Sri Lanka. Beberapa produk natura dihasilkan, di antaranya : indigo, coklat, sirsak, nangka dan belimbing. Produk pertanianpun terus dihasilkan, Kota Depok menjadi lahan pertanian yang subur dan makmur.
Menjelang mangkatnya, Chastelein mewariskan tanah Depok kepada para budaknya. Dalam surat wasiat bertanggal 13 Maret 1714, tanah warisan itu diamanatkan dalam bentuk kepemilikan bersama. Wasiat itu menerangkan pula, setelah Chastelein meninggal, 150 orang hambanya yang mengerjakan tanah pertanian di Depok akan dimerdekakan. Baik Kristen atau Muslim mereka memperoleh kebebasan.
Chastelein meninggal pada 28 Juni 1714 di Batavia akibat wadah epidemi. Sejak saat itu budak kuli pertanian yang mewarisi tanah Chastelein hidup sebagai orang merdeka. Mereka kemudian menjadi penduduk asli Depok yang lebih dikenal sebagai istilah orang Belanda Depok. Komunitas ini hidup secara turun temurun dengan sistem pemerintahan yang diwariskan Chastelein.
Ismail Marzuki adalah pencipta lagu-lagu perjuangan Indonesia. Beliau lahir pada 11 Mei 1914 di Kwitang, Jakarta Pusat. Lagu-lagu gubahannya berhasil membakar semangat para pejuang kemerdekaan untuk melawan penjajah waktu itu.
Atas karya-karyanya yang sangat berarti bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia, Ismail Marzuki ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 5 November 2004.
Sebenarnya, Ismail Marzuki bukanlah nama asli. Nama aslinya adalah Ismail bin Marzuki. Jadi, Marzuki merupakan nama ayahnya. Namun, orang-orang banyak yang memanggilnya Ismail Marzuki.
Ibu Ismail Marzuki, Solehah meninggal tidak lama setelah melahirkannya. Setelah kepergian ibunya, Ismail hanya tinggal bersama ayah dan kakaknya.
Bakat bermusik Ismail diwariskan melalui ayahnya yang merupakan seorang pemain rebana. Selain aktif menjadi pemain rebana, ayah Ismail juga memiliki bengkel. Bisa dibilang, keluarga Ismail berasal dari kalangan ekonomi yang cukup. Ayahnya senang mengoleksi benda-benda berbau musik seperti piringan hitam dan gramofon. Nah, dari sinilah kecintaan Ismail terhadap musik terus tumbuh sejak kecil.
Pendidikan Ismail Marzuki
Ismail Marzuki bersekolah di sekolah Kristen HIS Idenburg, Menteng. Teman-temannya yang merupakan orang Belanda sering kali memanggilnya dengan nama Benjamin atau Ben di sekolah ini.
Tidak lama setelah itu, ayah Ismail memutuskan untuk memindahkannya ke Madrasah Unwabul-Salah di Kwitang. Marzuki khawatir kalau anaknya nanti akan bersifat kebelanda-belandaan, guys.
Ketika kenaikan kelas, ia sering mendapatkan hadiah berupa alat musik dari ayahnya. Nggak heran dong ya, kenala Ismail Marzuki akhirnya dijuluki maestro!
Setelah lulus dari madrasah, Ismail Marzuki melanjutkan pendidikannya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau pendidikan setara SMA di zaman kolonial Belanda.
Grup musik pertamanya terbentuk saat ia bersekolah di MULO. Di grup tersebut, Ismail memainkan alat musik banjo dan kerap memainkan musik-musik jazz. Jadi, bisa dibilang kemampuan musiknya ia pelajari secara otodidak, bukan dari pendidikan formal.
Karier Musik Ismail Marzuki
Ismail Marzuki memulai karier bermusiknya sejak ia berusia 17 tahun, lho! Tapi sebelum itu, Ismail pernah bekerja sebagai kasir di Socony Service Station. Ia mengumpulkan gajinya untuk membeli sebuah biola.
Karena merasa kurang cocok bekerja sebagai kasir, Ismail Marzuki memutuskan untuk beralih pekerjaan menjadi penjual piringan hitam produksi Columbia dan Polydor dengan gaji yang tidak tetap.
Dari pekerjaannya sebagai penjual piringan hitam inilah akhirnya menjadi loncatan kariernya di bidang musik. Ismail mendapatkan banyak kenalan artis dari sini.
Lagu pertama yang ia ciptakan saat berusia 17 tahun berjudul “O Sarinah”. Lagu ini menggambarkan keadaan Indonesia yang tertindas. Banyak alat musik yang dikuasai Ismail. Ia pernah menjadi pemain gitar, saxophone, dan harmonium di orkes musik Lief Java sejak tahun 1936.
Pada Oktober 1944, lagu Ismail Marzuki Rayuan Pulau Kelapa dibuat untuk menggambarkan cinta kasihnya pada tanah air.
Ismail Marzuki Menggunakan Musik sebagai Alat Perjuangan
Pada tahun 1940, pecahnya Perang Dunia II berdampak ke kehidupan Hindia-Belanda. Radio Nederlandsch-Indische Radio-Omroep Maatschappij (NIROM) membatasi acara siaran musik mereka. Hal ini membuat masyarakat di Jakarta akhirnya membangun radio sendiri bernama Vereniging Oostersche Radio Omroep (VORO).
Setiap malam Minggu, VORO menyiarkan orkes Lief Java dan Ismail Marzuki mengisi acara lawak menggunakan nama samaran “Paman Lengser” ditemani oleh Memet alias “Botol Kosong”. Di tahun yang sama, Ismail Marzuki menikahi gadis pujaannya bernama Eulis Zuraidah.
Setelah Jepang masuk, hal ini mengubah arah bermusik Ismail Marzuki. Pada tahun 1942, Jepang membubarkan radio NIROM dan menggantinya dengan Hoso Kanri Kyoku. Ismail pernah tergabung dalam orkestra Radio Militer Jepang tersebut.
Di masa penjajahan Jepang ini, Ismail Marzuki mengubah haluan bermusiknya menjadi alat perjuangan. Berbeda saat masa penjajahan Belanda yang ia jadikan untuk mendapatkan popularitas.
Hal ini bisa dilihat dari lagu ciptaannya yang berjudul “Bisikan Tanah Air” dan “Indonesia Tanah Pusaka”. Lagu ini diperdengarkan secara luas melalui radio. Tidak lama setelah itu, kepala Seidenbu (Badan Propaganda) melaporkan Ismail Marzuki ke Kempetai. Ismail pun dipanggil oleh polisi Militer Jepang untuk diinterogasi.
Setelah itu, lahirlah lagu-lagu perjuangan lain seperti “Gagah Perwira” untuk membakar semangat kemerdekaan khusus untuk Peta (Pembela Tanah Air). Dalam melakukan perjuangan melalui musik ini, Ismail Marzuki tidak sendirian. Ia dibantu oleh komponis patriotis bernama Cornel Simanjuntak menghasilkan lagu “Maju Tak Gentar”. Selain itu juga menggubah lagu “Bagimu Negeri” bersama Kusbini.
Pada Oktober 1944, lagu Ismail Marzuki Rayuan Pulau Kelapa dibuat untuk menggambarkan cinta kasihnya pada tanah air.
Saat Indonesia telah merdeka, Ismail masih bersiaran di RRI. Pada tahun 1947, saat Belanda kembali menguasai RRI, Ismail memutuskan untuk hengkang dari RRI. Alasannya adalah ia tidak mau bekerja sama dengan Belanda, guys.
Ismail Marzuki mau kembali ke RRI kalau sudah berhasil diambil alih oleh Indonesia lagi. Di era ini, Ismail Marzuki memimpin Orkes Studio Jakarta. Di sinilah lagu “Pemilihan Umum” tercipta dan diperdengarkan pertama kali pada Pemilu 1955.
Oh iya, setelah masa Perang Dunia II, Ismail Marzuki masih terus menciptakan lagu, loh! Salah satunya adalah lagu nasional yang masih sering kita dengar sampai sekarang, yaitu “Halo-Halo Bandung”. Saat itu, Ismail bersama istrinya pindah ke Bandung akibat rumah mereka di Jakarta hancur oleh hantaman peluru mortir.
Ketika Ismail Marzuki tinggal di Bandung, ayahnya meninggal di Jakarta. Namun ia terlambat menerima berita sehingga ia baru bisa ke Jakarta beberapa hari setelah pemakaman. Lagu Ismail Marzuki Gugur Bunga pun tercipta untuk mengenang kepergian ayahnya.
Walaupun lagu-lagunya berbau perjuangan, namun Ismail Marzuki juga menciptakan lagu yang bergaya romantis, lho. Misalnya saja “Sepasang Mata Bola”, “Ke Medan Jaya”, “Melati di Tapal Batas Bekasi”, “Saputangan dari Bandung Selatan”, “Selamat Datang Pahlawan Muda”, dan “Selendang Sutra”. Lagu Ismail Marzuki Rayuan Pulau Kelapa digunakan sebagai lagu penutup siaran TVRI pada masa pemerintahan Orde Baru.
Lagu apa saja yang diciptakan oleh Ismail Marzuki? Lagu gubahan sang maestro ini tuh sebenarnya banyak banget, guys! Nah, berikut judul-judul lagu terkenal yang pernah diciptakan oleh Ismail Marzuki:
Aryati
Keroncong Sejati
Gugur Bunga
Melati di Tapal Batas
Bapak Kromo
Wanita
Rayuan Pulau Kelapa
Sepasang Mata Bola
Melancong ke Bali
Panon Hideung
Bandung Selatan di Waktu Malam
O Sarinah
Keroncong Serenata
Duduk Termenung
Als de Ovehedeen
Kasim Baba
Bandaneira
Pulau Saweba
Lenggang Bandung
Sampul Surat
Ibu Pertiwi
Hari Lebaran
Karangan Bunga dari Selatan
Selamat Datang Pahlawan Muda
Di Tepi Laut
Juwita Malam
Olee lee di Kutaraja
Di Ambang Sore
Halo-Halo Bandung
Rindu Malam
Sabda Alam
Roselani
Rindu Lukisan
Indonesia Pusaka
Gugurnya Sang Maestro
Ismail Marzuki meninggal akibat penyakit paru-paru. Suatu hari, ia mendapatkan hadiah saxophone dari temannya yang mengidap penyakit paru-paru. Setelah itu, Ismail mengeluhkan gangguan di pernapasannya. Dokter menjelaskan bahwa ia mengidap penyakit paru-paru.
Sang maestro akhirnya tutup usia pada 25 Mei 1958 dalam usia 44 tahun di Kampung Bali, Jakarta Pusat. Untuk menghormati jasanya, pemerintah membuka sebuah taman pusat kebudayaan dan kesenian di Cikini yang diberi nama Taman Ismail Marzuki. Di tahun 2004, Ismail Marzuki dianugerahi gelar pahlawan nasional.
Wah, menarik ya kisah perjuangan Ismail Marzuki melalui lagu-lagu gubahannya. Bahkan hingga saat ini, lagu-lagunya banyak loh yang diaransemen ulang oleh musisi-musisi hebat. Contohnya “Sabda Alam” yang dinyanyikan ulang oleh almarhum Chrisye dan “Juwita Malam” oleh grup band legendaris Slank.
Menelusuri sepak terjang si jagoan legendaris di kalangan masyarakat Betawi.
Cerita Rakyat Betawi: Legenda Si Pitung berasal dari provinsi DKI Jakarta. Legenda ini begitu terkenal dalam kebudayaan masyarakat Betawi, hingga sering dijadikan bahan pembicaraan oleh para sejarawan dan ahli budaya. Salah satu yang paling termasyhur adalah cerita yang dirangkum dalam buku Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit, dan Senjata Api dan esai bertitel In Search of Si Pitung: The History of an Indonesian Legend—dimuat jurnal Bijdragen tot de Taal, Land-en Volkenkunde, Vol. 152, 1996.
Kedua buku tersebut adalah buah karya seorang sejarawan asal Belanda, Margreet van Till. Ceritanya berkisar seputar sepak terjang Si Pitung yang diyakini merupakan seorang tokoh nyata, bukan mitos seperti yang dipercayai masyarakat luas. Selain itu, terdapat juga sebuah novel adaptasi karya Lukman Karmani yang berjudul Si Pitung: Tjerita Klasik Djaman Betawi (1969). Seiring berjalannya waktu, sang legenda merambah ke ranah pop kultur yang ditandai dengan kemunculan film bertajuk Si Pitung (1970) dan dibintangi Dicky Zulkarnain.
Ada banyak versi cerita Si Pitung yang beredar di masyarakat. Termasuk di antaranya adalah versi Indonesia, Belanda, dan Tionghoa, yang masing-masing memiliki pandangan berbeda tentang Si Pitung. Jika versi Indonesia menggambarkan Si Pitung sebagai seorang pahlawan pembela masyarakat Betawi, versi Belanda dan Tionghoa justru melihat Si Pitung sebagai buronan kompeni. Untuk menghindari kebingungan, Cerita Rakyat Betawi: Legenda Si Pitung kali ini akan mengambil versi Indonesia, demi menghormati legasinya di tengah masyarakat Betawi dan signifikansinya dalam budaya Indonesia hingga kini.
Cerita dari abad ke-19 ini mengisahkan napak tilas Ahmad Nitikusumah atau Si Pitung yang dikenal sebagai sosok “Robin Hood” Indonesia. Kisah ini berawal saat ia diberi mandat oleh sang ayah untuk menjual seekor kambing. Ketika berhasil terjual, duit sebesar 25 gulden yang didapatkannya dicuri oleh komplotan bandit di daerah tersebut. Ia pun murka dan berniat membalas dendam. Tak disangka, ia justru bergabung dengan komplotan yang terdiri dari tujuh orang tersebut, bahkan menjadi pemimpin untuk merampok para tuan tanah Belanda (kompeni). Dari sinilah julukan Pitung berasal, yaitu pituan pitulung yang berarti tujuh sekawan atau tolong-menolong dalam Bahasa Jawa. Meski mengacu pada komplotan beranggotakan tujuh orang tersebut, nama Si Pitung kerap diasosiasikan dengan Ahmad seorang.
Komplotan ini memulai aksi perampokan pertamanya di rumah Haji Saipudin, tuan tanah asal Bugis, Sulawesi Selatan. Merasa berhasil, Si Pitung dan komplotannya merencanakan aksi-aksi lainnya di kemudian hari. Hal ini membuat gusar para kompeni, centeng (pengawal), dan warga sekitar lainnya, sehingga Si Pitung dan komplotannya menjadi buronan seantero masyarakat. Berkat kelihaian dan kemampuan bela diri yang dimilikinya, ia berhasil meloloskan diri berkali-kali. Namun, semua ini berhenti ketika seorang polisi bernama A.W. Van Hinne berhasil menangkapnya. Lantas, bagaimana nasib Si Pitung dan komplotannya? Beginilah kisah lengkapnya.
Sepak Terjang Si Pitung
Si Pitung lahir di Jakarta (dulu Batavia) pada 1886, tepatnya pada masa penjajahan Belanda. Ia diketahui bernama asli Ahmad Nitikusumah, anak dari pasangan Bang Piung dan Mak Pinah yang bermukim di daerah Rawabelong. Semasa kecil, Si Pitung bersekolah di Pondok Pesantren Haji Naipin, tempat ia dididik dengan pendidikan agama yang kuat sambil belajar ilmu bela diri. Ia juga dikenal sebagai pribadi berakhlak baik dan disukai oleh warga sekitar.
Suatu hari, Si Pitung yang waktu itu masih berusia sekitar 15 tahun, ditugaskan oleh sang ayah untuk menjual seekor kambing hasil ternak keluarga di Pasar Tanah Abang. Setelah berhasil menjualnya, ia berjalan pulang dengan perasaan bangga dan tak sabar untuk memberitahu sang ayah.
Malang beribu malang, ia dihadang oleh komplotan Belanda dan Tionghoa yang dijuluki sebagai ‘centeng’. Mereka merampas uang sebesar puluhan gulden yang didapatkan Si Pitung dari hasil penjualan kambing. Ia pulang dengan tangan kosong dan hati sedih. Ayahnya pun menjadi geram ketika mendengar berita tersebut.
Si Pitung ikut murka dan berjanji untuk membalas dendam kepada para bandit tersebut. Ketika berhasil menemukan mereka, Si Pitung mengerahkan kemampuan bela dirinya dan memberi pelajaran kepada komplotan tersebut. Usai bertarung, komplotan yang terdiri oleh enam pemuda bernama Abdoelrachman, Moedjeran, Merais, Dji-ih, Gering, dan Jampang tersebut justru dibuat terkesan atas keahlian Si Pitung dan mengajaknya bergabung.
Meski awalnya menolak, ia akhirnya bergabung sebagai pemimpin komplotan dengan syarat bahwa hasil rampokan akan dibagikan kepada mereka yang membutuhkan. Ia berniat menggunakan ilmu bela dirinya untuk melawan para kompeni dan tuan tanah yang begitu semena-mena terhadap warga.
Si Pitung dan komplotan melakukan aksi pertamanya di kantor Maester Cornelis, tempat seorang tuan tanah asal Bugis, Haji Saipudin, bekerja. Aksi ini dilakukan secara cerdik oleh Si Pitung dengan menyamar sebagai salah satu pegawai pemerintahan Belanda. Penipuan ini dilakukan dengan cara mencuri seragam salah satu petugas dan menyamar sebagai demang atau kepala daerah wilayah Maester Cornelis.
Selanjutnya, Si Pitung memberi surat perintah kepada Haji Saipudin agar menyimpan uangnya di kantor Maester Cornelis untuk keperluan pengawasan pencurian. Tak disangka, Haji Saipudin setuju dan memberikan uangnya kepada “Demang Maester Cornelis” alias Si Pitung. Setelah itu, harta Haji Saipudin dibawa kabur oleh Si Pitung dan komplotannya.
Merasa berhasil melakukannya tanpa menimbulkan kecurigaan pihak berwenang, Si Pitung dan komplotan terus-menerus melakukan berbagai perampokan selanjutnya. Hingga suatu hari, pihak berwenang menemukan jas hitam, seragam polisi, topi yang digunakan untuk tipu muslihat, sekaligus uang rampasan sebesar 125 Gulden. Kabar ini pun perlahan terdengar dan menggemparkan warga yang khawatir hartanya akan dicuri oleh Si Pitung dan komplotannya.
Puncak Pelarian
Pihak berwenang lalu memutuskan untuk memberitakan di sebuah surat kabar dengan tujuan memburu mereka. Bahkan, disiapkan ganjaran uang sebesar 400 gulden bagi siapa saja yang berhasil menangkap sang komplotan. Meski ketujuh orang tersebut diincar, Si Pitung lah yang paling dicari lantaran perannya sebagai ketua. Akan tetapi pencarian tersebut selalu berujung nihil, padahal sejumlah detektif juga ikut turun tangan.
Sebenarnya, beberapa kali para pihak berwenang sempat menemukan Si Pitung dan mencoba menembaknya. Namun, selain ilmu bela diri nan andal, Si Pitung juga memiliki sebuah kesaktian yang terus-menerus menyelamatkannya dari tangkapan polisi dan malapetaka lainnya.
Kemudian, pencarian terhadap Si Pitung terus-menerus dilakukan, kali ini dikepalai seorang Kepala Polisi Kolonial yang bernama A.W. Van Hinne. Pencarian ini dibantu oleh warga setempat yang bertindak sebagai informan. Hari demi hari, mereka menyisiri daerah Kampung Bambu dan sekitarnya, tempat Si Pitung sering beredar dan beraksi.
Suatu hari, Van Hinne mendapatkan berita dari salah satu informan bahwa Si Pitung tengah berada di wilayah Tanah Abang. Dengan amat berhati-hati karena takut kehilangan sang bandit ulung, Van Hinne menyiapkan strategi untuk menyergapnya. Tak lama kemudian, Si Pitung menampakkan diri dan mencoba melarikan diri. Namun, Van Hinne dan pasukannya berhasil menangkap dan menembak kaki Si Pitung.
Lemah lunglai dan tak mampu melakukan perlawanan, Van Hinne kembali menembak dan kali ini mendarat tepat di bagian dada. Perlahan, Si Pitung terjatuh ke tanah dan meninggal. Lalu bagaimana dengan kesaktiannya? Bukankah harusnya hal tersebut dapat menyelamatkannya dari malapetaka? Ternyata, sehari sebelumnya, Pitung memotong rambutnya hingga kesaktiannya hilang. Diketahui, untuk mempertahankan kesaktiannya, ia tidak boleh melepas jimat atau memotong rambut.
Selepas kepergiannya, Si Pitung disemayamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Kebon Jeruk, Jakarta. Kemudian, makam sang legenda terus-menerus dijaga oleh warga Betawi karena ia dihormati sebagai pahlawan pembela keadilan dari para penindas. Warga Betawi pun percaya bahwa Si Pitung terus melindungi mereka dari malapetaka hingga saat ini.
Moral Cerita
Dari Cerita Rakyat Betawi: Legenda Si Pitung, terdapat sejumlah pesan moral yang dapat dipetik. Pertama dan yang paling penting adalagh untuk selalu memiliki niat mulia dalam bertindak, seperti Si Pitung yang disenangi masyarakat berkat kepribadiannya yang supel dan suka menolong. Hanya saja, tindakan yang dilakukan harus sesuai kaidah kebaikan dan tidak melanggar hukum. Kebaikan yang dilakukan sesuai kapasitas, pasti akan membuahkan hasil yang lebih bermanfaat bagi semua pihak.
Tanggal 28 November disepakati sebagai Hari Dongeng Nasional. Penetapan tersebut baru ada sejak tahun 2015 ketika para seniman dan komunitas dongeng mendeklarasikannya di Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 28 November 2015 lalu. Tanggal itu diambil dari hari kelahiran Drs. Suyadi atau yang lebih populer disapa Pak Raden.
Pak Raden adalah tokoh dari seri anak-anak Si Unyil yang ciri-cirinya memakai baju adat Jawa dan blangkon serta berkumis lebat. Pak Raden biasanya muncul ketika Unyil dan teman-temannya melakukan kekeliruan dan Pak Raden datang untuk memarahi dan memberi petuah kepada mereka. Pak Suyadi-lah pengisi suara Pak Raden.
Selain menjadi dubber, Pak Suyadi juga gemar mendongeng untuk anak-anak. Dikutip dari Bobo.id, Pak Suyadi memang sangat mencintai dunia anak-anak. Selain mendongeng dan menjadi pengisi suara Pak Raden, beliau juga suka melukis. Beberapa dongeng karyanya pun sudah diterbitkan dalam bentuk buku. Semasa hidupnya, Pak Suyadi memang hadir untuk menghibur dan menginspirasi anak-anak Indonesia.
Pak Suyadi lahir pada 28 November 1932 di Jember, Jawa Timur. Beliau memiliki nama lengkap Raden Soejadi. Pak Suyadi adalah lulusan Instutut Teknologi Bandung (ITB) pada 1960 untuk Jurusan Seni Rupa. Tak lama setelah tamat ITB, Pak Suyadi melanjutkan studi animasi ke luar negeri tepatnya di negara Perancis selama tiga tahun sampai 1963.
Pak Suyadi membuat film Si Unyil pada tahun 1981 bersama Pak Kurnain Suhardiman. Film tersebut identik dengan boneka-boneka tiga dimensi yang dimainkan dengan tangan. Pak Suyadi bertanggung jawab sebagai penata artistik dan pencipta boneka-boneka yang menjadi karakter dalam film Si Unyil tersebut. Sementara itu, Pak Kurnain bertanggung jawab pada kreasi cerita.
Pak Suyadi menciptakan kurang lebih 300 boneka selama pembuatan film Si Unyil. Beliau juga ikut serta sebagai pengisi suara Pak Raden. Seiring film Si Unyil mengudara, nama Pak Suyadi pun meredup dan malah lebih dikenal dengan sapaan Pak Raden.
Mungkin ada yang bertanya-tanya siapa istri dan anak-anak Pak Suyadi. Namun, sampai akhir hayatnya yang tutup usia pada 30 Oktober 2015 silam, Pak Suyadi melajang alias tidak memiliki istri dan keturunan. Dikutip dari Kompas.com, Pak Suyadi hidup bersama dua orang pengasuhnya bernama Madun dan Nanang di rumahnya.
Semangat Mendongeng pada Hari Dongeng Nasional
Semangat Pak Suyadi untuk dongeng harus terus berkobar. Membacakan dongeng pada anak-anak menjadi salah satu kegiatan yang krusial untuk dilakukan oleh orangtua.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Nadiem Makarim pun setuju akan hal itu. Dalam acara Hari Mendongeng Nasional yang diselenggarakan di Perpustakaan Kemendikbud, Jakarta beberapa hari lalu, Nadiem mengajak para orangtua meluangkan waktu untuk mendongeng kepada anak-anak.
"Apa maknanya mendongeng dan membaca itu? Maknanya adalah agar adik-adik semua senang dan mencintai cerita dan mencintai buku. Karena dari cerita itulah kita menciptakan imajinasi dan dari situlah kita berlatih jadi kreatif," ujar Mendikbud.