PERISAI MUKMIN CHANNEL YOUTUBE
Berbagi kumpulan shalawat Nabi dan dzikir yang sangat baik di amalkan dalam kehidupan sehari hari
MP3 LAGU-LAGU PRAMUKA
Lagu-lagu pramuka yang ber-irama cerdas dan riang selalu setia menemani anggota pramuka, baik pada saat latihan rutin maupun berkemah, mengajak generasi bangsa untuk selalu memiliki jiwa dan keyakinan yang mantap dalam mengisi pembangunan nasional.
MP3 LAGU ANAK INDONESIA
Lagu anak Indonesia walaupun lirik lagunya singkat tapi isinya syarat dengan pesan orang tua terhadap anaknya. Bagi ada yang mempunyai anak kecil, sangat baik jika menguasai lagu-lagu khusus untuk anak-anak karena disamping liriknya mudah diingat juga lagu lagu tersebut mengandung pesan moral yang baik bagi anak kita tercinta.
MP3 LAGU DAERAH NUSANTARA INDONESIA
Nusantara Indonesia yang bergitu luas terdiri dari beragam macam etnis dan suku budaya yang masing-masing memiliki kebudayaan yang berbeda satu sama lainnya. Salah satu budaya daerah yang selalu menjadi kebanggaan daerah masing-masing bahkan menjadi kebanggaan nasional adalah berupa Lagu Daerah.
MP3 LAGU PERJUANGAN DAN WAJIB NASIONAL
Lagu atau musik perjuangan ialah lagu yang membangkitkan semangat persatuan untuk melawan penjajah. Mengingat, mengenang, memperkenalkan kepada generasi muda bangsa indonesia bagaimana semangat dan perjuangan pahlawan-pahlawan yang telah berjasa membela negara di masa lampau.
JELAJAH WISATA DI INDONESIA
Indonesia kaya akan Keindahan alamnya, masing-masing punya pesona dan keistimewaan khas tersendiri yang tak akan dapat ditemukan di belahan bumi manapun. Tidak hanya itu, tempat wisata buatan pun juga ikut meramaikan bursa tempat wisata pilihan di indonesia. Dengan mengetahuinya kita akan tertarik, namun dengan menyaksikannya langsung akan membuat decak kagum terpesona.
77 WARISAN BUDAYA INDONESIA
Indonesia sebagai bangsa yang besar dan memiliki keanekaragaman suku dan budaya memiliki jutaan warisan karya kebudayaan yang perlu dijaga dan dilestarikan oleh seluruh anak bangsa, seringnya budaya milik indonesia yang diklaim sebagai budaya asli negara lain.
03 Mei 2019
Sejarah Kerajaan Kediri
Awal Sejarah Matematika
Sejarah Radio
Sejarah Radio Republik Indonesia (Sejarah RRI)
02 Mei 2019
Mengenal Sosok Jenderal Soedirman
![]() |
| Jenderal Soedirman dan Soeharto |
![]() |
| Jenderal Soedirman dan Soeharto |
![]() |
| Presiden Soekarno dan Jenderal Soedirman |
![]() |
| Jenderal Soedirman di tandu saat perang gerilya |
![]() |
| Wafatnya Jenderal Soedirman |
21 April 2019
Profil Sudharnoto Pencipta Mars Pancasila
Prohar Sudharnoto belajar di Universitas Indonesia jurusan Kedokteran (hanya sampai tingkat 2). Ia memiliki ayah seorang dokter pribadi mangkunegara VII di Sala. Beliau gemar bermain gitar, suling, dan biola, sedangkan ibunya mahir bermain akordeon. Dan beliaupun pernah belajar pada sejumlah seniman, Jos Cleber, Daljono, Soetedjo, dan R.A.J. Soedjasmin.
Bersama Orkes Hawaiian Indonesia Muda pimpinan Maladi, ia ikut mengisi siaran RRI (Radio Republik Indonesia) Sala. Kemudian sejak tahun 1952, ia bekerja di RRI Jakarta, bahkan sampai menjabat sebagai kepala Seksi Musik, dan pengisi acara tetap Hammond Organ Sudharnoto. Setelah meninggalkan RRI, ia menjadi penyalur es Petojo, Jakarta, dan menjadi sopir taksi. Pada tahun 1969, Sudharnoto menjadi pianis di restoran LCC dan kemudian Sangrilla.
Beberapa film yang ia isi ilustrasi musiknya:
* Juara Sepatu Roda
* Notaris Sulami
* Baja Membara
* Sayem
* Di Ambang Fajar
* Koboi Cilik
* Anak Emas
* Cintaku Tergadai
* Kabut Sutra Ungu (memenangkan piala citra tahun 1980)
Musik rekaman yang ia selesaikan, di antaranya:
* Musik Nostalgia Mengenang Ismail Marzuki
* Hidup Indonesia.
Lagu ciptaan prohar sudharnoto diantaranya :
* Bunga Sakura
* Mars Teruna Bangsa
* Keroncong Kewajiban Pemuda
* Gadis Gunung
* Harum Bunga di Waktu Malam
* Asmara Dewi
* Senja Buta
* Melati Pagi
* Maju Sukarelawan
* Garuda Pancasila (diubah tahun 1956).
Sungguh ironis sekali kisah Sudharnoto, sang penggubah "Mars Pancasila" atau sekarang yang lebih dikenal sebagai lagu "Garuda Pancasila".
Pada saat Orde Baru berkuasa, Sudharnoto termasuk salah satu dari banyak seniman yang menjadi tahanan politik karena dianggap sebagai anggota parpol terlarang saat itu yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI), hal ini dikarenakan Sudharnoto termasuk salah satu Anggota Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), sebuah organisasi "underbow" atau menginduk pada PKI.
Padahal masih menjadi perdebatan hingga kini, apakah Lekra memang underbow PKI atau bukan, karena Njoto sebagai salah satu penggagas Lekra (meski Njoto sendiri adalah salah satu pembesar PKI) tetapi dia sendiri menolak untuk memasukkan Lekra sebagai underbow PKI, dan karena itu sempat timbul ketidak harmonisan antara Dipa Nusantara (DN) Aidit sebagai ketua CC PKI dan Njoto yang menjabat Wakil Ketua CC PKI saat itu.
Tetapi uniknya di saat Orde Baru, Lekra dianggap sebagai underbow PKI, hingga timbul anekdot di kalangan mantan anggota Lekra "DN Aidit yang merupakan salah satu pendiri Lekra dan orang nomor satu PKI tidak mampu meng komunis kan Lekra tetapi Soeharto bisa"
Kembali pada kisah Soedharnoto, sang penggubah "Garuda Pancasila". Lelaki kelahiran Kendal, 24 Oktober 1925, jebolan Fakultas Kedokteran UI (hingga tingkat dua) dan merupakan salah satu komponis besar di era Soekarno.
Pernah menjadi pengasuh acara di RRI Jakarta kemudian diberhentikan dari jabatannya karena keterlibatan di Lekra, sempat mencicipi sebagai tapol di Rumah Tahanan Salemba dan setelah dibebaskan, Sudharnoto menjadi penyalur es di Pabrik Es, Petojo. Tahun 1969, Sudharnoto beralih profesi lagi menjadi supir taksi kemudian menjadi pianis di restoran LCC dan Shangrilla.
Sudharnoto juga terkenal sebagai illustrator untuk musik film, dan sempat meraih piala Citra pada FFI tahun 1979 dalam film "Kabut Sutra Ungu" dan FFI tahun 1983 dalam film "Kartini", kedua film tersebut arahan Sjuman Djaja . Selama hidupnya Sudharnoto telah menjadi illustrator musik untuk lebih 39 film sejak tahun 1958 (Djuara Sepatu Roda) hingga tahun 1996 (Amrin Membolos).
Nasib beliau masih lebih beruntung dibandingkan beberapa seniman anggota Lekra lainnya dan budayawan serta seniman Banyuwangi pengarang lagu "Genjer-genjer", M. Arif, yang hingga kini tidak ketahuan nasibnya setelah pembersihan anggota PKI.
Bahkan lagu gubahan beliau "Garuda Pancasila" menjadi lagu penyemangat era Orde Baru dalam propaganda anti komunisme dan menjadi salah satu lagu doktrin ideologi Orde Baru.
Sungguh ironi memang bahwa lagu "Garuda Pancasila" yang menjadi lagu doktrin Orde Baru ternyata digubah oleh anggota Lekra yang dianggap oleh Orde Baru sebagai antek komunis. Sudharnoto wafat pada tanggal 11 Januari 2000 dalam usia 74 tahun.
Sumber :
1. Kamus Gestok (Hesri Setiawan, Galang Press, 2003)
2. Majalah Tempo edisi Oktober 2013
3. http://www.indonesianfilmcenter.com/pages/profile/profile.php?pid=638457f44085
4. http://www.sinematekindonesia.com/index.php/kronika/listdata/page/80
20 April 2019
Penemu Pondasi Cakar Ayam
Pondasi cakar ayam terdiri dan plat beton bertulang dengan ketebalan 10-15 cm, tergantung dari jenis konstruksi dan keadaan tanah di bawahnya. Di bawah plat beton dibuat sumuran pipa-pipa dengan jarak sumbu antara 2-3 m. Diameter pipa 1,20 m, tebal 8 cm, dan panjangnya tergantung dari beban di atas plat serta kondisi tanahnya. Untuk pipa dipakai tulangan tunggal, sedangkan untuk plat dipakai tulangan ganda.
Sistem pondàsi cakar ayam sangat sederhana, hingga cocok sekali diterapkan di daerah dimana peralatan modern dan tenaga ahli sukar didapat. Sampai batas-batas tertentu, sistern ini dapat menggantikan pondasi tiang pancang. Untuk gedung berlantai 3-4 misalnya, sistem cakar ayam biayanya akan sama dengan pondasi tiang pancang 12 meter.
![]() |
| Pondasi Cakar Ayam |
Beberapa karya Sedyatmo lainnya yang terkenal adalah pompa hidrolis, bendungan Jatiluhur, dan bahkan jembatan Suramadu dibangun berdasarkan konsep awal Sedyatmo. Tak heran, kontribusinya yang luar biasa bagi pengetahuan teknik, menobatkan Sedyatmo meraih sejumlah penghargaan internasional.
Nama Ir. Sedyatmo kemudian di abadikan sebagai nama jalan bebas hambatan (Jalan Tol) dari Jakarta menuju bandara Soekarno-Hatta. Profesor Sedyatmo meninggal dunia di usia 75 tahun pada 1984 dan dimakamkan di Karanganyar. Pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputra Kelas I kepada Sedyatmo atas jasa-jasanya.
Terima kasih anda telah mengunjungi blog Cinta Negeri.
Biografi Ismail Marzuki Sang Mestro Musik
![]() |
| Ismail Marzuki |
Nama : Ismail Marzuki
Lahir : Jakarta, 11 Mei 1914
Wafat : Jakarta, 25 Mei 1958
Orang Tua : Marzuki (ayah), Solechah (ibu)
Istri : Eulis Zuraidah
Anak : Rachmi Aziah
Gelar : Pahlawan Nasional
Ismail Marzuki lahir di Kwitang, Senen, Batavia, 11 Mei 1914. Ismail Marzuki yang lebih dikenal dengan panggilan Maing. Ia merupakan anak dari keluarga keturunan Betawi. Ismail Marzuki dikenal memiliki bakat seni yang sulit dicari bandingannya. Sosoknya pun mengagumkan. Ia merupakan anak dari pasangan Marzuki dan Solechah.
Dalam biografi Ismail Marzuki, ia terkenal sebagai pemuda yang berkepribadian luhur dan tergolong anak pintar. Ismail sejak muda senang tampil necis. Bajunya disetrika licin, sepatunya mengkilat dan ia senang berdasi. Darah seni Ismail mengalir dari ayahnya, Marzuki, yang saat itu seorang pegawai di perusahaan Ford Reparatieer TIO.
Ayahnya, Marzuki dikenal gemar memainkan kecapi dan piawai melagukan syair-syair yang bernafaskan Islam. Jadi tidak aneh kalau kemudian Ismail sejak kecil sudah tertarik dengan lagu-lagu.
Orang tua Ismail Marzuki yakni Marzuki dan Solechah termasuk golongan masyarakat Betawi intelek yang berpikiran maju. Ismail Marzuki yang dipanggil dengan nama Ma’ing, sejak bocah sudah menunjukkan minat yang besar terhadap seni musik.
PENDIDIKAN ISMAIL MARZUKI
Ayahnya berpenghasilan cukup sehingga sanggup membeli piringan hitam dan gramafon yang populer disebut “mesin ngomong” oleh masyarakat Betawi tempo dulu. Ismail Marzuki di sekolahkan ayahnya ke sebuah sekolah Kristen HIS Idenburg, Menteng.
Nama panggilannya di sekolah adalah Benyamin. Tapi kemudian ayahnya merasa khawatir kalau nantinya bersifat kebelanda-belandaan, Ismail Marzuki lalu dipindahkan ke Madrasah Unwanul-Falah di Kwitang. Beranjak dewasa, dia dibelikan ayahnya alat musik sederhana.
Setelah tamat MULO, Ismail Marzuki bekerja di Socony Service Station sebagai kasir dengan gaji 30 gulden sebulan, sehingga dia sanggup menabung untuk membeli biola. Namun, pekerjaan sebagai kasir dirasakan kurang cocok baginya.
Ia kemudian pindah pekerjaan dengan gaji tidak tetap sebagai verkoper (penjual) piringan hitam produksi Columbia dan Polydor yang berkantor di Jalan Noordwijk (sekarang Jalan Ir. H. Juanda) Jakarta.
Terjun Ke Dunia Musik
Penghasilannya tergantung pada jumlah piringan hitam yang dia jual. Rupanya, pekerjaan ini hanya sebagai batu loncatan ke jenjang karier berikutnya dalam bidang musik.
Selama bekerja sebagai penjual piringan hitam, Ismail Marzuki banyak berkenalan dengan artis pentas, film, musik dan penyanyi, di antaranya Zahirdin, Yahya, Kartolo, dan Roekiah (orangtua Rachmat Kartolo). Pada 1936, Ismail Marzuki memasuki perkumpulan orkes musik Lief Jawa sebagai pemain gitar, saksofon, dan harmonium pompa.
Menciptakan Lagu Sendiri
Tahun 1934, Belanda membentuk Nederlands Indische Radio Omroep Maatshappij (NIROM) dan orkes musik Lief Java mendapat kesempatan untuk mengisi acara siaran musik. Tapi Ismail Marzuki mulai menjauhkan diri dari lagu-lagu Barat, kemudian menciptakan lagu-lagu sendiri antara lain “Ali Baba Rumba”, “Ohle le di Kotaraja”, dan “Ya Aini”.
Lagu ciptaannya kemudian direkam kedalam piringan hitam di Singapura. Orkes musiknya punya sebuah lagu pembukaan yang mereka namakan Sweet Jaya Islander.
Lagu tersebut tanpa pemberitahuan maupun basa-basi dijadikan lagu pembukaan siaran radio NIROM, sehingga grup musik Ismail Marzuki mengajukan protes, namun protes mereka tidak digubris oleh direktur NIROM.
Pada periode 1936-1937, Ismail Marzuki mulai mempelajari berbagai jenis lagu tradisional dan lagu Barat. Ini terlibat pada beberapa ciptaannya dalam periode tersebut, “My Hula-hula Girl”. Kemudian lagu ciptaannya “Bunga Mawar dari Mayangan” dan “Duduk Termenung” dijadikan tema lagu untuk film “Terang Bulan”.
Awal Perang Dunia II (1940) mulai mempengaruhi kehidupan di Hindia-Belanda (Indonesia). Radio NIROM mulai membatasi acara siaran musiknya, sehingga beberapa orang Indonesia di Betawi mulai membuat radio sendiri dengan nama Vereneging Oostersche Radio Omroep (VORO) berlokasi di Kramat Raya. Antena pemancar mereka buat sendiri dari batang bambu.
Tiap malam Minggu orkes Lief Java mengadakan siaran khusus dengan penyanyi antara lain Annie Landouw. Ismail Marzuki malah jadi pemain musik sekaligus mengisi acara lawak dengan nama samaran “Paman Lengser” dibantu oleh “Botol Kosong” alias Memet.
Karena Ismail Marzuki sangat gemar memainkan berbagai jenis alat musik, suatu waktu dia diberi hadiah sebuah saksofon oleh kawannya yang ternyata menderita penyakit paru-paru. Setelah dokter menjelaskan pada Ismail Marzuki, lalu alat tiup tersebut dimusnahkan. Tapi, mulai saat itu pula penyakit paru-paru mengganggunya.
Membentuk Perikatan Radio Ketimuran (PRK)
Ketika Ismail Marzuki membentuk organisasi Perikatan Radio Ketimuran (PRK), pihak Belanda memintanya untuk memimpin orkes studio ketimuran yang berlokasi di Bandung (Tegal-Lega). Orkesnya membawakan lagu-lagu Barat.
Pada periode ini dia banyak mempelajari bentuk-bentuk lagu Barat, yang digubahnya dan kemudian diterjemahkannya ke dalam nada-nada Indonesia.
Sebuah lagu Rusia ciptaan R. Karsov diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda menjadi “Panon Hideung”. Sebuah lagu ciptaannya berbahasa Belanda tapi memiliki intonasi Timur yakni lagu “Als de orchideen bloeien”. Lagu ini kemudian direkam oleh perusahaan piringan hitam His Master Voice (HMV). Kelak lagu ini diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Bila Anggrek Mulai Berbunga”.
Tahun 1940, Ismail Marzuki menikah dengan penyanyi kroncong Eulis Zuraidah. Pada Maret 1942, saat Jepang menduduki seluruh Indonesia, Radio NIROM dibubarkan diganti dengan nama Hoso Kanri Kyoku. PRK juga dibubarkan Jepang, dan orkes Lief Java berganti nama Kireina Jawa.
Menciptakan Lagu Perjuangan
Saat itu Ismail Marzuki mulai memasuki periode menciptakan lagu-lagu perjuangan. Mula-mula syair lagunya masih berbentuk puitis yang lembut seperti “Kalau Melati Mekar Setangkai”, “Kembang Rampai dari Bali” dan bentuk hiburan ringan, bahkan agak mengarah pada bentuk seriosa.
Dalam Biografi Ismail Marzuki diketahui bahwa pada periode 1943-1944, Ismail Marzuki menciptakan lagu yang mulai mengarah pada lagu-lagu perjuangan, antara lain “Rayuan Pulau Kelapa”, “Bisikan Tanah Air”, “Gagah Perwira”, dan “Indonesia Tanah Pusaka”.
Kepala bagian propaganda Jepang, Sumitsu, mencurigai lagu-lagu tersebut lalu melaporkannya ke pihak Kenpetai (Polisi Militer Jepang), sehingga Ismail Marzuki sempat diancam oleh Kenpetai. Namun, putra Betawi ini tak gentar. Perjuangan Ismail Marzuki selanjutnya pada 1945 menciptakan lagu “Selamat Jalan Pahlawan Muda”.
Setelah Perang Dunia II, ciptaan lagu Ismail Marzuki terus mengalir, antara lain “Jauh di Mata di Hati Jangan” (1947) dan “Halo-halo Bandung” (1948). Ketika itu Ismail Marzuki dan istrinya pindah ke Bandung karena rumah mereka di Jakarta kena dihantam peluru mortir.
Ketika berada di Bandung selatan, ayah Ismail Marzuki di Jakarta meninggal. Ismail Marzuki terlambat menerima berita. Ketika dia tiba di Jakarta, ayahnya telah beberapa hari dimakamkan. Kembang-kembang yang menghiasi makam ayahnya dan telah layu, mengilhaminya untuk menciptakan lagu “Gugur Bunga”.
Lagu-lagu ciptaan lainnya mengenai masa perjuangan yang bergaya romantis tanpa mengurangi nilai-nilai semangat perjuangan antara lain “Ke Medan Jaya”, “Sepasang Mata Bola”, “Selendang Sutra”, “Melati di Tapal Batas Bekasi”, “Saputangan dari Bandung Selatan”, “Selamat Datang Pahlawan Muda”.
Lagu hiburan populer yang (kental) bernafaskan cinta pun sampai-sampai diberi suasana kisah perjuangan kemerdekaan. Misalnya syair lagu “Tinggi Gunung Seribu Janji”, dan “Juwita Malam”.
Lagu-lagu yang khusus mengisahkan kehidupan para pejuang kemerekaan, syairnya dibuat ringan dalam bentuk populer, tidak menggunakan bahasa Indonesia tinggi yang sulit dicerna. Simak saja syair “Oh Kopral Jono” dan “Sersan Mayorku”.
Lagu-lagu ciptaannya yang berbentuk romantis murni hiburan ringan, walaupun digarap secara populer tapi bentuk syairnya berbobot seriosa. Misalnya lagu “Aryati”, “Oh Angin Sampaikan". Tahun 1950 dia masih mencipta lagu “Irian Samba” dan tahun 1957 lagu “Inikah Bahagia” suatu lagu yang banyak memancing tanda tanya dari para pengamat musik.
Sampai pada lagu ciptaan yang ke 100-an, Ismail Marzuki masih merasa belum puas dan belum bahagia. Malah, lagu ciptaannya yang ke-103 tidak sempat diberi judul dan syair.
Ismail Marzuki Wafat
Hingga Ma’ing alias Ismail Marzuki komponis besar Indonesia itu menutup mata selamanya pada 25 Mei 1958. Peran Ismail Marzuki terhadap sejarah musik Indonesia sangat vital, khususnya lagu-lagu perjuangan yang ia ciptakan.
![]() |
| Makam Ismail Marzuki di TPU Karet Bivak Jakarta |
* Aryati
* Gugur Bunga
* Melati di Tapal Batas (1947)
* Wanita
* Rayuan Pulau Kelapa
* Sepasang Mata Bola (1946)
* Bandung Selatan di Waktu Malam (1948)
* O Sarinah (1931)
* Keroncong Serenata
* Kasim Baba
* Bandaneira
* Lenggang Bandung
* Sampul Surat
* Karangan Bunga dari Selatan
* Selamat Datang Pahlawan Muda (1949)
* Juwita Malam
* Sabda Alam
* Roselani
* Rindu Lukisan
* Indonesia Pusaka
Biografi Komodor Yos Sudarso
![]() |
| Laksamana Madya TNI (Ant) Yosaphat Soedarso |
Dalam banyak buku yang mengulas mengenai biografi maupun profil dari Laksamana Madya TNI (Ant) Yosaphat Soedarso atau lebih dikenal dengan nama Yos Sudarso, beliau dikatakan lahir di wilayah Salatiga, Jawa Tengah pada tanggal 24 November 1925. Ia lahir dengan nama lengkap Yosaphat Soedarso dari pasangan Sukarno Darmoprawiro dan Mariyam. Ayah Yos sudarso bekerja sebagai seorang polisi ketika masa penjajahan.
Sejak kecil, Yos Sudarso dikenal sebagai sosok yang tenang, cerdas dan juga santun dalam bergaul. Saat masih anak-anak, beliau masuk di sekolah HIS (Hollandsch Inlandsch School) yang setingkat SD, tamat dari situ pada tahun 1940 ia kemudian masuk di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di kota Semarang.
Baru lima bulan bersekolah, Jepang kemudian datang menjajah di Indonesia. Yos Sudarso akhirnya kembali ke Salatiga dan memilih melanjutkan pendidikan SMP nya disana hingga tahun 1943. Tamat dari sana, beliau kemudian masuk di sekolah guru di wilayah Muntilan.
Bergabung Di Angkatan Laut
Namun pendidikan disekolah tersebut ia tidak selesaikan karena pada masa itu terjadi peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang. Akhirnya Yos Sudarso masuk di Sekolah Tinggi Pelayaran di Semarang yang ia tempuh selama setahun dan pendidikan opsir di Goo Osamu Butai dan menjadi lulusan terbaik. Prestasinya tersebut membuat ia kemudian dipekerjakan sebagai mualim di kapal Goo Usamu Butai.
Ketika proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan pada 17 agustus 1945, Yos Sudarso kemudian bergabung dengan BKR (Badan Keamanan Rakyat) Laut yang kemudian bernama Tentara Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI).
Disini Yos Sudarso sering mengikuti misi atau operasi militer dalam memadamkan pemberontakan yang terjadi di daerah-daerah ketika itu. Walaupu ketika itu armada kapal laut yang dimiliki Indonesia masih sangat minim sekali.
Di tahun 1950, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Yos Sudarso pun diangkat sebagai komandan kapal di KRI Alu. Selanjutkan pindah ke KRI Gajah Mada, KRI Rajawali hingga KRI Pattimura. Yos bahkan sempat menjabat sebagai sebagai hakim pengadilan walaupun hanya 4 bulan saja tepatnya di tahun 1958.
Di tahun 1959, pergolakan internal di tubuh Angkatan Laut mencapai puncaknya. Yos Sudarso berserta kolonel Ali Sadikin dan para perwira lainnya tidak setuju dengan kepemimpinan Laksamana Subiyakto yang ketika itu menjabat sebgai kepala staf angkatan laut.
Konflik tersebut membuat Laksaman Subiyakto akhirnya digantikan oleh Kolonel R.E Martadinata sebagai kepala staf yang baru. Tidak lama setelah itu Yos Sudarso kemudian naik pangkat secara cepat dari Deputi hingga menjadi komodor (laksamana pertama).
Kisah Heroik Yos Sudarso dan Pertempuran Laut Aru Yang Terkenal
Di tahun 1961, konfrontasi Indonesia dan Belanda dalam hal pembebasan Irian Barat dari tangan Belanda mencapai puncaknya. Presiden Soekarno ketika itu membentuk Tri Komando Rakyat (Trikora) dan tahun berikutnya 1962, Soekarno membentuk Komando Mandala dalam pembebsan Irian Barat dengan markas di Makassar. Yos Sudarso diserahi tugas sebagai Deputi Operasi.
Tugas yang berat bagi Yos Sudarso. Kisah heroik mengenai pertempuran Yos Sudarso akhirnya terjadi pada tanggal 15 Januari 1962. Ketika itu Yos Sudarso melakukan patroli dengan membawa tiga kapal yakni KRI Macan Tutul, KRI Macan Kumbang dan KRI Harimau dibawah komandonya.
Ketiga kapal Belanda tersebut ternyata sudah menunggu mereka. Tembakan peringatan pertama dilepaskan oleh Belanda dan jatuh disamping KRI Harimau. Kolonel Sudomo kemudian memerintahkan tembakan balasan namun meleset.
Yos Sudarso yang sadar bahwa pertempuran ini bakal tidak seimbang dalam hal persenjataan, beliau kemudian memerintahkan ketiga kapal yang ia komandoi untuk mundur sementara. Manuver 180 derajat kemudian dilakukan ketiga kapal tersebut. Namun naas, KRI Macan Tutul yang ditumpangi oleh Komodor Yos Sudarso macet.
Pihak Belanda mengira bahwa kapal Indonesia akan melakukan manuver untuk menyerang. Belanda kemudian melepaskan tembakan untuk menyerang. KRI Macan Tutul ketika itu berhadapan dengan kapal perusak Belanda. Yos Sudarso kemudian memerintahkan KRI Macan Tutul untuk pasang badan agar dua kapal lainnya bisa bisa meninggalkan medan pertempuran.
Tembakan pertama yang dilakukan kapal perusak Belanda itu meleset mengenai KRI Macan Tutul. Di kesempatan berikutnya, tembakan yang dilakukan kapal perusak Belanda akhirnya tepat mengenai badan kapal KRI Macan Tutul yang bernomor lambung 650 tersebut.
Gugurnya Yos Sudarso
KRI Macan Tutul buatan Jerman Barat itu akhirnya terbakar dan perlahan-lahan karam ke dasar Samudera bersama 24 kru kapal. Kru lainnya yang selamat menjadi tawanan Belanda. Kalimat terakhir dari komodor Yos Sudarso sesaat sebelum kapalnya karam yaitu:
Banyak tabir yang menyelimuti gugurnya Yos Sudarso dalam pertempuran di laut Arafuru. Mulai dari bocornya operasi rahasia tersebut oleh Belanda, kemudian operasi tersebut tersebut tidak diketahui oleh pemerintah seperti Presiden Soekarno seperti yang ditulis dalam buku Konspirasi Dibalik Tenggelamnya Matjan Tutul (2011) oleh wartawan Julius Pour.
Selain itu, AURI (Angkatan udara) yang dituding sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dalam insiden tersebut karena tidak memberikan bantuan pesawat udara yang berbuntut pada pencopotan KSAU Laksamana Suryadarma yang digantikan oleh Letkol Omar Dhani yang dikisahkan dalam buku Dan Toch Maar! (2009) yang ditulis oleh Sukono.
Terima kasih anda telah mengunjungi blog Cinta Negeri.



































