Indonesia Negeri Tercintaku Indonesia Negeri Tercintaku

PERISAI MUKMIN CHANNEL YOUTUBE

Berbagi kumpulan shalawat Nabi dan dzikir yang sangat baik di amalkan dalam kehidupan sehari hari

MP3 LAGU-LAGU PRAMUKA

Lagu-lagu pramuka yang ber-irama cerdas dan riang selalu setia menemani anggota pramuka, baik pada saat latihan rutin maupun berkemah, mengajak generasi bangsa untuk selalu memiliki jiwa dan keyakinan yang mantap dalam mengisi pembangunan nasional.

MP3 LAGU ANAK INDONESIA

Lagu anak Indonesia walaupun lirik lagunya singkat tapi isinya syarat dengan pesan orang tua terhadap anaknya. Bagi ada yang mempunyai anak kecil, sangat baik jika menguasai lagu-lagu khusus untuk anak-anak karena disamping liriknya mudah diingat juga lagu lagu tersebut mengandung pesan moral yang baik bagi anak kita tercinta.

MP3 LAGU DAERAH NUSANTARA INDONESIA

Nusantara Indonesia yang bergitu luas terdiri dari beragam macam etnis dan suku budaya yang masing-masing memiliki kebudayaan yang berbeda satu sama lainnya. Salah satu budaya daerah yang selalu menjadi kebanggaan daerah masing-masing bahkan menjadi kebanggaan nasional adalah berupa Lagu Daerah.

MP3 LAGU PERJUANGAN DAN WAJIB NASIONAL

Lagu atau musik perjuangan ialah lagu yang membangkitkan semangat persatuan untuk melawan penjajah. Mengingat, mengenang, memperkenalkan kepada generasi muda bangsa indonesia bagaimana semangat dan perjuangan pahlawan-pahlawan yang telah berjasa membela negara di masa lampau.

JELAJAH WISATA DI INDONESIA

Indonesia kaya akan Keindahan alamnya, masing-masing punya pesona dan keistimewaan khas tersendiri yang tak akan dapat ditemukan di belahan bumi manapun. Tidak hanya itu, tempat wisata buatan pun juga ikut meramaikan bursa tempat wisata pilihan di indonesia. Dengan mengetahuinya kita akan tertarik, namun dengan menyaksikannya langsung akan membuat decak kagum terpesona.

77 WARISAN BUDAYA INDONESIA

Indonesia sebagai bangsa yang besar dan memiliki keanekaragaman suku dan budaya memiliki jutaan warisan karya kebudayaan yang perlu dijaga dan dilestarikan oleh seluruh anak bangsa, seringnya budaya milik indonesia yang diklaim sebagai budaya asli negara lain.

25 November 2025

Kopi Liong Bulan Khas Bogor

Menyeruput Kesegaran Kopi Liong Bulan Khas Kota Bogor Jawa Barat Yang Sangat Digemari

Kopi Cap Liong Bulan Khas Kota Bogor Jawa Barat

Bagi warga Jabodetabek pastinya sudah tidak asing lagi dengan Kopi cap Liong Bulan khas Kota Bogor Jawa Barat, Kopi Liong adalah kopi khas Bogor yang terkenal dengan cita rasa dan aroma khasnya yang kuat, sudah diproduksi sejak tahun 1945 oleh industri rumahan keluarga Tionghoa. Kopi ini dibuat dari biji kopi murni tanpa campuran, dan rasanya cenderung pahit serta kental, membuatnya cocok dipadukan dengan susu kental manis untuk menyeimbangkan rasa.

Kopi adalah salah satu minuman favorit masyarakat Indonesia. Minuman hitam berkafein ini tidak hanya disukai orang tua tetapi juga anak muda, tak terkecuali kaum hawa. Di Bogor, ada kopi legendaris yang sangat terkenal dengan citarasa yang khas dan nikmat yaitu Kopi Liong Bulan.

Kopi saset dengan kemasan berlambang naga dan bulan sabit ini sudah berdiri sejak tahun 1945 dan menjadi salah satu minuman khas Kota Bogor. Meski telah telah berusia puluhan tahun, usaha kopi masih bertahan bahkan semakin sukses. Bermula dari usaha keluarga, kini Kopi Liong Bulan sudah menjadi perusahaan berskala regional.

Pendistribusiannya pun sekarang sudah menjangkau beberapa daerah di luar Bogor yaitu Depok, Sukabumi, Cianjur, Jakarta Selatan, dan Tangerang Selatan. Tidak menutup kemungkinan usaha ini akan menjadi perusahaan berskala nasional dengan jangkauan distribusi yang lebih luas.

Aroma yang khas dan kuat serta rasa yang gurih menjadi citarasa yang membuat kopi ini begitu digemari penikmatnya dari berbagai lintas generasi. Konon, kopi yang sudah berumur tua ini adalah minuman para pejuang kemerdekaan sebelum mereka berangkat ke medan perang untuk melawan penjajah di daerah tersebut.

Minum kopi bagi masyarakat Indonesia sudah menjadi tradisi yang turun-temurun. Tradisi tersebut sejalan dengan negara Indonesia yang mampu menghasilkan berbagai jenis kopi, mulai dari kopi Toraja, kopi Aceh, kopi Bali, hingga kopi Flores. Indonesia juga merupakan salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia, yang tiap tahunnya bisa memproduksi hingga ratusan ribu ton kopi. Hasil produksi kopi Indonesia bahkan telah diekspor ke berbagai negara di dunia.

Kopi Cap Liong Bulan Khas Kota Bogor Jawa Barat

Kopi liong bulan merupakan salah satu kopi terbaik yang dimiliki Indonesia. Meski hanya diproduksi secara rumahan, kopi liong bulan mempunyai penggemar setianya sendiri. Belakangan para pelancong yang datang ke kota hujan juga kerap menjadikan kopi liong bulan sebagai oleh-oleh selain Roti Unyil dan Asinan. Tidak mengherankan jika ketenaran kopi ini mampu merambah hingga keluar kota Bogor.

Berbeda dengan kopi hitam pada umumnya, kopi liong bulan mempunyai ciri khas tersendiri. Ciri khas itu mencangkup rasanya yang lebih pahit, lebih kental, dan mempunyai aroma yang harum dan tahan lama. Ada satu tips untuk menghasilkan kopi liong bulan dengan cita rasa nikmat dan aroma yang kuat, setelah air panas dituangkan ke dalam gelas yang berisi bubuk kopi, terlebih dahulu didiamkan hingga beberapa menit. Setelah itu, baru kopi diaduk, dan aroma khas kopi liong bulan akan tercium.

Di tengah gencarnya produksi kopi instan bermerk yang berskala nasional, produksi kopi liong bulan terus berjalan meski tertatih. Hal ini dibutuhkan perhatian lebih dari penggemar kopi nusantara, agar kopi lokal ini tetap bertahan dan menjadi salah satu ciri khas Bogor. Sehingga masyarakat tidak hanya mengenal roti unyil, asinan, dan makaroni saja, tetapi juga kopi liong bulan yang sudah lebih dulu ada dan menjadi ciri khas Bogor.

Selain nikmat, kopi bubuk ini aman dikonsumsi karena tidak menggunakan bahan pengawet. Oleh karena itu, kopi ini dapat bertahan selama tiga bulan sejak tanggal produksi, Untuk setiap kemasan sasetnya juga sudah ditakar untuk satu kali saji lengkap dengan gula.

Untuk mendapatkan cita rasa khas kopi ini, cara penyajiannya tidak boleh asal. Sebaiknya menyeduh bubuk kopi dengan air yang benar-benar panas, bukan air dari termos atau dispenser. Lalu diamkan sesaat hingga air panasnya tercampur sempurna dengan bubuk kopi. Demikian, aroma Kopi Liong Bulan yang harum pun langsung tercium.

Kopi Cap Liong Bulan Khas Kota Bogor Jawa Barat
Ciri-ciri Kopi Liong
  • Asal: Kopi khas Bogor, Jawa Barat.
  • Sejarah: Didirikan pada tahun 1945 oleh keluarga keturunan Tionghoa.
  • Komposisi: Terbuat dari biji kopi murni tanpa campuran atau pengawet.
  • Rasa: Pahit, kental, dan gurih
  • Aroma: Khas, kuat, dan tahan lama.
  • Penyajian: Cocok diseduh dengan air panas dan bisa ditambahkan susu kental manis untuk menyeimbangkan rasa pahitnya.
Manfaat dan Kegunaan
  • Efek menyegarkan: Kandungan kafeinnya memberikan efek menyegarkan.
  • Kesehatan: Dipercaya memiliki manfaat untuk menjaga kesehatan jantung, hati, dan otak.
  • Menjaga berat badan: Membantu mempertahankan berat badan ideal.
  • Keserbagunaan: Dapat digunakan sebagai topping untuk kue dan olahan pastry lainnya.

Seperti diketahui kopi adalah minuman yang mengandung kafein dan memiliki segudang manfaat bagi kesehatan. Yang paling umum diketahui kopi bisa menghilangkan rasa kantuk dan menambah energi terutama jika dikonsumsi di pagi hari. Tidak hanya itu, kopi juga memiliki banyak manfaat lainnya seperti menjaga kesehatan jantung dan organ hati, mempertahankan berat badan ideal, dan menjaga kesehatan otak.

16 November 2025

Sejarah masuknya Belanda ke Indonesia

Sejarah masuknya Belanda ke Indonesia
Sejarah masuknya Belanda ke Indonesia dari latar belakang, tujuan, dan rute pelayaran. Berikut beberapa dampaknya mulai kelaparan hingga perbudakan
Sejarah masuknya Belanda ke Indonesia dari latar belakang, tujuan, dan rute pelayaran. Berikut beberapa dampaknya mulai kelaparan hingga perbudakan

Sejarah masuknya Belanda ke Indonesia terdiri atas latar belakang, tujuan, rute pelayaran, hingga dampaknya. Lantas, bagaimana bangsa Belanda bisa sampai ke Indonesia.?

Orang-orang Eropa mulanya mendapatkan rempah-rempah dari para pedagang Asia melalui jalur Konstantinopel. Namun, konstantinopel justru jatuh ke tangan Turki Utsmani, sehingga pasokan kebutuhan rempah-rempah orang Eropa menjadi tersendat.

Di sisi lain, orang-orang Eropa begitu memerlukan rempah-rempah yang telah berubah menjadi kebutuhan sekaligus status sosial. Keadaan ini kemudian menjadi salah satu sebab bangsa Eropa, tidak terkecuali Belanda melakukan perjalanan untuk mencari rempah-rempah ke daerah asalnya.

Tujuan Kedatangan Bangsa Belanda di Indonesia

Tujuan kedatangan bangsa Belanda ke Indonesia awalnya adalah untuk mencari rempah-rempah. Meskipun demikian, mereka tetap mengusung misi gold, glory, gospel (3G) yang nanti memunculkan praktik kolonialisme dan imperialisme di nusantara.

Menurut sejarawan M. C. Ricklefs dalam buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, rempah merupakan bahan baku yang sangat penting bagi peradaban bangsa Eropa pada abad ke-15. Oleh orang-orang Eropa, rempah digunakan sebagai bahan obat-obatan, parfum, bumbu masakan, alat ritual agama, dan yang terpenting adalah pengawet makanan.

Sejarah masuknya Belanda ke Indonesia dari latar belakang, tujuan, dan rute pelayaran. Berikut beberapa dampaknya mulai kelaparan hingga perbudakan

Fungsi pengawet sangat dibutuhkan karena orang Eropa biasa menyembelih semua binatang ternak ketika musim dingin tiba. Jika tidak, ternak akan mati karena suhu dingin. Daging hasil penyembelihan massal tersebut mesti diawetkan untuk memenuhi kebutuhan selama musim dingin, dan rempah sangat dibutuhkan untuk itu.

Tadinya, Belanda mendapat suplai rempah dari Lisboa, ibu kota Portugis. Namun, sejak Spanyol menguasai wilayah Belanda, Negeri Oranje dilarang menerima suplai rempah dari Portugis. Oleh karena itu, Belanda kemudian mencari jalan lain untuk mendapatkan pasokan rempah. Orang-orang Belanda pun kemudian memulai penjelajahan samuderanya.

Kapal-kapal bangsa Belanda pertama kali masuk perairan kepulauan Indonesia pada 1596 masehi. Usaha pencarian rempah oleh Belanda tidak terlepas dari dominasi Spanyol dan Portugis, dua imperium terbesar daratan Eropa pada masanya.

Latar Belakang Kedatangan Bangsa Belanda ke Indonesia

Meskipun pencarian sumber rempah merupakan faktor utama pendorong pelayaran bangsa Belanda ke nusantara, penjelajahan samudera yang mereka lakukan sejak abad 15 M, tidak hanya didasari tujuan itu.

Mengutip buku Sejarah Indonesia Kelas IX terbitan Kemendikbud, sebagaimana bangsa-bangsa Eropa yang lain, pelayaran para pelaut Belanda ke berbagai belahan dunia didorong beberapa peristiwa politik dan perkembangan teknologi pada abad-15.

Penjelajahan samudera yang dilakukan oleh bangsa Eropa dilakukan setidaknya karena 2 peristiwa politik penting, yakni kekalahan kerajaan-kerajaan Katolik Eropa dalam Perang Salib dan jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Usmani.

Sejarah masuknya Belanda ke Indonesia dari latar belakang, tujuan, dan rute pelayaran. Berikut beberapa dampaknya mulai kelaparan hingga perbudakan

Perang Salib memporak-porandakan jalur perdagangan Eropa dan Asia karena berlangsung di perbatasan 2 benua tersebut. Selain jalur perdagangan, keadaan ekonomi kerajaan-kerajaan Eropa pun menjadi terpuruk. Kas mereka menyusut drastis karena besarnya biaya perang.

Berselang 2 abad setelah Perang Salib selesai, kota Konstantinopel (sekarang Istanbul) jatuh ke tangan imperium Turki Usmani (Ottoman). Hal ini adalah kabar buruk bagi kerajaan-kerajaan di Eropa karena kota tersebut menjadi titik penting jalur perdagangan antar-benua (Eropa dan Asia).

Sejak Konstantinopel dikuasai Turki Usmani, para pedagang Eropa dilarang datang ke kota itu untuk bertransaksi dengan pedagang-pedagang dari Asia. Laut Tengah kala itu pun dikuasasi oleh Turki Usmani sehingga bagi para pedagang Eropa nyaris tidak ada peluang untuk berinteraksi dengan penyuplai barang dari Timur Jauh.

Terputusnya jalur perdagangan Asia-Eropa tersebut dibarengi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa-bangsa Benua Biru. Ilmu geografi dan teknologi pelayaran kalau itu mulai maju pesat di Eropa.

Ilmu pengetahuan dan teknologi pelayaran yang berkembang pesat setelah Perang Salib membuat bangsa-bangsa Eropa berusaha menemukan jalur perdagangan lain melalui laut. Mereka juga berhasrat menemukan dunia baru di daratan-daratan yang masih misterius bagi bangsa-bangsa Eropa, terutama pulau-pulau penghasil rempah.

Pelayaran-pelayaran yang dilakukan tersebut, selain untuk mencari sumber bahan baku dari Asia yang dibutuhkan masyarakat Eropa, juga dijadikan sarana misi penyebaran agama Katolik dan Kristen. Karena itu, lahir istilah gold, glory, and gospel (3G) yang menggambarkan semangat pelayaran para penjelajah Eropa kala itu.

Sejarah Masuknya Bangsa Belanda ke Indonesia

Rute perjalanan bangsa Belanda ke Indonesia dimulai dari Amsterdam pada 2 April 1595. Dengan empat buah kapal, 64 pucuk meriam, dan 249 awak, mereka bertolak ke Pantai Barat Afrika, Tanjung Harapan, Samudra Hindia, Selat Sunda, hingga Banten.

Sejarah masuknya Belanda ke Indonesia dari latar belakang, tujuan, dan rute pelayaran. Berikut beberapa dampaknya mulai kelaparan hingga perbudakan

Empat kapal Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman tiba di perairan Banten pada 27 Juni 1596, tepat hari ini 424 tahun lalu. Sebelum angkat sauh dari Amsterdam, Cornelis mendapat informasi bahwa di timur jauh sana, ada kepulauan penghasil rempah-rempah:Nusantara.

Pada hari itulah, orang-orang Belanda telah menemukan Banten yang sejatinya hanya merupakan sebagian kecil dari kepulauan rempah-rempah paling menggiurkan di dunia. Praktik kolonialisme Belanda di Nusantara segera dimulai, dan Cornelis de Houtman adalah pembuka jalannya.

Dari Banten, rombongan ini melanjutkan pelayaran ke arah timur dengan menyusuri pantai Utara Jawa hingga ke Bali.

Cornelis menjadi salah satu orang paling berpengaruh. Selain karena berhasil mendapatkan informasi dari Portugal, termasuk pernah ditangkap dan dipenjara oleh otoritas di sana, ia juga menyumbang dana sebesar 300.000 gulden untuk persiapan pelayaran itu, sebagaimana diungkapkan Peter Fitzsimons (2012) dalam buku berjudul Batavia.

Cornelis de Houtman dikenal sebagai kapten kapal yang bertabiat buruk. Semula kedatangannya diterima oleh orang-orang Nusantara dengan tangan terbuka. Namun, ulahnya mengubah relasi itu menjadi perseteruan dan peperangan.

Meskipun begitu, rombongan de Houtman berhasil kembali ke Belanda pada 1597 dengan membawa serta banyak peti berisi rempah. Pelayaran pertama Belanda untuk mencari rempah di Nusantara kemudian dianggap sukses.

Keberhasilan rombingan de Houtman kemudian mendorong pelayaran-pelayaran lain dari Belanda menuju wilayah nusantara. Pelayaran-pelayaran yang dilakukan setelah kembalinya rombongan de Houtman dikenal dengan masa wilde vaart (pelayaran tak teratur).

Pada 1598, sebanyak 22 kapal bertolak dari Belanda untuk mengikuti langkah rombongan Cornelis de Houtman. Kapal-kapal tersebut bukan merupakan kapal kerajaan, melainkan milik perusahan-perusahaan swasta Belanda.

Salah satu rombongan di gelombang pelayaran kedua tersebut dipimpin oleh Jacob van Neck. Berbeda dengan de Houtman, van Neck bersikap lebih hati-hati dan tidak mencoba melawan para penguasa lokal Nusantara.

Pada Maret 1599, rombongan van Neck berhasil mencapai Maluku yang kala itu menjadi penghasil utama rempah-rempah dalam jumlah besar. Keberhasilan van Neck menjangkau Maluku membuatnya untung besar saat kembali ke Belanda.

Pada 1601, gelombang pelayaran menuju nusantara kembali datang dari Belanda. Sebanyak 14 buah kapal ikut dalam gelombang pelayaran ketiga ini.

Rangkaian pelayaran itu lantas diikuti dengan langkah orang-orang Belanda memonopoli perdagangan rempah di sejumlah daerah nusantara. Sejarawan M. C. Ricklefs menyebutkan kesuksesan orang-orang Belanda memonopoli perdagangan rempah di Nusantara dikarenakan mereka belajar dari kesalahan Portugis.

Sebenarnya, baik Spanyol dan Portugis mencoba merahasiakan keberadaan kepulauan Nusantara dari bangsa lain di Eropa. Namun, terdapat awak kapal asal Belanda dalam kapal Portugis yang melakukan penjelajahan. Orang-orang inilah yang membuat catatan terperinci tentang seluk-beluk strategi, kelebihan, dan kekurangan pelayaran yang dilakukan Portugis.

Sejarah masuknya Belanda ke Indonesia dari latar belakang, tujuan, dan rute pelayaran. Berikut beberapa dampaknya mulai kelaparan hingga perbudakan

Tiga gelombang pelayaran orang-orang Belanda ke Nusantara membuat terdapat beberapa perusahaan dagang yang saling bersaing di Nusantara. Akibatnya, keuntungan perdagangan rempah di pasar Eropa berkurang.

Untuk menanggulangi dampak persaingan tersebut, pada 1602, dibentuklah Vereenig de Oost Indische Compagnie (VOC) sebagai perserikatan dagang Belanda. Lewat VOC, perusahaan dagang swasta bersatu dan menghilangkan persaingan sesama pedagang Belanda.

Berdirinya VOC juga menjadi tonggak dominasi Belanda di nusantara. Setelah berhasil memonopoli perdagangan rempah, menguasai Batavia dan sebagian Jawa, hingga mengendalikan raja-raja lokal, VOC menjadi representasi awal dari kolonialisme Belanda di nusantara.

Dampak Kedatangan Belanda ke Indonesia

Ada banyak dampak yang ditimbulkan dari kedatangan Belanda ke Indonesia baik secara positif maupun negatif. Namun, dampak positif yang ditimbulkan mungkin tidak sebanding dengan dampak negatif yang ditimbulkan.

Berikut ini beberapa contoh dampak kedatangan bangsa Belanda ke Indonesia:
  • Penderitaan perang dan kekerasan.
  • Kemiskinan dan kelaparan.
  • Perbudakan.
  • Pemerasan tenaga rakyat Indonesia.
  • Pengerukan kekayaan alam di nusantara.
  • Perubahan gaya hidup dan cara bergaul.
  • Pendirian bangunan gaya kolonial.

Sejarah Bangsa Portugis di Indonesia - Proses dan Rute

Sejarah Kedatangan Bangsa Portugis ke Indonesia: Proses dan Rute
Sejarah Kedatangan Bangsa Portugis ke Indonesia: Proses dan Rute
Ilustrasi kapal Portugis saat menjelajahi lautan.

Sejarah kedatangan bangsa Portugis ke Indonesia bila dilihat dari sisi proses dan rutenya sangat menarik untuk disimak. Lain itu, memahami sejarah kedatangan bangsa Portugis ke Indonesia sangat penting ketika membahas tentang penjelajahan bangsa Eropa ke Tanah Air.

Kedatangan bangsa Portugis di Indonesia pertama kali terjadi pada tahun 1511 Masehi, dengan dipimpin Alfonso de Albuquerque. Sejarah mencatat orang-orang Portugis merupakan bangsa Eropa pertama yang memasuki wilayah Nusantara, tepatnya di Kesultanan Malaka.

Tujuan mereka ialah untuk mencari lokasi penghasil rempah-rempah, memonopoli perdagangan rempah di nusantara, dan menyebarkan agamanya. Tujuan ini biasa terangkum dalam semboyan 3G, yakni Gold (mencari kekayaan), Glory (mencari kejayaan dan kekuasaan), dan Gospel (menyebarkan agama).

Tujuan mereka ialah untuk mencari lokasi penghasil rempah-rempah, memonopoli perdagangan rempah di nusantara, dan menyebarkan agamanya. Tujuan ini biasa terangkum dalam semboyan 3G, yakni Gold (mencari kekayaan), Glory (mencari kejayaan dan kekuasaan), dan Gospel (menyebarkan agama).

Sejak abad 15, bangsa Portugis telah menjelajahi lautan dan memiliki armada laut yang kuat. Ketika mengetahui di Asia Timur Jauh terdapat tanah yang kaya akan rempah, Raja Manuel I memanggil Vasco da Gama, seorang pelaut berpengalaman asal Portugis untuk melakukan ekspedisi menjelajahi samudera.

1. Proses Kedatangan Bangsa Portugis ke Indonesia

Seperti dikutip dari Modul Sejarah Indonesia Kelas XI SMA (2017), terbitan Kemdikbud, ekspedisi yang dipimpin Vasco da Gama dimulai pada bulan Juli 1497 dari pelabuhan Lisabon.

Rombongan kapal-kapal itu berusaha mencari wilayah sumber rempah-rempah (nusantara) lewat rute penjelajahan samudra bangsa Portugis yang pernah dilalui Bartholomeus Diaz. Nama terakhir merupakan penjelajah Portugis yang berhasil mencapai ujung paling selatan Benua Afrika dan singgah di Tanjung Harapan.

Sejarah Kedatangan Bangsa Portugis ke Indonesia: Proses dan Rute

Rombongan kapal yang dipimpin oleh Vasco da Gama mengawali penjelajahannya dengan menuju kawasan yang kini menjadi wilayah Afrika Selatan itu. Di Tanjung Harapan, Vasco da Gama menyewa pelaut bangsa Moor, yang pernah berlayar ke Asia Timur Jauh, untuk menjadi penunjuk arah.

Pada tahun 1498, rombongan Vasco da Gama berhasil mencapai Kalikut dan Goa, yang merupakan wilayah India. Vasco da Gama kemudian tinggal di India karena mengira daerah tersebut adalah Hindia Timur, negeri penghasil rempah. Namun, setelah tinggal beberapa tahun dia menyadari bahwa tempat tersebut bukan penghasil rempah-rempah yang sebenarnya.

Maka itu, Portugis lantas memberangkatkan ekspedisi lanjutan di bawah pimpinan Alfonso de Albuquerque untuk menuju wilayah Malaka. Armada Portugis itu berangkat ke Malaka dengan menggunakan kapal yang dilengkapi dengan peralatan perang yang lengkap, seperti senapan dan meriam.

Pada tahun 1511, armada Portugis berhasil menguasai Malaka, dan mulai memasuki wilayah Kepulauan Nusantara yang mereka sebut sebagai tanah India (Hindia). Orang-orang Portugis pun segera mengetahui bahwa Kepulauan Nusantara merupakan tanah penghasil rempah-rempah, terutama wilayah Maluku.

Merujuk pada Modul Pembelajaran SMA Kelas XI Sejarah Indonesia (2020), yang diterbitkan Kemdikbud, setelah menguasai Malaka, Portugis mengirim ekspedisi lanjutan di bawah pimpinan Antonio de Abreu untuk mendatangi kawasan Indonesia Timur, wilayah yang kala itu kaya akan rempah-rempah.

Pada tahun 1512, mereka telah sampai di Maluku dan diterima dengan baik oleh Sultan Ternate. Pada waktu itu, Kesultanan Ternate sedang bermusuhan dengan Tidore. Sultan Ternate meminta pasukan Portugis yang memiliki persenjataan lengkap untuk membantu mereka melawan Tidore. Sebagai imbalan, Portugis di izinkan mendirikan benteng dan mendapatkan hak monopoli perdagangan rempah-rempah di wilayah yang dikuasai Ternate.

Dari Ternate, armada Portugis berhasil menguasai perdagangan rempah-rempah, terutama yang berasal dari Indonesia Timur. Mereka kemudian melakukan ekspedisi lanjutan di tahun 1522 ke wilayah Pajajaran yang ada di Pulau Jawa.

Selain mengadakan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku, Portugis juga aktif menyebarkan agama Katolik. Tokoh penyebar agama Katolik dari Portugis yang terkenal adalah Franciscus Xaverius.

2. Rute Kedatangan Bangsa Portugis ke Indonesia

Elaine Sanceau dalam Good Hope: the Voyage of Vasco Da Gama (1967) mengungkapkan, perjalanan Vasco da Gama dimulai melalui rute Tanjung Harapan, Afrika. Mereka selanjutnya mengembangkan layar menuju Lautan Hindia. Tahun 1498, Vasco da Gama beserta awak kapalnya tiba di Goa, pantai sebelah barat India.

Rombongan Portugis berikutnya dipimpin oleh Alfonso de Albuquerque untuk melanjutkan upaya dari Vasco da Gama. Pelayaran Alfonso de Albuquerque akhirnya sampai di Malaka, kawasan barat Nusantara. Kemudian, berlanjut dengan ekspedisi Antonio de Abreu yang dapat mencapai wilayah sumber rempah-rempah, yakni Maluku, pada tahun 1512.

Sejarah Kedatangan Bangsa Portugis ke Indonesia: Proses dan Rute

Dengan kata lain rute penjelajahan samudra bangsa Portugis ke Indonesia ialah dari Pelabuhan Lisabon (ibu kota Portugal), para penjelajah Portugis menuju Tanjung Harapan (Afrika Selatan), lalu ke India (Kalkut), kemudian ke Malaka, dan akhirnya sampai di Maluku.

Jika diringkas, rute penjelajahan samudra bangsa Portugis ke Indonesia adalah: Lisabon-Tanjung Harapan-India-Malaka-Maluku.

3. Tujuan Bangsa Portugis ke Indonesia

Tujuan utama ekspedisi Portugis itu mencari rempah-rempah yang menjadi barang mahal di Eropa. Bangsa Barat menggunakan rempah-rempah sebagai bahan baku obat, parfum, dan yang paling penting adalah untuk pengawet makanan dan bumbu masakan. Pengawetan makanan termasuk kebutuhan vital di Eropa saat musim dingin tiba.

Rombongan Alfonso de Albuquerque ternyata membawa ambisi yang jauh lebih besar daripada sekadar kulakan rempah-rempah. Orang-orang Portugis tersebut segera menyerbu Kesultanan Malaka dan merebut wilayah yang memungkinkan mereka melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah.

Sejarah Kedatangan Bangsa Portugis ke Indonesia: Proses dan Rute

Mereka bisa melakukan monopoli itu karena menguasai pelabuhan penting di selat Malaka, jalur laut utama yang menghubungkan wilayah Nusantara dengan dunia luar. Tidak heran, setelah Portugis menguasai Malaka di tahun 1511, banyak pihak menentang mereka.

Salah satunya adalah Kesultanan Demak dari Pulau Jawa yang mengirim armada laut ke Malaka pada tahun 1512 untuk memerangi orang-orang Portugis. Serangan yang dipimpin Pati Unus itu ternyata gagal mengusir Portugis.

Karena memiliki persenjataan yang lebih lengkap dan maju secara teknologi, Portugis selalu berhasil meredam setiap perlawanan yang dilakukan oleh kerajaan-kerajaan di Nusantara. Hal itu pun membuat Portugis semakin kuat dan berusaha untuk terus memperluas daerah kekuasaannya di wilayah yang kini menjadi Indonesia.

10 Pahlawan Nasional Indonesia 2025

10 Pahlawan Nasional Indonesia 2025
10 Pahlawan Nasional Indonesia 2025: Biografi, Foto, dan Perjuangannya Lengkap

Peringatan Hari Pahlawan Nasional 2025 diwarnai dengan penetapan sepuluh tokoh baru sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto pada Minggu (10/11). Daftar penerima gelar tahun ini mencerminkan keberagaman peran dan latar belakang, mulai dari pemimpin bangsa, ulama, hingga aktivis buruh.

Mereka adalah Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Jenderal Besar Soeharto, Marsinah, Prof. Mochtar Kusumaatmadja, Hj. Rahmah El Yunusiyah, Sarwo Edhie Wibowo, Sultan Muhammad Salahuddin, Syaikhona Kholil Bangkalan, Tuan Rondahaim Saragih, dan Zainal Abidin Syah. Penganugerahan ini menjadi momen reflektif bagi bangsa untuk menegaskan kembali makna kepahlawanan di era modern.

Penetapan sepuluh tokoh pahlawan nasional tahun ini menjadi momentum refleksi bagi masyarakat, khususnya dunia pendidikan, untuk menanamkan nilai pengabdian, keberanian moral, dan semangat kebangsaan di tengah dinamika zaman digital.

Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang melupakan masa lalu, tetapi bangsa yang belajar darinya. “Kekuasaan datang dan pergi, tetapi pengabdian dan kebijaksanaan akan selalu tinggal dalam sejarah manusia yang berbangsa”.

Sementara itu, Menteri Kebudayaan sekaligus Ketua Dewan GTK, Fadli Zon menuturkan bahwa, seluruh nama yang diajukan berasal dari usulan masyarakat. Dalam kajian tim peneliti, Soeharto dinilai memiliki peran signifikan dalam menciptakan kestabilan ekonomi, swasembada pangan, dan memperkuat diplomasi Indonesia di dunia Internasional.

“Soeharto berhasil membawa Indonesia mencapai pertumbuhan ekonomi yang stabil, serta mengokohkan peran negara di tingkat global. Itu yang menjadi dasar utama pemberian gelar ini,” ungkapnya.

Ia menegaskan, keputusan ini diambil berdasarkan kajian sejarah dan bukti dokumenter, bukan atas pertimbangan politik. “Kita bicara fakta sejarah dan kontribusi nyata, bukan persepsi atau asumsi,” tambahnya. Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional tersebut ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 116/TK Tahun 2025 mengenai Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Berikut 10 tokoh yang dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional 2025:

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)-Jawa Timur

Lahir: Jombang, 7 September 1940

Wafat: Jakarta, 30 Desember 2009

Gelar Pahlawan: 2025

Biografi:
Mengutip dari situs resmi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Dr.(H.C.) K. H. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 dan wafat di Jakarta, 30 Desember 2009 pada usia 69 tahun. Beliau adalah tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia keempat dari tahun 1999 hingga 2001 menggantikan Presiden B.J. Habibie.

Gus Dur menikah dengan Sinta Nuriyah pada 11 September 1971. Mereka dikaruniai empat orang putri, yaitu Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenny) Wahid, Anita Hayatunnufus Wahid, Inayah Wulandari Wahid dan Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid.

Masa kepresidenan Abdurrahman Wahid dimulai pada 20 Oktober 1999 dan berakhir pada Sidang Istimewa MPR pada tahun 2001. Beliau adalah mantan ketua Tanfidziyah (badan eksekutif) Nahdlatul Ulama (NU) dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Beliau dikenal sebagai sosok yang unik karena dalam dirinya melekat berbagai predikat, baik sebagai pemimpin ormas terbesar, pejuang demokrasi, tokoh intelektual papan atas, tokoh LSM, tokoh pluralisme, maupun sebagai tokoh agama (kiai).

Jenderal Besar TNI (Purn) H.M. Soeharto

Lahir: Kemusuk Yogyakarta, 8 Juni 1921

Wafat: Jakarta, 27 Januari 2006

Gelar Pahlawan: 2025

Biografi:
Menurut situs Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Jenderal Besar TNI (Purn) HM. Soeharto adalah Presiden kedua Republik Indonesia. Beliau lahir di Kemusuk, Yogyakarta, tanggal 8 Juni 1921 dari pasangan Kertosudiro dan Sukirah.

Beliau resmi menjadi anggota TNI pada 5 Oktober 1945. Soeharto menikah dengan Siti Hartinah pada 26 Desember 1947 di Solo. Mereka dikaruniai enam putra dan putri, yaitu Siti Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra dan Siti Hutami Endang Adiningsih.

Di kemiliteran, Soeharto memulainya dari pangkat sersan tentara KNIL, kemudian komandan PETA, komandan resimen dengan pangkat Mayor dan komandan batalyon berpangkat Letnan Kolonel. Pada tahun 1949, dia berhasil memimpin pasukannya merebut kembali kota Yogyakarta dari tangan penjajah Belanda saat itu. Beliau juga pernah menjadi Pengawal Panglima Besar Sudirman serta menjadi Panglima Mandala (pembebasan Irian Barat).

Soeharto meninggal dunia pada Minggu, 27 Januari 2006. Ia wafat pada pukul 13.10 siang dalam usia 87 tahun.

Marsinah (Jawa Timur)

Lahir: Nganjuk Jawa Timur, 10 April 1969

Wafat: Jawa Timur, 8 Mei 1993

Gelar Pahlawan: 2025

Biografi:
Mengutip situs resmi Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Marsinah lahir pada 10 April 1969 di Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur. Pada 1989, Ia merantau ke Surabaya untuk bekerja di pabrik plastik SKW di Kawasan Industri Rungkut, lalu sempat bekerja di sebuah perusahaan pengemasan barang hingga akhirnya berpindah ke Sidoarjo dan bekerja di PT CPS pada 1990.

Selama bekerja di PT CPS, Marsinah adalah sosok yang vokal dalam memperjuangkan nasib dan hak dari rekan-rekannya. Ia juga terlibat dalam kegiatan aktivis organisasi buruh Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) unit kerja PT CPS.

Tragedi keji yang menimpa Marsinah berawal dari unjuk rasa dan pemogokan kerja yang dilakukan oleh Marsinah dan rekannya pada 3-4 Mei 1993. Saat unjuk rasa, mereka mengajukan 12 tuntutan.

Setelah itu, pada tanggal 5 Mei 1993, Marsinah hilang tanpa kabar setelah mengunjungi rumah rekannya. Lalu, pada 8 Mei 1993, jasad Marsinah ditemukan dengan kondisi yang mengenaskan. Diduga, Marsinah dianiyaya karena saat ditemukan, jasadnya penuh dengan luka dan tubuhnya kaku membiru.

Mochtar Kusumaatmadja (Jawa Barat)

Lahir: Jakarta, 17 Februari 1929

Wafat: Jakarta, 6 Juni 1921

Gelar Pahlawan: 2025

Biografi:
Melansir situs resmi Universitas Padjajaran (Unpad), Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H., LL.M. lahir di Jakarta pada 17 Februari 1929. Setelah tamat SMA, Mochtar Kusumaatmadja melanjutkan sekolah ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia, dan setelah menyelesaikan jenjang sarjananya, pada 1956, Prof. Mochtar Kusumaatmadja melanjutkan pendidikannya di Universitas Yale, Amerika Serikat.

Gelar doktornya diperoleh dari Universitas Padjadjaran pada tahun 1962. Pada tahun 1964, Prof. Mochtar Kusumaatmadja melanjutkan pendidikannya (post doctor) di Harvard Law School, Amerika Serikat. Setelahnya, Prof. Mochtar Kusumaatmadja menempuh pendidikan di University of Chicago. Pada 1970, Prof. Mochtar Kusumaatmadja mendapat gelar profesor dari Unpad.

Mengutip situs Sekretariat Kabinet (Setkab) RI, Mochtar pernah menjabat sebagai Menteri Kehakiman dari tahun 1974 sampai 1978, dan Menteri Luar Negeri dua periode dari tahun 1978 sampai 1988. Ia kerap mewakili Indonesia di PBB dan perundingan-perundingan internasional, terutama mengenai batas darat dan batas laut teritorial.

Prof. Mochtar Kusumaatmadja wafat pada 6 Juni 2021 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Hajjah Rahmah El Yunusiyah (Sumatera Barat)

Lahir: Nagari Bukit Surungan Padang, 26 Oktober 1900

Wafat: Padang Panjang, 26 Februari 1969

Gelar Pahlawan: 2025

Biografi:
Mengutip situs Kementerian Agama (Kemenag) RI, Rahmah El Yunusiyah yang lahir pada tahun 1900 merupakan pendiri Perguruan Diniyah Putri. Rahmah menggagas lahirnya madrasah Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang pada 1 November 1923 dilatarbelakangi cita-cita dan kepedulian untuk mengangkat harkat dan derajat kaum perempuan.

Di masa revolusi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, Rahmah terjun ke medan perjuangan fisik. Ia menjadi Bundo Kanduang dari barisan Sabilillah dan Hizbullah di Sumatera Barat. Dalam masa revolusi kemerdekaan, Perguruan Diniyah Putri memberikan andil perjuangan dengan sarana yang dimilikinya untuk mendukung perjuangan kemerdekaan bangsa.

Rektor Universitas Al-Azhar Cairo Dr. Syekh Abdurrahman Taj di tahun 1955 mengunjungi Indonesia dan meninjau Diniyah Putri Padang Panjang. Pemimpin tertinggi Al-Azhar itu terkesan dengan pendidikan Diniyah Putri. Di Mesir, belum ada sekolah khusus untuk perempuan.

Rahmah diundang ke Universitas Al-Azhar untuk membentangkan pengalamannya membangun pendidikan Islam di Indonesia. Pemimpin Diniyah Putri Rahmah El Yunusiyah adalah ulama perempuan pertama yang dianugerahi gelar kehormatan "Syaikhah" dari Universitas Al-Azhar Cairo.

Sistem dan pola pendidikan Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang menginspirasi Universitas Al-Azhar hingga mendirikan Kulliyatul Banat yakni fakultas khusus untuk perempuan. Pada tahun 1958, untuk pertama kali alumni Diniyah Putri mendapat beasiswa melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar Cairo, antara lain Isnaniyah Saleh dan Zakiah Daradjat.

Pahlawan pendidikan Islam itu meninggal pada malam takbiran Hari Raya Idul Adha tanggal 26 Februari 1969 di Padang Panjang. Rumah kediamannya sekarang menjadi Museum Rahmah El Yunusiyah.

Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo

Lahir: Pangenjuru, Purworejo, 25 Juli 1927

Wafat: Purworejo, 9 November 1989

Gelar Pahlawan: 2025

Biografi:
Sarwo Edhie Wibowo adalah seorang tokoh militer Indonesia. Ia adalah ayah dari Kristiani Herrawati, ibu negara Republik Indonesia, yang merupakan istri dari Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Ia juga ayah dari mantan KSAD, Pramono Edhie Wibowo. Ia memiliki peran yang sangat besar dalam penumpasan Pemberontakan Gerakan 30 September dan bertanggungjawab terhadap Genosida 1965 di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Timur dalam posisinya sebagai panglima RPKAD (atau disebut Kopassus pada saat ini). Selain itu ia pernah menjabat juga sebagai Ketua BP-7 Pusat, Duta besar Indonesia untuk Korea Selatan serta menjadi Gubernur AKABRI.

Karier Sarwo Edhie di ABRI, dia pernah menjadi Komandan Batalion di Divisi Diponegoro (1945—1951), Komandan Resimen Divisi Diponegoro (1951—1953), Wakil Komandan Resimen di Akademi Militer Nasional (1959—1961), Kepala Staf Resimen Pasukan Komando (RPKAD) (1962—1964), dan Komandan RPKAD (1964—1967).

RPKAD adalah usaha Indonesia untuk menciptakan sebuah unit pasukan khusus (yang kemudian akan menjadi Kopassus) dan pengangkatan Sarwo Edhie sebagai komandan unit elit ini berkat Ahmad Yani. Pada tahun 1964, Yani telah menjadi Kepala Staf Angkatan Darat dan menginginkan seseorang yang bisa dia percaya sebagai Komandan RPKAD.

Sultan Muhammad Salahuddin (NTB)

Lahir: Bima, 14 Juli 1889

Wafat: Jakarta, 11 Juli 1951

Gelar Pahlawan: 2025

Biografi:
Tokoh yang memegang peran utama dalam Perkembangan sejarah Bima pada awal abad XX adalah salah seorang putra sultan Ibrahim (Sultan XIII) dengan permaisurinya Siti Fatimah Binti Lalu Yusuf Ruma Sakuru yaitu Sultan Muhammad Salahuddin. Lahir di Bima pada tanggal 15 Zulhijah 1306 H (14 Juli 1889), memiliki 11 orang saudara.

Sultan Muhammad Salahuddin naik takhta memimpin Kesultanan Bima menggantikan ayahandanya pada 16 Desember 1917. Sultan Muhammad Salahuddin menjadi Raja Kerajaan Bima ke-38 dan Sultan Bima ke-14 yang memerintah Kesultanan Bima dari 1917-1951. Sultan Muhammad Salahuddin wafat di RS Cikini, Jakarta, pada Kamis 11 Juli 1951 sekira pukul 22.00 WIB. Sultan Muhammad Salahuddin dimakamkan dengan upacara kenegaraan, setelah disemayamkan di Gedung Proklamasi kemerdekaan Pegangsaan Timur 56 Jakarta.

Salah satu kebijakan Sultan Muhammad Salahuddin yang patut dihargai ialah memberikan beasiswa kepada pelajar yang berprestasi untuk belajar ke Makasar dan kota-kota besar di Jawa, bahkan ada yang di kirim ke timur tengah. Pelajar yang diberi beasiswa benar-benar berdasarkan prestasi dengan tidak mempertimbangkan status sosial dan jenis kelamin. Setelah kembali ke Bima, mereka tampil sebagai pemimpin dan tokoh perjuangan pada masa revolusi kemerdekaan.

Syaikhona Muhammad Kholil (Jawa Timur)

Lahir: Madura Jawa Timur, 25 Mei 1835

Wafat: Jawa Timur, 23 April 1925

Gelar Pahlawan: 2025

Biografi:
Syaikhona Muhammad Kholil lahir pada malam Kamis, 9 Safar 1225 H atau bertepatan dengan 25 Mei 1835 M, di Kampung Senenan, Kemayoran, Bangkalan, Madura.

Keturunan dari Said Sulaiman, cucu Sunan Gunung Jati, ini tumbuh dalam tradisi keilmuan yang kuat. Ia merupakan keturunan Said Sulaiman, cucu Sunan Gunung Jati, yang nasabnya bersambung hingga Rasulullah SAW. Tanggal kelahirannya dikonfirmasi melalui manuskrip tulisan tangan beliau sendiri, sebagaimana diungkap dalam Seminar Nasional bertema Pejuang Kultural, Guru Besar Pahlawan Nasional di Gedung Nusantara V DPR/MPR RI.

Jejak intelektual Syaikhona Muhammad Kholil dimulai dari pesantren-pesantren besar di Jawa Timur: Langitan Tuban, Cangaan Bangil, Sidogiri Pasuruan, hingga Stail.

Pada 1843, ia menimba ilmu ke Makkah dari para ulama besar seperti Syaikh Nawawi Al-Bantani dan Syaikh Ahmad Zayni Dahlan. Dari sana, ia pulang membawa semangat keilmuan dan kebangsaan yang kelak menjadi ruh perjuangan para santri.

Banyak muridnya yang kemudian menjadi tokoh-tokoh besar bangsa. Sebut saja mulai Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, hingga KH As’ad Syamsul Arifin adalah di antara santri yang telah dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf, dalam sebuah kesempatan beberapa waktu lalu, menyatakan Syaikhona Kholil memenuhi syarat untuk mendapatkan gelar pahlawan. Tak hanya Gus Ipul, sapaan akrab Saifullah Yusuf, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar, ketika itu, pada Maret 2021, menegaskan bahwa usulan pemberian gelar pahlawan kepada Syaikhona Kholil merupakan kepantasan.

"Ini adalah merupakan bentuk penghormatan atas jasa-jasanya terhadap bangsa Indonesia," ujar Abdul Halim, seraya menambahkan, Syaikhona Kholil telah diakui sebagai guru bangsa dan guru dari para pahlawan nasional.

Tuan Rondahaim Saragih Garingging (Sumatera Utara)

Lahir: Sumatera Utara, Tahun 1828

Wafat: Sumatera Utara, Tahun 1891

Gelar Pahlawan: 2025

Biografi:
Presiden Prabowo Subianto secara resmi mengumumkan gelar Pahlawan Nasional kepada sejumlah tokoh di Istana Negara, Jakarta, pada Senin kemarin. Upacara penganugerahan ini digelar bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional.

Diantara nama-nama yang dianugerahi pahlawan nasional oleh Prabowo, terdapat nama Tuan Rondahaim Saragih Garingging. Seorang tokoh dari Sumatera Utara atau tepatnya berasal dari tanah Simalungun. Tuan Rondahaim Saragih Garingging gelar Raja Raya Namabajan lahir tahun 1828 dan meninggal pada 1891. Merupakan penguasa Partuanan Raya ke-14 yang kini merupakan ibukota dari Kabupaten Simalungun.

Oleh pemerintahan kolonial Belanda, beliau diberi julukan Napoleon der Batak yang memiliki arti Napoleon nya orang-orang Batak, karena perlawanannya hingga akhir hayat terhadap upaya penaklukan Raya oleh Belanda. Selama berkuasa, Tuan Rondahaim aktif menentang pendudukan oleh Pemerintah Kolonial Belanda di daerah Sumatera Timur.

Diketahui bahwa Partuanan Raya tercatat tidak pernah takluk kepada Belanda pada masa pemerintahan Tuan Rondahaim Saragih Garingging hingga akhir hayatnya. Pertempurannya melawan upaya pendudukan Belanda terhadap wilayah kekuasaannya, antara lain terjadi pada 21 Oktober 1887 di Dolok Merawan dan 12 Oktober 1889 di Bandar Padang.

Gelar Pahlawan Nasional yang diberikan kepada Tuan Rondahaim Saragih sendiri merupakan bentuk penghargaan atas jasa dan perjuangannya di bidang perjuangan bersenjata dalam mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa. Penganugerahan ini diharapkan menjadi motivasi bagi masyarakat khususnya di Sumatera Utara, untuk terus memupuk semangat kebersamaan dan persatuan demi kemajuan bangsa dan negara. Sekaligus sebagai pengingat akan jasa para pahlawan yang telah berjuang demi Indonesia.

Zainal Abidin Syah Alting (Maluku Utara)

Lahir: Soasio, 5 Agustus 1912

Wafat: Ambon, 4 Juli 1967

Gelar Pahlawan: 2025

Biografi:
Zainal Abidin Syah merupakan Sultan Tidore periode 1947—1967, ia mempunyai peranan penting di dalam sejarah perebutan kembali Papua Barat. Pada tanggal 17 Agustus 1956 Presiden Soekarno mengumumkan pembentukan Propinsi Perjuangan Irian Barat dengan Ibu kota sementara di Soa-Sio Tidore. Keputusan tersebut diambil oleh Presiden Soekarno dengan alasan Papua serta pulau-pulau sekitarnya merupakan wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore sejak ratusan tahun lalu. Sultan Zainal Abidin Syah kemudian ditetapkan sebagai Gubernur sementara propinsi perjuangan Irian Barat pada tanggal 23 September 1956 di Soa-Sio Tidore (SK Presiden RI No. 142/ Tahun 1956, Tanggal 23 September 1956). Selanjutnya sesuai SK Presiden RI No. 220/ Tahun 1961, Tanggal 4 Mei 1962, ia ditetapkan sebagai gubernur tetap Propinsi Irian Barat. Sebagai gubernur Sultan Zainal Abidin Syah diperbantukan pada Operasi Mandala di Makassar (TRIKORA) Perjuangan Pembebasan Irian Barat.

Sultan Zainal Abidin Syah memegang jabatan gubernur Irian Barat sampai tahun 1961, Selanjutnya beliau menetap di Ambon hingga wafat pada tanggal 4 Juli 1967 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kapahaha Ambon, selanjutnya pada tanggal 11 Maret 1986, pihak keluarga kesultanan Tidore memindahkan kerangka Sultan Zainal Abidin ke Soa Sio Tidore dan disemayamkan di Sonyine Salaka (Pelataran Emas) Kedaton Kie Soa-Sio Kesultanan Tidore.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang senantiasa menghargai dan mengenang jasa para pahlawannya, sebagai fondasi kokoh bagi kemajuan dan martabat negeri.”

Profil Pahlawan Nasional Soeharto

Profil Pahlawan Nasional Soeharto

Gelar Pahlawan Nasional 2025 Presiden Ke-2 Republik Indonesia Jenderal Besar HM. Soeharto

Profil Pahlawan Nasional Soeharto
Jenderal Besar (TNI) HM Soeharto

Soeharto yang merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Dengan latar belakang sebagai anak petani yang sederhana, Soeharto berhasil meraih posisi tertinggi sebagai Presiden Ke-2 Republik Indonesia. Soeharto tumbuh dalam keluarga petani sederhana dan hidup dalam lingkungan yang penuh dengan nilai-nilai tradisional.

Biografi dan Karier Politik

Nama LengkapH.Muhammad Soeharto
Nama panggilanSoeharto
Tempat dan tanggal lahir Desa Kemusuk, Yogyakarta, 8 Juni 1921
AgamaIslam
Orang TuaKertosudiro (Ayah) dan Sukirah (Ibu)
Pendidikan
  • Sekolah Dasar (SD) Puluhan, Godean Sleman dan Sekolah Dasar Pedes, Bantul
  • Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah, Yogyakarta
  • Militer Koning Willem III (sekarang Akademi Militer Magelang)
Karier Politik
  • Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat ke-1 (1961-1965)
  • Ketua Presidium Kabinet Indonesia (1966-1967)
  • Kepala Badan Intelijen Negara ke-3 (1965–1966)
  • Menteri/Panglima Angkatan Darat ke-7 (1965–1968)
  • Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban ke-1 dan ke-5 (1965–1969)
  • Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia ke-5 (1968–1973)
  • Menteri Pertahanan Keamanan Republik Indonesia ke-13 (1966-1973
  • Sekretaris Jenderal Gerakan Non-Blok ke-16 (1992-1995)
  • Penjabat Presiden Indonesia (1967-1968)
  • Presiden Republik Indonesia ke-2 (1968-1998)
Pasangan dan Anak-anak
  • Raden Ajeng Siti Hartinah (Menikah 1947)
  • Anak: Siti Hardijanti Rukmana, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Hariyadi, Hutomo Mandala Putra, Siti Hutami Endang Adiningsih
Kota asalDusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta

Pak Harto adalah Presiden RI kedua (1968-1998), dengan masa jabatan yang paling lama menjabat yaitu 32 tahun, jabatan terlama sepanjang sejarah republik ini yakni. Beliau populer dengan sebutan Bapak Pembangunan karena pada masa jabatannya, Indonesia dinilai mengalami industrialisasi yang signifikan, pertumbuhan ekonomi, peningkatan taraf pendidikan, dan kebangkitan kewirausahaan.

Pak Harto telah merintis karier di militer sejak masa penjajahan Belanda dan turut berperan aktif dalam episode sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949 serta Komando Mandala Pembebasan Irian Barat. Beliau adalah salah satu dari tiga figur di Indonesia yang mendapat pangkat Jenderal Besar, pangkat tertinggi di TNI AD (bersama Jenderal Sudirman dan Jenderala Abdul Haris Nasution).

Beliau adalah pencetus ide fusi parpol pada tahun 1973, yakni penyederhanaan jumlah partai politik peserta Pemilu menjadi tiga yaitu: PDI, PPP dan Golkar.

Beberapa peninggalan monumental era Pak Harto diantaranya: ASEAN, Integrasi Timor Timur, TMII, Bandara Soekarno-Hatta, jalan tol Jagorawi, program Repelita, program Keluarga Berencana dan lain sebagainya.

Masa Kecil Soeharto

Soeharto merupakan seseorang yang lahir di Yogyakarta, lebih tepatnya di desa Kemusuk, Argomulyo. Soeharto lahir pada tanggal 8 Juni 1921. Ketika lahir, Soeharto bisa dikatakan sebagai keluarga yang kurang mampu.

Soeharto adalah seorang anak yang lahir dari ayah yang bernama Kertosudiro dan ibu yang bernama Sukirah. Ayah Soeharto merupakan seorang petani di desanya dan seorang pembantu lurah dalam mengairi persawahan desa.

Saat Soeharto belum berusia 40 hari, sang ibu menitipkan anaknya kepada kakek atau Mbah Kromo. Nama asli Mbah Kromo adalah Kromodiryo yang di mana ia merupakan seorang dukun bayi yang membantu proses kelahiran Soeharto.

Soeharto tinggal di rumah Mbah Kromo bisa dibilang cukup lama sekitar empat tahun. Selama empat tahun itulah, Soeharto bisa merasakan dan mendapatkan kasih sayang seperti orang tua yang diberikan oleh Mbah Kromo. Dari rumah Mbah Kromo juga, Soeharto bisa belajar berdiri bahkan sampai bisa berjalan.

Saat masih anak-anak, Soeharto sering sekali diajak Mbah Kromo pergi ke sawah. Soeharto sangat senang karena ketika di sawah ia bisa bermain membalik-balikkan, memberikan perintah kepada kerbau ketika membajak sawah.

Soeharto lihai memberikan instruksi seperti maju, belok kiri, belok kanan, dan ia juga sangat suka bermain air dan mandi di atas lumpur. Selain itu, hal yang paling senang ia lakukan adalah mencari dan menangkap belut atau ikan. Oleh karena itu, sampai dengan masa tuanya, Soeharto masih sangat gemar atau memiliki hobi memancing ikan.

Orang tua Soeharto berpisah, kemudian ibu Soeharto (Sukirah) menikah lagi dengan seorang laki-laki yang bernama Atmopawiro dan memiliki tujuh orang anak. Sedangkan, ayah kandung Soeharto (Kertosudiro) juga menikah lagi dan mempunyai empat orang anak.

Setelah sekian lama atau kurang lebih selama empat tahun tinggal bersama di rumah Mbah Kromo, sang ibu Soeharto (Sukirah) mengambil anaknya dan dibawa pulang ke rumah ayah tiri Soeharto (Atmopawiro).

Terkadang beberapa kali, ayah kandung Soeharto datang untuk melihat keadaan anaknya. Hingga pada suatu waktu, Soeharto sangat senang kedatangan ayah kandungnya karena dibawakan seekor kambing.

Pendidikan Soeharto

Saat berusia delapan tahun, Soeharto baru masuk sekolah dasar, tetapi ia beberapa pindah sekolah. Pada awal masuk sekolah, Soeharto bersekolah di Sekolah Dasar (SD) Puluhan, Godean. Namun, ketika ibu dan ayah tirinya pindah rumah ke Kemusuk Kidul maka Soeharto juga pindah sekolah ke Sekolah Dasar (SD) Pedes.

Kekhawatiran Kertosudiro (ayah kandung Soeharto) akan masa depan anaknya maka ia menitipkan Soeharto kepada keluarga Prawirowihardjo yang bertempat tinggal di Wuryantoro, Purwodadi, Jawa Tengah.

Prawirowiharjo merupakan suami dari adik Kertosudiro atau adik ipar Kertosudiro. Prawirowiharjo merupakan seorang mantri tani dan ayahnya adalah seorang pengusaha yang sudah terkenal yaitu Sudwikatmono.

Saat tinggal bersama bibi dan pamannya, Soeharto sangat senang karena sering diajak ke sawah oleh pamannya sehingga ia perlahan-lahan bisa mengerti seluk beluk tentang dunia pertanian. Untuk melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP), Soeharto memilih untuk pulang ke kampung halamannya di Kemusuk.

Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah di Yogyakarta merupakan lembaga pendidikan yang dipilih oleh Soeharto setelah tamat Sekolah Dasar (SD). Untuk menempuh jarak ke sekolah, ketika berangkat dan pulang sekolah Soeharto menggunakan sepeda yang hampir rusak.

Setelah tamat dari SMP, Soeharto ingin sekali melanjutkan pendidikannya ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun, karena keadaan ekonomi keluarga dan keterbatasan biaya yang dimiliki oleh orang tuanya membuat Soeharto harus mengurungkan niatnya itu.

Soeharto sempat mendapatkan dua surat panggilan kerja yang terjadi pada sekitar tahun 1939, surat pertama merupakan surat panggilan dari bank dan surat kedua merupakan surat panggilan dari lembaga ketentaraan. Dan akhirnya yang dipilih oleh Soeharto adalah berkarir di dunia militer.

Pernikahan Soeharto

Saat berusia 26 tahun, Soeharto menikahi Siti Hartinah yang berusia 24 tahun. Istri Soeharto merupakan putri dari Soemoharjomo, wedana di Wuryantoro.

Soemoharjomo juga merupakan seorang pegawai Keraton Mangkunegaran, Surakarta. Pernikahan Soeharto dan Siti Hartinah terlaksana pada tanggal 26 Desember tahun 1947 dan dilaksanakan di Solo.

Sebenarnya, Soeharto dan Siti Hartinah saat di Wuryantoro sudah saling mengenal satu sama lain sejak masih anak-anak. Soeharto termasuk orang yang pemberani bahkan ia pernah dipuji oleh Siti Hartinah karena keberaniannya itu.

Keberanian yang dilakukan oleh Soeharto berupa ia berani masuk ke dalam pekarangan rumah kewedanan hanya untuk menggoda Siti Hartinah. Ketika masuk ke pekarangan, Soeharto selalu memetik bunga sehingga ketika ada bunga yang rusak maka Siti Hartinah akan bilang kalau pelaku yang merusak bunga adalah Soeharto.

Pernikahan yang terjadi antara Soeharto dan Siti Hartinah memberikan enam orang anak yang terdiri dari tiga anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Berikut nama anak-anak Soeharto, Siti Hardijanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Hariyadi, Hutomo Mandala Putra, dan Siti Hutami Endang Adiningsih.

Istri Soeharto mempunyai hubungan yang sangat baik dengan wartawan sehingga bisa dikatakan Siti Hartinah (Ibu Tien) sangat akrab dengan wartawan.

Para wartawan akan segera hadir jika diminta oleh Ibu Tien di Jalan Cendana, Jakarta. Sebelum menulis berita setiap wartawan akan diberikan pesan oleh Ibu Tien “Jangan sampai salah ya… dalam meliput acara Pak Harto”. Hal itu dikarenakan pada saat itu, semua liputan dan hasil wawancara lebih banyak dengan tulis tangan atau mencatat langsung.

Istri sekaligus Ibu dari enam anak Soeharto meninggal pada tanggal 28 April 1996. Berdasarkan keterangan keluarga, bahwa Ibu Tien meninggal karena menderita penyakit jantung. Ibu Tien disemayamkan di Astana Giri Bangun, Karanganyar, Jawa Tengah.

Karir Militer Soeharto

Sebelum memulai karir politiknya, Soeharto menjadi anggota dari lembaga ketentaraan yaitu TNI (Tentara Nasional Indonesia). Soeharto diangkat menjadi anggota TNI pada tanggal 5 Oktober 1945.

Saat menjadi anggota TNI, Soeharto diberikan tugas memimpin pasukan untuk melawan aksi-aksi militer Belanda yang berusaha untuk kembali menjajah Indonesia.

Pada tanggal 1 Maret 1949, nama Soeharto semakin dikenal oleh banyak orang karena ia berperan penting dalam serangan untuk menguasai kota Yogyakarta.

Kesuksesannya dalam menguasai Yogyakarta tidak bisa lepas dari peran dan perjuangan masyarakat Indonesia dalam melawan pihak Belanda. Meskipun yang memimpin serangan ini Soeharto, tetapi penggagas dari serangan ini sebenarnya adalah Raja Yogyakarta, Gubernur, Militer, dan Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Soeharto berhasil menjadi seorang tentara dengan pangkat Brigadir Jenderal dan memimpin Komando Mandala yang bertugas untuk merebut kembali Irian Barat. Komando Mandala dilaksanakan pada tahun 1961, dan dari Komando Mandala ini Soeharto mendapatkan pengalaman yang sangat berharga yaitu ia bisa berkenalan dengan Mayor Ali Moertopo, Kapten L.B Moerdani, dan Kolonel Laut Sudomo. Ketiga orang itu merupakan orang-orang yang memiliki peran penting dan strategis.

Soeharto mendapatkan kenaikan pangkat setelah selesai menjalankan tugas di Irian Barat dan kembali dari Indonesia Timur. Pangkat yang diperoleh Soeharto adalah Mayor Jenderal dan oleh Jenderal A.H. Nasution, ia ditarik ke markas besar ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Bukan hanya itu, pada tahun 1962, Soeharto mendapatkan kenaikan menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad).

ABRI khususnya Angkatan Darat di tahun 1965 mengalami perpecahan atau konflik internal. Konflik internal ini disebabkan adanya paham Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis) yang digagas oleh Soekarno sehingga membuat TNI AD terpecah menjadi dua kubu, pertama, kubu sayap kiri, dan kedua, kubu sayap kanan.

Pada dini hari 1 Oktober 1965, terjadi penculikan dan pembunuhan terhadap enam orang Jenderal. Kelompok yang menculik dan membunuh enam Jenderal itu mengaku sebagai kelompok Gerakan 30 September (G30S).

Semua kejadian itu terjadi begitu cepat hingga muncul Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yang berisi tentang pemberian kewenangan dan mandat kepada Soeharto untuk mengambil dan menentukan segala tindakan supaya permasalahan ini terselesaikan dan dapat memulihkan keamanan dan ketertiban.

Sejak dikeluarkannya Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) oleh Soekarno, jabatan Panglima Komando Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) dipegang oleh Soeharto.

Pada tanggal 27 Maret 1968, Soeharto dilantik oleh MPRS untuk menjadi Presiden Republik Indonesia. Dengan pelantikan ini maka menjadi tanda lahirnya masa pemerintahan Orde Baru.

Karir Politik Soeharto Sebagai Presiden Orde Baru

Sebenarnya Soeharto mulai menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia sejak tahun 1966, tetapi baru dilantik oleh MPRS pada tahun 1968. Dengan kata lain, Soeharto baru sah menjadi Presiden Republik Indonesia yang kedua di tahun 1968. Pada awal menjadi Presiden Republik Indonesia, Soeharto belum mempunyai wakil Presiden Republik Indonesia.

Sejak tahun 1973 hingga 1998, barulah Soeharto mempunyai Wakilnya. Simak ulasan berikut tentang Wakil Presiden di masa pemerintahan Orde Baru atau masa di mana pemerintahan dipimpin oleh Soeharto.

Wakil Presiden pertama pada kepemimpinan Soeharto ialah Sultan Hamengkubuwono IX. Pada masa pemerintahan ini, Soeharto membentuk Kabinet Pembangunan I. Masa kerja pada Kabinet Pembangunan I adalah tanggal 6 Juni 1968 sampai 28 Maret 1973.

Pada masa pemerintahan ini, Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban dijabat oleh Jenderal Maraden Panggabean. Jenderal Maraden Panggabean, pada saat itu juga menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.

Penerapan sistem Orde Baru diantaranya:

  • Perkembangan GDP per kapita Indonesia yang pada tahun 1968 hanya AS$70 dan pada 1996 telah mencapai lebih dari AS$1.565
  • Sukses transmigrasi
  • Sukses KB
  • Sukses memerangi buta huruf
  • Sukses swasembada pangan
  • Pengangguran minimum
  • Sukses REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun)
  • Sukses Gerakan Wajib Belajar
  • Tersosialisasikan Gerakan Nasional Orang-Tua Asuh
  • Sukses keamanan dalam negeri
  • Investor asing dipercaya untuk menanamkan investasinya.
  • Sukses menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta produk dalam negeri
Melihat Kebijakan Soeharto untuk Perkembangan Ekonomi di Masa Orde Baru
Swasembada pangan untuk Perkembangan Ekonomi di Masa Orde Baru
Melihat Kebijakan Repelita Orde Baru
Rencana Pembangunan Lima Tahun

Akhir kekuasaan Soeharto

Kekuasaan Soeharto selama lebih dari tiga dekade menemui titik akhir saat krisis ekonomi melanda Indonesia pada 1998. Gelombang aksi protes dan kerusuhan pun terjadi di mana-mana untuk menuntut Soeharto turun dari jabatannya.

Faktor Ekonomi dan Politik Runtuhnya Pemerintahan Orde Baru
Faktor Ekonomi dan Politik Runtuhnya Pemerintahan Orde Baru

Hingga akhirnya, Soeharto memutuskan mengundurkan diri pada 1998. Dengan mundurnya Soeharto, berakhirlah pemerintahan Orde Baru dan dimulailah era Reformasi yang masih berjalan hingga kini. Setelah menjalani masa-masa pensiun dengan tenang, Soeharto meninggal dunia pada usia 87 tahun di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan, pada 27 Januari 2006.

Pecahan uang Rp.50.000,- Era Orde Baru
Pecahan uang Rp.50.000,- Era Orde Baru

27 Oktober 2025

Sejarah Batik di Indonesia

SEJARAH KESENIAN BATIK WARISAN BUDAYA INDONESIA YANG DI AKUI UNESCO 

Sejarah Batik di Indonesia sebagai warisan budaya oleh Unesco
Sejarah Batik di Indonesia awalnya berasal dari peninggalan nenek moyang masyarakat Jawa dan terkait erat dengan perkembangan Kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Pulau Jawa pada masa itu. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada zaman Kesultanan Mataram, lalu berlanjut pada zaman Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Kesenian batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit dan terus berkembang sampai kerajaan berikutnya beserta raja-rajanya. Kesenian batik secara umum meluas di Indonesia dan secara khusus di pulau Jawa setelah akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. 

Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga kerajaan di Indonesia zaman dahulu. Awalnya kegiatan membatik hanya terbatas dalam keraton saja dan batik dihasilkan untuk pakaian raja dan keluarga pemerintah dan para pembesar. Oleh
karena banyak dari pembesar tinggal di luar keraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar dari keraton dan dihasilkan pula di tempatnya masing-masing.
Kesenian batik di Indonesia
Lama kelamaan kesenian batik ini ditiru oleh rakyat jelata dan selanjutnya meluas sehingga menjadi pekerjaan kaum wanita rumah tangga untuk mengisi waktu luang mereka.

Bahan-bahan pewarna yang dipakai ketika membatik terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila. Bahan sodanya dibuat dari soda abu, sedangkan  garamnya dibuat dari tanah lumpur.

PERKEMBANGAN MEMBATIK
Pada perkembangannya, sejarah dari batik itu sendiri telah menarik perhatian dari pembesar Kerajaan Majapahit. Pada saat itu juga pembuatan batik telah berkembang. Bahan yang awalnya dari kulit dan sebagainya sekarang berganti menjadi kain putih atau kain yang berwarna terang. Karena dirasa dari kain putih itu sendiri motif yang didapat lebih tahan lama dan bisa digunakan untuk pemanfaatan yang lebih luas.
 
Motif Batik Indonesia
Motifnya juga bukan hanya berkisar pada hewan dan tumbuhan saja. Tapi sekarang motif-motif seperti motif abstrak, motif candi, motif awan, motif wayang beber dan lain sebagainya, telah digunakan pada zaman itu, yaitu pada saat berdirinya Kerajaan Majapahit.

Pada motif batik itu sendiri juga masih belum bervariasi. Corak dan motifnya masih dominan dengan bentuk tanaman dan binatang. Para pengerajin batik juga masih tidak terlalu banyak. Saat itu membuat batik hanya digunakan sebagai kesenangan pengerajin sendiri.
Dari awal sejarah batik tersebut, akhirnya menyebar luas keseluruh penjuru kerajaan lain. Karena terkenalnya batik tersebut, akhirnya para pembesar dari Kerajaan Mataram, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Demak dan kerajaan-kerajaan setelahnya menjadikan batik sebagai simbol budaya.

Tapi pada saat Islam datang dan telah mempengaruhi banyak dari masyarakat, motif batik yang berbentuk binatang sudah ditiadakan. Karena kain batik yang berbentuk binatang dianggap menyalahi syariat Islam. Sehingga motif tersebut sudah dihapus dan ditiadakan. Kecuali bila pembuatannya disamarkan menggunakan lukisan-lukisan lain.
Kain Batik Indonesia
Batik Indonesia menjadi semakin terkenal setelah memperoleh pengakuan dari UNESCO yang memutuskan Batik Indonesia sebagai warisan pusaka dunia dan salah satu warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan Non Bendawi. Pengakuan ini dilaksanakan secara resmi pada sidang UNESCO di Abu Dhabi pada tanggal 2 Oktober 2009 menjadi tonggak penting untuk eksistensi Batik di dunia internasional. Dalam rentang waktu sangat panjang batik hadir di bumi Nusantara. Batik sudah ada sejak zaman nenek moyang Indonesia.

Kata batik berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: amba, yang bermakna ‘menulis’ dan titik, yang bermakna ‘titik’. Walaupun kata batik berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa teknik membatik kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilanka pada abad ke-6 atau ke-7. Di sisi lain, J.L.A. Brandes, arkeolog Belanda, dan F.A. Sutjipto, sejarawan Indonesia, percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme, tetapi diketahui memiliki tradisi kuno membuat batik.

Jika dilihat dari awal sejarah batik adalah bermula sejak abad ke-17 Masehi. Pada saat itu batik masih ditulis dan dilukis hanya pada daun lotar dan papan rumah adat.

G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu. Adapun detil ukiran kain yang menyerupai pola batik dikenakan oleh Prajnaparamita, arca dewi kebijaksanaan Buddhis dari Jawa Timur abad ke-13. Detil pakaian menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang rumit yang mirip dengan pola batik tradisional Jawa yang dapat ditemukan kini. Hal ini menunjukkan bahwa membuat pola batik yang rumit yang hanya dapat dibuat dengan canting telah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau bahkan lebih awal.

Sementara pada legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin, menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan dia hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa. Kemudian keempat lembar kain tersebut ditafsirkan sebagai batik.

Dalam literatur Eropa, teknik batik pertama kali diceritakan dalam buku History of Java, London, 1817 tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda, Van Rijekevorsel, memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19. Saat itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.

Kemudian sejak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, Adapun pada batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Hugh Clifford merekam industri membatik ini hingga menghasilkan kain pelangi dan kain telepok.

Pada akhirnya batik merupakan kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia, khususnya Jawa. Sejak masa lampau, para perempuan menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian. Sehingga pada masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan. Hingga ditemukannya “Batik Cap” yang memungkinkan masuknya laki-laki ke bidang ini. Kemudian terjadi fenomena batik pesisir yang memiliki garis maskulin hingga bisa terlihat pada corak “Mega Mendung”. Bagi masyarakat di daerah pesisir ini, pekerjaan membatik merupakan sebuah kelaziman bagi kaum lelaki.

Berbicara tradisi membatik, pada mulanya batik merupakan tradisi yang turun-temurun dari masyarakat Jawa. Boleh jadi, terkadang untuk suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Adapun batik Cirebon bermotif makhluk laut dan pengaruh Tionghoa.

Dalam sejarah Indonesia, batik kemudian menjadi busana yang dikenakan oleh para tokoh, mulai dari masa sebelum kemerdekaan hingga sekarang. Di awal tahun 80-an, dalam diplomasi ke luar negeri, Presiden Soeharto mengatakan batik sebagai warisan nenek moyang Indonesia, terutama masyarakat Jawa yang hingga kini dikenakan oleh berbagai kalangan dan usia. 
Sejarah Batik di Indonesia
Dengan pengakuan UNESCO dan ditetapkannya Hari Batik Nasional setiap tanggal 2 Oktober semakin menempatkan Batik tak hanya budaya Indonesia, tapi jati diri dan indentitas bangsa indonesia. 

Secara teknik batik Indonesia dinilai sarat simbol, dan budaya yang terkait erat dengan kehidupan masyarakat itu sendiri. Dengan begitu batik yang asli dari Indonesia ini tidak bisa diklaim oleh negara lain. Karena sebelumnya batik pernah diklaim sebagai warisan nenek moyang negara lain.

Batik Indonesia sudah dikenal luas di seluruh penjuru Mancanegara. Bukan hanya terkenal oleh orang-orang Jawa, batik itu sendiri sudah menyebar di semua pulau yang ada di Indonesia.

Baju yang bermotif batik pun bukan lagi hanya di pakai oleh orang Jawa. Sekarang kain batik sendiri telah dianggap pakaian resmi yang cocok untuk dipakai dalam acara apapun. Bahkan bukan hanya orang yang berkebangsawan, anak muda di seluruh Indonesia juga sering menggunakan baju bermotif batik.

77 Warisan Budaya Indonesia

Daftar-kebudayaan-indonesia
INDONESIA sebagai bangsa yang besar dan memiliki keanekaragaman suku dan budaya memiliki jutaan warisan karya kebudayaan yang perlu dijaga dan dilestarikan oleh seluruh anak bangsa, seringnya budaya milik indonesia yang diklaim sebagai budaya asli negara lain, tentu sebagai anak bangsa tidak boleh tinggal diam begitu saja, karena hal tersebut harus dijaga dengan sebaik-baiknya. kali ini saya coba sharing 77 karya budaya ditetapkan sebagai warisan budaya indonesia. 

Setelah melalui verifikasi dan penilaian oleh tim ahli, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya menetapkan 77 karya budaya yang telah didaftarkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional Indonesia. Enam diantaranya telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Indonesia yang diakui oleh UNESCO.  Berikut karya budaya yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya bangsa indonesia yang telah di tetapkan UNESCO :


1. WAYANG INDONESIA
Wayang telah diakui oleh UNESCO sebagai daftar perwakilan Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia pada tahun 2008. Wayang adalah salah satu seni pertunjukan rakyat yang masih banyak penggemarnya hingga saat ini. Pertunjukan wayang dimainkan oleh seorang dalang dengan menggerakkan tokoh-tokoh pewayangan yang dipilih sesuai dengan cerita yang dibawakan. Cerita-cerita yang dipilih bersumber pada kitab Mahabarata dan Ramayana yang bernafaskan kebudayaan dan filsafat Hindu, India, namun telah diserap ke dalam kebudayaan Indonesia. Dalam setiap pegelaran, sang dalang dibantu para swarawati atau sindhen dan para penabuh gamelan atau niyaga, sehingga pertunjukan wayang melibatkan banyak orang. Di Indonesia, Wayang telah menyebar hampir keseluruh bagian wilayah Indonesia. Jenis-jenisnya pun beragam yang  diantaranya adalah : Wayang kulit Purwa, Wayang Golek Sunda, Wayang Orang, Wayang Betawi, Wayang Bali, Wayang Banjar, Wayang Suluh, Wayang Palembang, Wayang Krucil, Wayang Thengul, Wayang Timplong, Wayang Kancil, Wayang Rumput, Wayang Cepak, Wayang Jemblung, Wayang Sasak (Lombok), dan Wayang Beber.

2. KERIS INDONESIA
Keris adalah benda budaya yang eksotik dan  original. Ini merupakan ‘karya seni’ sekaligus "benda budaya" asli Nusantara. Budaya keris terbentang dari Ujung pulau Sumatra di barat, Semenanjung Siam dan Sulu di Utara, Gugusan kepulauan Maluku di Timur dan Kepulauan Nusa Tenggara di Selatan. Keris menjadi identitas pengikat yang mendorong rasa kebangsaan itu tumbuh subur di Nusantara. Pada tahun 2005, Keris Indonesia telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia .

Keris merupakan senjata tikam golongan belati (berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya) dengan banyak fungsi budaya yang dikenal di kawasan Nusantara bagian barat dan tengah. Bentuknya khas dan mudah dibedakan dari senjata tajam lainnya karena tidak simetris di bagian pangkal yang melebar, seringkali bilahnya berkelok-kelok, dan banyak di antaranya memiliki pamor (serat-serat lapisan logam cerah) pada helai bilah. Pada masa lalu keris berfungsi sebagai senjata dalam duel/peperangan, sekaligus sebagai benda pelengkap sesajian. Saat ini, penggunaan keris lebih banyak sebagai ornamen pelengkap dalam berbusana adat. Sebagai produk kebudayaan, keris mengandung sejumlah nilai luhur kebudayaan pembuatnya yang disimbolkan dalam berbagai bagian keris. Selain itu, keris juga marak menjadi benda koleksi yang dinilai dari segi estetikanya.

3. BATIK INDONESIA
Pada dasarnya, batik merupakan seni lukis yang menggunakan canting sebagai alat untuk melukisnya. Canting sendiri merupakan sebuah alat berbentuk mangkok kecil yang terbuat dari tembaga dan memiliki carat atau monong, dengan tangkai dari bambu atau kayu yang dapat diisi malam (lilin) sebagai bahan untuk melukis. Canting ini dapat membuat kumpulan garis, titik atau cecek yang pada akhirnya membentuk pola-pola. Pola-pola inilah yang kemudian menjadi ragam hias dalam kesenian Batik.

Membatik telah diwariskan secara turun temurun hingga saat ini. Dengan pola tradisional ini, sejak dahulu masyarakat menuangkan imajinasi melalui gambar pada batik. Masyarakat juga telah mengenal seni pewarnaan tradisional dengan bahan-bahan alami sebelum mengenal pewarnaan dengan bahan kimia. Batik yang tersebar hampir diseluruh Indonesia memiliki bentuk ragam hias yang berbeda-beda diantara satu dan lainnya. Pada tahun 2009, Batik diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia.

4. ANGKLUNG
Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang terbuat dari bambu dan dibunyikan dengan cara digoyangkan. Alat musik ini berasal dari Tanah Sunda. Kata Angklung berasal dari Bahasa Sunda “angkleung-angkleungan” yaitu gerakan pemain Angklung dan suara “klung” yang dihasilkannya. Secara etimologis, Angklung berasal dari kata “angka” yang berarti nada dan “lung” yang berarti pecah. Jadi Angklung merujuk nada yang pecah atau nada yang tidak lengkap. Setiap angklung akan menghasilkan nada yang berbeda, sehingga setiap penampilan membutuhkan lebih dari satu angklung. Sedikitnya delapan nada dihasilkan oleh angklung. Angklung telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia pada tahun 2010.

5. TARI SAMAN GAYO DARI NAGGROE ACEH DARUSSALAM
Tari Saman adalah salah satu kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat Gayo di Kabupaten Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Timur (Kecamatan Serbejadi), Kabupaten Aceh Tamiang (Tamiang Hulu). Saman merupakan permainan tradisi yang biasa dilakukan oleh laki laki yang umumnya usia muda untuk mengisi waktu luangnya. Baik pada saat di sawah, mersah, sepulang mengaji di rumah pun mereka menyempatkan diri berlatih Saman. Permainan Saman menjadi sebuah seni pertunjukan yang sering dipentaskan sebagai media silaturahmi, menjalin persahabatan, penyampaian pesan-pesan moral, pantun muda-mudi, penggambaran alam dan lingkungan sekitar, dan sebagainya. Tari Saman diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda yang membutuhkan pelindungan mendesak dari Indonesia pada tahun 2011.

6. NOKEN DARI PAPUA
Noken Papua adalah hasil daya cipta, rasa dan karsa yang dimiliki manusia berbudaya dan beradat. Walaupun Noken berbentuk seperti halnya tas yang berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan berbagai macam benda dan peralatan, namun masyarakat Papua sendiri tidak menyebut noken sebagai tas. Bagi masyarakat Papua, Noken memiliki perbedaan yang sangat signifikan dengan tas yang diproduksi pabrik, baik secara bahan, jenis, model maupun bentuk Noken. Pada tahun 2011 Noken Papua dinobatkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia yang membutuhkan pelindungan mendesak.


7. TENUN IKAT SUMBA - NUSA TENGGARA TIMUR
Kain tenun ikat adalah kain tenun yang pembuatan motifnya menggunakan teknik ikat. Teknik ikat dilakukan dengan bagian-bagian tertentu dari benang, dengan maksud agar bagian-bagian yang terikat itu tidak terwarnai ketika benang dimasukkan kedalam cairan pewarna. Bagian-bagian yang diikat telah diperhitungkan sedemikian rupa, sehingga setelah ditenun akan membetuk motif-motif yang sesuai dengan yang diinginkan. Pemerintah Indonesia sedang dalam proses mengajukan Tenun Ikat Sumba ke UNESCO untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Indonesia.

8. RENCONG DARI NANGGROE ACEH DARUSSALAM
Rencong adalah simbol keberanian dan kegagahan ureueng Aceh. Bagi siapa saja yang memegang senjata akan merasa lebih berani di dalam menghadapi musuh. Pada masa sekarang, senjata ini memang sudah tidak begitu relevan untuk digunakan sebagai senjata penyerang. Namum demikian, senjata ini masih relevan sebagai sebuah simbolisasi dari keberanian, ketangguhan, dan kejantanan dari masyarakat Aceh. Untuk itu, pada beberapa upacara (seperti upacara pernikahan) rencong dipakai. Pemakaian benda ini lebih mengarah kepada simbolisasi dari keberanian dari seorang lelaki dalam memimpin keluarga setelah menikah.


9. TARI TOR-TOR, DARI SUMATERA UTARA
Tari Tor tor merupakan tarian yang berasal dari Sumatera Utara. Tor-Tor pada awalnya bukanlah suatu tarian, tetapi sebagai pelengkap gondang (uning-uningan) yang berdasarkan kepada falsafah adat itu sendiri. Di dalam upacara-upacara adat di Mandailing dimana uning-uningan dibunyikan (margondang), selalu dilengkapi dengan acara manortor. Pada awalnya manortor hanya diadakan pada acara-acara adat margondang, namun dalam perkembangan selanjutnya manortor ini juga sudah dilakukan pada acara-acara hiburan dengan cara memodifikasi tor-tor sedemikian rupa agar lebih menarik bagi penonton yang dalam perkembangannya mengarah menjadi tarian.

10. GORDANG SAMBILAN, DARI SUMATERA UTARA
Sesuai dengan namanya Gordang Sambilan terdiri dari sembilan buah gendang dengan ukuran yang relatif besar dan panjang. Adapun kesembilan gendang tersebut mempunyai ukuran yang berurutan dari yang besar ke ukuran yang paling kecil. Gordang Sambilan  dikenal pada masa sebelum Islam yang mempunyai fungsi untuk upacara memanggil roh nenek moyang apabila diperlukan pertolongannya. Upacara tersebut dinamakan paturuan Sibaso yang berarti  memanggil roh untuk merasuki/menyurupi medium Sibaso). Tujuan pemanggilan ini adalah untuk minta pertolongan roh nenek moyang untuk mengatasi kesulitan yang sedang menimpa masyarakat. Misalnya penyakit yang sedang mewabah karena adanya suatu penularan  penyakit yang menyerang suatu wilayah. Di samping itu Gordang Sambilan juga digunakan untuk upacara meminta hujan (mangido udan) agar hujan turun sehingga dapat mengatasi kekeringan yang menganggu aktivitas pertanian. Juga bertujuan untuk  menghentikan hujan yang telah berlangsung secara terus menerus yang sudah menimbulkan kerusakan .

11. RUMAH ADAT KARO DARI SUMATERA UTARA
Rumah adat Karo terkenal dengan nama rumah si waluh jabu  artinya “rumah yang didiami delapan keluarga”. Di dalam rumah tersebut diatur menurut ketentuan adat. Adapun delapan keluarga ini memiliki posisi yang berbeda-beda dalam menempati rumah adat. Rumah adat Karo didirikan berdasarkan arah kenjehe (hilir) dan kenjulu  (hulu) sesuai aliran sungai pada suatu kampung. 5. Randang dari Sumatera Barat    Rendang dalam bahasa Minangkabau disebut dengan randang adalah salah satu makanan tradisional khas Minangkabau yang sangat terkenal ke seantaro penjuru nusantara. Randang tersebut memiliki beberapa warna, yakni merah kecoklatan, coklat, sampai coklat kehitaman. Pengertian randang yang diambil dari kata marandang, yakni suatu proses pengolahan lauk berbahan dasar santan yang dimasak sampai kandungan airnya berkurang, bahkan sampai kering sehingga apabila disebut randang itu artinya olahan masakan yang kering tanpa mengandung air.

12. Sistem Matrilineal dari Sumatera Barat
Sistem Matrilineal merupakan sebuah sistem yang dipegang teguh oleh masyarakat Minangkabau sampai sekarang ini. Di Minangkabau terkenal dengan garis keturunan matrilineal. Biasanya wanita-wanitanya yang memiliki rumah dan sawah. Rumah tangga-rumah tangga dikelompokkan menjadi clan yang didasarkan pada garis keturunan wanita. Setiap anak wanita mendapat warisan dari ibunya dengan memperoleh bagian yang sama besarnya dari sawah milik ibunya. 7. Rumah Gadang dari Sumatera Barat.

13. RUMAH GADANG DARI SUMATERA BARAT
Rumah Gadang adalah rumah adat Minangkabau yang dibangun di atas tiang-tiang tinggi dan bersendikan batu. Secara bahasa, Rumah Gadang berarti Rumah Besar. Rumah ini memang ada yang besar, dengan jumah kamar sampai sembilan, sebelas bahkan lebih, sesuai kemampuan ekonomi kaum yang membangun dan jumlah perempuan yang menghuninya. Makna “gadang” atau “besar” Rumah Gadang lebih mengacu ke fungsinya.




14. AKSARA KA-GA-NGA DARI BENGKULU
Aksara Kaganga merupakan sebuah nama kumpulan beberapa aksara yang
berkerabat di Sumatra sebelah selatan. Aksara-aksara yang termasuk
kelompok ini adalah antara lain aksara Rejang, Lampung, Rencong, dan
lain-lain.

Nama kaganga ini merujuk pada tiga aksara pertama yang mengingatkan kita kepada urutan aksara di India.

Istilah kaganga diciptakan oleh Mervyn A. Jaspan (1926-1975), antropolog di University of Hull (Inggris) dalam buku Folk literature of South Sumatra. Redjang Ka-Ga-Nga texts. Canberra, The Australian National University 1964. Istilah asli yang digunakan oleh masyarakat di Sumatra sebelah selatan adalah Surat Ulu.

Aksara Batak atau Surat Batak juga berkerabat dengan kelompok Surat Ulu akan tetapi urutannya berbeda. Diperkirakan zaman dahulu di seluruh pulau Sumatra dari Aceh di ujung utara sampai Lampung di ujung selatan, menggunakan aksara yang berkerabat dengan kelompok aksara Kaganga (Surat Ulu) ini. Tetapi di Aceh dan di daerah Sumatera Tengah (Minangkabau dan
Riau), yang dipergunakan sejak lama adalah huruf Jawi. Perbedaan utama antara aksara Surat Ulu dengan aksara Jawa ialah bahwa aksara Surat Ulu tidak memiliki pasangan sehingga jauh lebih sederhana daripada aksara Jawa, dan sangat mudah untuk dipelajari .

Aksara Surat Ulu diperkirakan berkembang dari aksara Pallawa dan aksara Kawi yang digunakan oleh kerajaan Sriwijaya di Sumatera Selatan. Di Bengkulu sendiria, aksara asli dari provinsi ini pun dikenal
dengan KA-GA-NGA. Aksara Ka-Ga-Nga merupakan turunan dari aksara Palawa dan berbentuk garis siku-siku serta sangat kaku.Pada zaman dahulu, aksara Ka-Ga-Nga ini ditulis pada media bambu, bilah bambu, batu, kulit kayu, rotan, bilah rotan, serta tanduk. Masyarakat menggunakannya untuk menuliskan doa-doa, mantera, teknik bercocok tanam, pengumuman, cerita rakyat, sejarah, informasi, yang dikirimkan secara pribadi atau masyarakat luas.

Di Museum Negeri Bengkulu sendiri banyak ditemukan potongan naskah penggunaan aksara Ka-Ga-Nga pada masyarakat zaman dahulu, yang dikumpulkan dari berbagai daerah di Provinsi Bengkulu. Saat ini budaya tulisan Ka-Ga-Nga kembali dimunculkan ke masyarakat salah satunya adalah dengan menambahkan symbol – simbol tulisan dan huruf tersebut pada motif batik atau yang lainnya. Selain itu anak sekolah kini juga mulai diperkenalkan dengan aksara Ka-Ga-Nga pada mata pelajaran Muatan Lokal.

Dalam perspektif sejarah, secara umum kita mengenal aksara daerah di Indonesia pada dasarnya berasal dari India, termasuk diantaranya aksara Ka Ga Nga. Penyebaran aksara Ka Ga Nga banyak terdapat di daerah Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan dan Lampung.

15. DUL-MULUK DARI SUMATERA SELATAN
Dulmuluk berawal dari kitab Kejayaan Kerajaan Melayu yang selesai ditulis pada 2 juli 1845, yang berjudul Syair Abdul Muluk. Teater Dulmuluk adalah teater tradisional Sumatera Selatan yang lahir di Kota palembang. Awal mula terbentuknya teater ini adalah berupa pembacaan syair oleh Wan Bakar yang membacakan tentang syair Abdul Muluk disekitar rumahnya di Tangga Takat 16 Ulu pada tahun 1854. Agar lebih menarik pembacaan syair kemudian disertai dengan peragaan oleh beberapa orang ditambah iringan musik gambus dan terbangan.

16. SONGKET PALEMBANG DARI SUMATERA SELATAN
Songket Palembang sudah ada sejak zaman Kesultanan Palembang. Songket telah ada di Palembang sejak ratusan tahun silam dan diyakini sejak zaman Sriwijaya. Pada waktu itu kerajinan songket merupakan suatu usaha sambilan bagi penduduk asli Palembang. Songket telah ada bersamaan munculnya Kesultanan Palembang Darussalam (1659-1823).  Berdasarkan catatan sejarah yang berhak dan pantas memakai songket pada waktu itu adalah raja atau sultan dan kerabat keraton. Songket yang dipakai oleh para sultan di Palembang merupakan pelengkap pakaian kebesaran.

17. TARI MAKYONG DARI KEPULAUAN RIAU
Di daerah Kepulauan Riau, tradisi lisan Mak Yong telah dipertunjukkan sejak beberapa abad yang lalu dan menyebar sampai ke Bangka, Johor, Malaka, dan Pulau Pinang. Di Kepulauan Riau, Tradisi lisan ini berkembang pesat pada masa pemerintahan Kesultanan Riau (1722-1911). Seni pertunjukan teater Makyong dimainkan dengan tarian, nyanyian, dan lawakan yang terjalin dalam suatu alur cerita. Pemainnya 20 orang, yang pria bertopeng sedangkan yang wanita mengenakan kostum gemerlap.


18. KRINOK DARI JAMBI
Krinok merupakan salah satu seni vokal tradisi yang dimiliki masyarakat Melayu di Kecamatan Rantau Pandan Kabupaten Muara Bungo. Seniman krinok mengatakan krinok adalah kesenian tertua yang telah ada sejak masa pra sejarah dan masih dapat dijumpai hingga saat ini. Ja’far Rassuh menduga cikal bakal krinok sebagai sebuah seni suara telah ada jauh sebelum masuknya agama Budha ke wilayah Jambi. Pada masa itu seni vokal digunakan untuk pembacaan mantra atau do’a tertentu, inilah yang kemudian berkembang menjadi kesenian krinok.

19. DAMBUS DARI BANGKA BELITUNG
Bangka Belitung sebagai salah satu daerah rumpun melayu di Indonesia memiliki kesenian dan kebudayaan yang masih kental dengan adat melayu dan terikat dengan unsur keagamaannya. Kesenian Dambus adalah salah satu contoh kesenian khas Bangka Belitung yang masih popular hingga saat ini.

Dinamakan seni dambus karena kesenian ini terdiri dari alat musik, lagu dambus itu sendiri serta tariannya. Alat musik dambus merupakan alat musik tradisional khas Bangka Belitung yang memiliki bentuk mirip dengan gitar. Alat musik ini terdiri dari kepala yang berbentuk kepala rusa, senar dan juga badan dambusnya. Sesungguhnya alat musik dambus sudah ada sejak zaman dahulu kala dalam adat melayu, namun seiring berjalannya waktu, Bangka Belitung memiliki ciri khas tersendiri untuk alat musik dambusnya. Lantunan nada yang dihasilkan dari petikan senarnya begitu
pas dengan irama musik melayu.

Dambus merupakan musik yang telah berusia ratusan tahun dan masih bertahan di Bangka Belitung. Gambus berkembang sejak abad ke-19 bersama dengan kedatangan para imigran Arab dari Hadramaut, Yaman Selatan ke Nusantara.  Dengan menggunakan syair-syair kasidah, gambus mengajak masyarakat mendekatkan diri pada Allah dan mengikuti teladan Rasul-Nya. Oleh karenanya, gambus digunakan para imigran menjadi sarana dakwah di nusantara. Langkah ini kemudian diteruskan oleh para ulama untuk berdakwah Islam.

20. TENUN SIAK RIAU
Semasa dahulu pekerjaan menenun hanya dikenal di lingkungan istana saja sebagai pekerjaan sambilan. Namun sesuai dengan perkembangan zaman, pekerjaan menenun merembes keluar tembok istana.

Kerajinan tangan yang sangat terkenal dari Siak sejak dahulu adalah kerajinan industri rumah yaitu kerajinan tenun, yang dinamakan kain Tenun Siak. Semasa dahulu pekerjaan menenun hanya dikenal dilingkungan Istana saja sebagai pekerjaan sambilan. Namun sesuai dengan perkembangan zaman, pekerjaan menenun merembes keluar
tembok Istana.

Perkembangan Tenun Siak bermula ketika Siak diperintah Sultan Said Syarif Ali, sekitar tahun 1800, ketika usaha kerajinan tenun ini mulai dikenal luas. Pada masa lalu ada seorang bernama Encik Siti binti E. Wan Karim yang berasal dari Trengganu, yang tenunannya menggunakan benang sutera, katun dan emas. Tenunan itu sangat disenangi oleh kalangan istana. Ia mengembangkan motif tradisional dan ciptaan baru sehingga dikenal dan disukai kembali setelah agak terlupakan. Hingga kini, penenun Siak dianggap lebih teguh mengembangkan corak asli Melayu, yaitu pucuk rebung, awan larat, bunga cengkih, tampuk manggis, semut beriring, siku keluang, dan itik pulang petang.

21. GAZAL DARI KEPULAUAN RIAU
Ghazal adalah semacam musik orkestra tradisi Melayu yang berkembang di Kepulauan Riau. Asal Ghazalini dapat ditelusuri dari irama padang pasir atau Timur Tengah yang menyebar ke Johor Malaysia dan kemudian terus menyebar dan berkembang di Kepulauan Riau yaitu; Penyengat, Tanjung Balai Karimun, Tanjung Batu, dan Batam.

Kesenian musik ghazal ini mulai dikenal dan dikembangkan sejak zaman Kerajaan Melayu dan pada wakt itu tampil musik ghazal ini untuk mengisi acara-acara Permbesar Kerajaan. Pendiri pertama musik ghazal ini adalah Bapak Haji Kenal Muse atau yang lebih dikenal dengan nama Pak Lomak yang berasal dari Johor Baru.

22. Gurindam Dua Belas dari Kepulauan Riau
Gurindam Dua Belas dari Kepulauan Riau
Kumpulan Gurindam Dua Belas dikarang oleh Raja Ali Haji dari Riau.  Dinamakan Gurindam Dua Belas oleh karena berisi 12 pasal, antara lain tentang ibadah, kewajiban raja, kewajiban anak terhadap orang tua, tugas orang tua kepada anak, budi pekerti dan hidup bermasyarakat.





23. Tabot dari Bengkulu dan Tabuik dari Sumatera Barat
Tabot dari Bengkulu dan Tabuik dari Sumatera Barat
Berasal dari kata "tabut", dari bahasa Arab yang berarti mengarak. Upacara Tabot / Tabuik merupakan sebuah tradisi masyarakat di Bengkulu dan di pantai barat, Sumatera Barat, yang diselenggarakan secara turun menurun. Upacara ini digelar di hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram, dalam kalender Islam untuk memperingati kematian cucu Nabi Muhammad, Husein.




24. Muang Jong atau Buang Jong dari Bangka Belitung
Muang Jong atau Buang Jong dari Bangka Belitung
Buang Jong
merupakan salah satu upacara tradisional yang secara turun-temurun dilakukan oleh masyarakat suku Sawang di Pulau Belitung. Suku Sawang adalah suku pelaut yang dulunya, selama ratusan tahun, menetap di lautan. Muang Jong sendiri memiliki arti melepaskan perahu kecil ke laut. Perahu kecil tersebut berbentuk kerangka yang didalamnya berisikan sesajian. “Ancak” yaitu rumah-rumahan juga berbentuk kerangka yang melambangkan tempat tinggal. Tradisi budaya ini secara turun-temurun dilakukan setiap tahun oleh masyarakat Suku Sawang di Kabupaten Belitung menjelang musim Tenggara, sekitar bulan Agustus atau September. Dimana angin dan ombak laut pada bulan tersebut sangat ganas dan mengerikan. Ritual Muang Jong dengan bertujuan memohon perlindungan agar terhindar dari bencana yang akan menimpa, terutama di laut.

25. Kain Tapis dari Bandar Lampung
Kain Tapis dari Bandar Lampung
Awal mula kain tapis dibuat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, misalnya saja adanya motif kapal, kapal digambarkan sebagai wahana atau kendaraan roh dalam perjalanan menuju alam setelah meninggal (alam baka). Serta dikaitkan dengan bentuk pemujaan terhadap tokoh leluhur atau nenek moyang. Selanjutnya penggunaan kain tapis dalam perkembangannya dimanfaatkan pada acara-acara adat sepanjang lingkaran hidup yang terkait dengan ritual keagamaan. Ritual tersebut adalah sarana untuk menghubungkan manusia dengan alam roh. Penggunaan kain tapis sangat erat kaitannya dengan penggunaan secara praktis dan fungsi simbolis yang kemudian diberi makna ritual. Muatan simbol pada kain tapis adalah sebagai penghubung dari berbagai makna pelaksanaan upacara adat di sepanjang lingkaran hidup manusia.

26. Ondel Ondel dari DKI Jakarta
Ondel Ondel dari DKI Jakarta
Ondel-ondel adalah pertunjukan rakyat yang sudah berabad-abad terdapat di Jakarta dan sekitarnya, yang dewasa ini menjadi wilayah Betawi. Ondel-ondel tergolong salah satu bentuk teater tanpa tutur, karena pada mulanya dijadikan personifikasi leluhur atau nenek moyang, pelindung keselamatan kampung dan seisinya. Dengan demikian dapat dianggap sebagai pembawa lakon atau cerita, sebagaimana halnya dengan “bekakak” dalam upacara “potong bekakak” digunung gamping disebelah selatan kota Yogyakarta, yang diselenggarakan pada bulan sapar setiap tahun.



27. Topeng dan Lenong dari DKI Jakarta
Topeng dan Lenong dari DKI Jakarta
Lenong adalah seni teater rakyat atau pertunjukan rakyat dari Betawi. Lenong biasa dilengkapi dengan dekor yang disesuaikan dengan babak cerita. Pertunjukan dimulai dengan musik gambang kromong dengan lagu-lagu khas betawi seperti jali-jali, Persi, Stambul, Cente Manis, Balok, dan lain sebagainya. Cerita lakon biasanya berkisar tentang kerajaan. Seni lenong biasa disebut juga dengan Lenong Denes dan Lenong Preman. Lenong Denes biasanya menyajian cerita kerajaan (bangsawan) yang bajunya mewah, perabot mewah. Sedangkan lenong preman berkisar kehidupan sehari-hari yang mengisahkan jagoan, tuan tanah, drama rumah tanggal, dan sebagaianya.

28. Pantun Betawi dari DKI Jakarta
Pantun Betawi dari DKI Jakarta
Cerita Pantun adalah cerita legenda yang mengandung unsur kesejarahan yang kebanyakan berisi berbagai rangkaian peristiwa atau petualangan para bangsawan dalam perebutan kekayaan dan wanita yang pada akhirnya, bila mereka menghadapi kesulitan yang luar biasa, selalu diselesaikan dengan pertolongan daya supernatural.

Penyelenggaraan pertunjukan biasanya semalam suntuk dari puku 21.00 sampai pukul 05.00 dini hari kecuali untuk khitanan, yang biasa diadakan pada pagi hari. Sekitar tengah malam ada adegan-adegan humor. Pada acara ruatan ada dua buah cerita yang disajikan yaitu antara pukul 21.00 sampai 03.00 berupa cerita hiburan, dan sisanya cerita Batara Kala. Adapun tempat pertunjukan biasanya d dalam rumah.

29. Ronggeng Gunung dari Jawa Barat
Ronggeng Gunung dari Jawa Barat
Ronggeng gunung adalah salah satu jenis kesenian tradisional yang terdapat di Kabupaten Ciamis tepatnya berasal dari Kecamatan Banjarsari. Dari namanya, ronggeng gunung menunjukkan kesenian dengan peran utamanya ronggeng atau penari perempuan. Kesenian tersebut muncul dan berkembang di wilayah pegunungan. Sebagai tarian rakyat, ronggeng gunung memilki daya tarik tersendiri bagi penontonnya. Meskipun kini berkembang sebagai kegiatan hiburan, keberadaannya masih pada posisi statis di antara perkembangan kesenian lain. Padahal, ronggeng gunung merupakan salah satu identitas budaya masyarakat Ciamis.

30. Sisingaan dari Jawa Barat
Sisingaan dari Jawa Barat
Lahirnya kesenian Sisingaan terkait erat dengan situasi sosial politik pada masa kolonial, yaitu ketika  wilayah Subang dijajah dan diduduki oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, dan selanjutnya ketika wilayah Subang menjadi daerah perkebunan yang dikuasai secara bergantian oleh para penguasa tuan tanah berbangsa Belanda dan Inggris. Kesenian sisingaan ini dipersepsikan oleh banyak kalangan sebagai suatu bentuk kesenian yang mengekspresikan perlawanan dan pemberontakan, serta rasa ketidakpuasan terhadap penguasa (tuan tanah dan pemerintah Hindia Belanda).

31. Senjata Kujang dari Jawa Barat dan Banten
Secara umum, Kujang mempunyai pengertian sebagai pusaka yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa (=Hyang), dan sebagai sebuah senjata, sejak dahulu hingga saat ini Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda). 
 
Di masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah diantaranya di daerah Rancah, Ciamis. Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.

32. Kesenian Debus dari Banten
Kesenian Debus dari Banten
Kesenian Debus di Banten pada awalnya berfungsi untuk menyebarkan ajaran Islam. Namun, pada masa penjajahan Belanda dan pada saat pemerintahan Sultan Agung Tirtayasa, seni ini digunakan untuk membangkitkan semangat pejuang dan rakyat Banten untuk melawan Belanda. Dewasa ini, seiring dengan perkembangan zaman, kesenian ini hanya berfungsi sebagai sarana hiburan semata. Kesenian yang disebut sebagai debus ini ada hubungannya dengan tarikat Rifaiah yang dibawa oleh Nurrudin Ar-Raniry ke Aceh pada abad ke-16. Para pengikut tarikat ini ketika sedang dalam kondisi epiphany (kegembiraan yang tak terhingga karena “bertatap muka” dengan Tuhan), kerap menghantamkan berbagai benda tajam ke tubuh mereka. Filosofi yang mereka gunakan adalah “lau haula walla Quwata ilabillahil ‘aliyyil adhim” atau tiada daya upaya melainkan karena Allah semata. Jadi, kalau Allah mengizinkan, maka pisau, golok, parang atau peluru sekalipun tidak akan melukai mereka.


33. Calung dari Banyumas
Pada masa awal penyebaran Islam, seni calung sering dipadu dengan lengger (le = thole = sebutan untuk anak laki-laki, dan ngger = angger = sebutan untuk anak perempuan). Seni calung digunakan sebagai alat untuk memanggil atau mengumpulkan anak-anak untuk diberikan pengetahuan baru yaitu tentang ajaran Islam. Seni calung berkembang di wilayah Banyumas. Wilayah Banyumas adalah wilayah budaya kulonan yang memiliki karakteristik cenderung apa adanya (blaka suta), lugu dan aksen ngapak. Ciri khas ini tercermin pada syair-syair lagu yang dipadu dengan irama musik calung serta senggakan-senggakan yang terkesan vulgar.

34. Gerabah Kasongan dari Yogyakarta
Gerabah Kasongan
merupakan kerajinan asli dari Yogyakarta. Hasil kerajinan gerabah Kasongan pada umumnya adalah alat-alat keperluan dapur, guci, pot /vas, patung loro blonyo, air mancur, wuwung, dan produk-produk keramik lainnya. Khusus untuk guci, dapat ditemukan banyak bentuk & varian guci di Kasongan. Guci merupakan salah satu jenis keramik yang kerap diburu para wisatawan. Selain karena ukurannya yang beragam, mulai dari setinggi dua jengkal tangan hingga seukuran bahu orang dewasa, guci di Kasongan juga memiliki banyak varian finishing. Dilihat dari perkembangannya, finishing guci yang banyak ditemui di Kasongan adalah finishing alami, yang hanya menggunakan cat sebagai media ‘sentuhan akhir’ dari guci tersebut.

35. Reog dari Ponorogo, Jawa Timur
Reog dari Ponorogo, Jawa Timur
Sejarah lahirnya kesenian ini pada saat Raja Brawijaya ke-5 bertahta di Kerajaan Majapahit. Untuk menyindir sang raja yang amat dipengaruhi oleh permaisurinya ini, dibuatlah barongan yang ditunggangi burung merak oleh Ki Ageng Tutu Suryo. Lebih lanjut cerita rakyat yang bersumber dari Babad Jawa menyatakan pada jaman kekuasaan Betoro Katong, penambing yang bernama Ki Ageng Mirah menilai kesenian barongan perlu dilestarikan.

Ki Ageng Mirah lalu membuat cerita legendaris tentang terciptanya Kerajaan Bantar Angin dengan rajanya Kelono Suwandono. Kesenian Reyog ini pertama bernama Singa Barong atau Singa Besar mulai ada pada sekitar tahun saka 900 dan berhubungan dengan kehidupan pengikut agama Hindu Siwa. Masuknya Raden Patah untuk mengembangkan agama Islam disekitar Gunung Wilis termasuk Ponorogo, berpengaruh pada kesenian Reyog ini. Yang lalu beradaptasi dengan adanya Kelono Suwandono dan senjata Pecut Samagini.

36. Karapan Sapi dari Madura, Jawa Timur
Karapan sapi
merupakan salah satu jenis kesenian/olahraga/permainan tradisional yang selalu dilakukan oleh masyarakat P. Madura, Jawa Timur. Kerapan atau karapan sapi adalah satu istilah dalam bahasa Madura yang digunakan untuk menamakan suatu perlombaan pacuan sapi. Ada dua versi mengenai asal usul nama kerapan. Versi pertama mengatakan bahwa istilah “kerapan” berasal dari kata “kerap” atau “kirap” yang artinya “berangkat dan dilepas secara bersama-sama atau berbondong-bondong”. Sedangkan, versi yang lain menyebutkan bahwa kata “kerapan” berasal dari bahasa Arab “kirabah” yang berarti “persahabatan”.

37.  Sapi Sonok dari Madura, Jawa Timur
Sapi Sonok dari Madura
Kontes Sapi Sonok
merupakan seni pertunjukan masyarakat Madura dalam rangka menghargai dan menghormati hewan sapi. Kegiatan ini selalu digelar setiap tahun secara bergiliran di 4 kota kabupaten Madura (Bangkalan, Sampang, Dan Sumenep). Kontes sapi Sonok dilaksanakan bersamaan dengan Karapan Sapi. Dalam kontes ini, sepasang Sapi Sonok dinilai berdasarkan kriteria tertentu yang meliputi kecantikan, keserasian, serta kesehatannya.






38. Tari Gandrung dari Banyuwangi, Jawa Timur
Tari Gandrung dari Banyuwangi, Jawa Timur
Tari Gandrung
berasal dari kata “gandrung”, yang berarti ‘tergila-gila’ atau ‘cinta habis-habisan’ dalam bahasa Jawa. Kesenian ini masih satu genre dengan seperti ketuk tilu di Jawa Barat, tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, lengger di wilayah Banyumas dan joged bumbung di Bali, dengan melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik (gamelan). 


39. Tari Kentrung dari Jawa Timur
Tari Kentrung dari Jawa Timur
Seni kentrung yang berkembang abad 16 adalah salah satu bentuk kesenian yang amat kental dengan dua dimensi yaitu dimensi estetik dan istetis yang menjadi unsur utama dalam konstrusi utama kesenian itu sendiri. Alat musik ini terdiri dari kendang rebana, kentrung dan jidur. Sebuah grup terdiri dari 3-7 penabuh dan 1 dalang pembaca patokan Jawa yang berkaitan dengan lakon yang dipentaskan.









40. Makepung dari Bali
Makepung dari Bali
Makepung
adalah atraksi balapan kerbau berasal dari Kabupaten Jembrana, Bali. Kata Makepung berasal dari kata makepung-kepungan (bahasa Bali) artinya berkejar-kejaran, inspirasinya muncul dari kegiatan tahapan proses pengolahan tanah sawah yaitu tahap melumatkan tanah menjadi lumpur dengan memakai lampit. Lampit ditarik oleh dua ekor kerbau dan sebagai alat penghias kerbau, maka pada leher kerbau tersebut dikalungi gerondongan (gongseng besar) sehingga apabila kerbau tersebut berjalan menarik  lampit maka akan kedengaran bunyi seperti alunan musik.

41. Kain Bidai dari Kalimantan
Kain Bidai dari Kalimantan
Bidai, bide, atau kasah bide
merupakan hasil seni kriya tradisional masyarakat Bidayuh yang berbentuk lembaran anyaman, dan terbuat dari kulit kayu dan rotan. Pada masa lalu bidai atau kassah bide banyak digunakan untuk menjemur hasil panen berupa padi-padian atau palawija, dan juga digunakan untuk perlengkapan rumah. Baik untuk alas tidur atau fungsi lainnya yang sejenis. Karena bahan bakunya yang terbuat dari rotan kecil yang dan kulit kayu, bidai atau kassah bide’ ini memiliki bentuk anyaman yang khas alam serta kuat atau tahan lama. Sekalipun itu pernah atau sering terendam air dan terkena panas matahari langsung.

42. Kain Songket Sambas dari Kalimantan Barat
Kain Songket Sambas dari Kalimantan Barat
Songket Sambas
adalaha salah satu seni kerajinan tekstil tenun khas Kalimantan Barat. Motif-motif yang dipakai pada saat ini tidak diketahui siapa yang menciptakannya dan itu motif-motif itu terus berkembang sesuai dengan kemampuan dari perajin tersebut. Motif yang tergambar dalam tenunan ini biasanya berkaitan dengan alam dan lingkungan hidup.  Adapun motif yang banyak dipakai antara lain; pucuk rebung, tabur awan berarak, serong bunga mawar terputus, tabur melati setangkai dan masih banyak yang lainnya.

43. Rumah Panjang Dayak  (Lamin, Betang, dan  Radaakng, Uma Dadoq) dari Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah
Rumah tradisional masyarakat Dayak. Lamin merupakan bangunan yang berdiri di atas tiang-tiang penyangga berupa kayu bulat atau balok. Konstruksi tiang penyangga ini membentuk kolong dan merupakan penyangga atau pendukung lantai dan atap. Bentuk dasar bangunan empat persegi panjang, bentuk dasar atap berupa prisma dengan konstruksi atap pelana. Bagian depan lamin dapat di tambah dengan  serambi yang memanjang mengikuti bentuk bangunan.

44. Karungut dari Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan
Karungut dari Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan
Puisi tradisional suku Dayak Ngaju. Karungut berasal dari kata karunya yang diambil dari bahasa Sangiang dan bahasa Sangen/Ngaju Kuno. ‘Karunya’ berarti tembang. Puisi tradisional atau puisi rakyat yang dikenal di Kalimantan Tengah ini diwariskan oleh nenek moyang mereka dalam bentuk lagu dan syair yang disusun sendiri oleh penciptanya, sepanjang tidak menyimpang dari kaidah yang telah dianggap baku. Di awal perkembangannya, bahasa yang digunakan dalam karungut adalah bahasa Sangen (Ngaju Kuno), tapi kini sangat jarang dipergunakan lagi. Dahulu salah satu fungsi karungut adalah sebagai media pengajaran. Karena seorang balian (guru atau dukun) menyampaikan pengajaran kepada para muridnya dengan mengarungut. Sementara para muridnya menjawab atau melaksanakan perintah dari gurunya dengan mengarungut pula.

45. Kain Sasirangan dari Kalimantan Selatan
Kain Sasirangan dari Kalimantan Selatan
Kain sasirangan
merupakan kain batik yang terdapat di kalimantan selatan. Proses pembuatannya sudah dilakukan secara modern. Bahan yang digunakan untuk membuat kain sasirangan pada awalnya berasal dari serat kapas atau katun.  Dalam perkembangannya, bahan baku ini berkembang bukan saja dari  kapas, melainkan juga dari bahan non kapas. 
 
Tetapi yang jelas bahan bakunya berasal dari bahan baku berupa kain. Adapun jenis-jenis kain yang dijadikan bahan baku tersebut pada dasarnya  hanya terdiri dari tiga jenis saja yaitu kain sutera, kain saten atau sating dan kain katun. Pengertian kain Sasirangan itu sendiri secara umum adalah sejenis kain  yang dibuat dengan teknik tusuk jelujur, kemudian diikat dengan benang atau tali raffia dan selanjutnya dicelup.

46. Ulap Doyo dari Kalimantan Timur
Ulap Doyo dari Kalimantan Timur
Seni kerajinan tekstil masyarakat Dayak Benuaq. Bahan utama untuk menenun adalah benang doyo, yang berasal dari serat daun ulap doyo (Curcoligo latifolia lend.) yang berbentuk lebar. Jenis tumbuhan ini banyak tumbuh di dataran yang berpasir, di antara semak dan ilalang, dan tumbuh dekat rawa. Secara almiah tumbuhan sejenis pandan ini berkembang dengan subur di daerah Tanjung Isuy. Dahulu bahan ini dipergunakan mengingat benang dari kapas masih susah ditemukan. Konon, pohon Doyo ini hanya boleh ditanam oleh perempuan, serta tabu atau pantang dikerjakan oleh lelaki. Dengan teknik tertentu daun ini  dipintal hingga berbentuk benang yang kuat untuk ditenun.

47. Belian Bawo dari Kalimantan Timur
Belian Bawo dari Kalimantan Timur
Belian bawo
adalah Tradisi ritual pengobatan alternatif orang sakit. Upacara belian bawo berkaitan dengan alam kepercayaan Suku Dayak Benuaq, yang didasari keyakinan religiusitasnya. Oleh karena itu upacara belian bawo sarat dengan fungsi spiritual (religius). Kepercayaan ini yang merupakan motor penggerak seluruh sendi kehidupan masyarakat Suku Dayak Benuaq yang di antaranya terwujud dalam penghormatan arwah nenek moyang, kepercayaan akan adanya kekuatan-kekuatan gaib, dan makhluk-makhluk halus. Perasaan ini mendorong mereka untuk selalu berusaha menyenangkan hati roh leluhur dan makhluk halus yang melingkupi kehidupan mereka, karena hal-hal itu diyakini sebagai sumber malapetaka dan pertolongan.

48. Hudoq dari Kalimantan Timur
Hudoq dari Kalimantan Timur
Hudoq adalah tarian tradisional suku Dayak Modang yang terdapat di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Tari Hudoq merupakan tarian sakral yang erat kaitannya dengan prosesi ritual atau upacara adat. Saat menari, para penari Hudoq menggunakan topeng menyerupai binatang buas dan terbuat dari kayu. Tubuh mereka ditutupi dengan daun pisang, daun kelapa, atau daun pinang. Masing-masing penari itu memerankan karakter tokoh-tokoh hudoq (gambaran dewa yang memiliki kekuatan gaib). Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Kalimantan Timur.

49. Tari Maengket dari Sulawesi Utara
Tari Maengket dari Sulawesi Utara
Tari tradisional masyarakat Minahasa. Tarian ini dilakukan oleh sekelompok orang yang menyanyi sambil menari bahkan saling berpegangan tangan dan di pimpin oleh seseorang (Kapel) yang akan mengangkat  suara/lagu pertama (Tumutuur)  serta tambur sebagai alat pengiringnya. Kegiatan dimaksud berkaitan upacara dengan tujuan menerangi,membuka jalan dan mempersatukan masyarakat pendukungnya. Hal ini dilakukan dalam situasi kegiatan panen padi (Maowey/Makamberu),selamatan rumah baru (Marambak) dan pergaulan muda mudi (Lalaya’an). Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Sulawesi Utara.

50. Mane’e dari Sulawesi Utara
Mane’e dari Sulawesi Utara
Mane’e merupakan kegiatan menangkap ikan dengan janur (Samih) yang dilakukan oleh masyarakat Kakorotan. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada kabupaten Kep. Talaud (Perbatasan Filipina) provinsi Sulawesi Utara. Mane’e atau penangkapan ikan bersama bagi masyarakat kepulauan Talaud telah berlangsung sejak lama. Menurut penuturan masyarakat, dimulai sekitar abad ke-16. Kebiasaan ini dilakukan pada setiap tahun  biasanya jatuh pada bulan Mei atau Juni dan telah  berlangsung sejak dahulu sampai saat ini, sehingga pemerintah kabupaten berupaya mengangkat tradisi ini menjadi salah satu objek wisata. Lokasi “Mane’e” yang dipilih dan ditetapkan oleh pemerintah daerah terdapat di desa Kakorotan.

51. Musik Kolintang dari Sulawesi Utara
Musik Kolintang dari Sulawesi Utara
Kolintang
adalah alat musik khas dari Minahasa (Sulawesi Utara) yang mempunyai bahan dasar kayu, jika dipukul dapat mengeluarkan bunyi yang cukup panjang dan dapat mencapai nada-nada tinggi maupun rendah, seperti kayu telur, bandaran, wenang, kakinik atau sejenisnya (jenis kayu yang agak ringan tapi cukup padat dan serat kayunya tersusun sedemikian rupa membentuk garis-garis sejajar). Kata Kolintang berasal dari bunyi: Tong (nada rendah), Ting (nada tinggi) dan Tang (nada tengah). Dahulu dalam bahasa daerah Minahasa untuk mengajak orang bermain Kolintang “mari kita ber-Tong, Ting, Tang” dengan ungkapan “Maimo Kumolintang” dan dari kebiasaan itulah muncul Kolintang.

52. Saiyyang Patu’duq dari Sulawesi Barat
Saiyyang Patu’duq dari Sulawesi Barat
Saiyyang Pattu’duq
adalah tradisi ritual mengarak menggunakan kuda. Saiyyang Pattuqduq (bahasa Mandar, saiyyang artinya kuda, pattuqduq artinya penari); saiyyang pattuqduq artinya kuda yang pandai menari, pandai memainkan gerakan kepala dan gerakan kaki. Saiyyang pattuqduq digunakan dalam: a) tunggangan anak yang khatam Al Qur’an saat diarak keliling kampong, umumnya dilaksanakan pada peringatan mauled Nabi Muhammad saw, b) tunggangan tamu (penjemputan) tamu kehormatan, c) tunggangan karena adanya nadzar, dan d) sekedar hiburan atau pertunjukan. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Sulawesi Barat.


53. Tari Raigo dari Sulawesi Tengah
Tari Raigo dari Sulawesi Tengah
Tarian Raigo
merupakan kesenian yang turun-temurun yang digiatkan melalui suatu upacara adat yang dimaksudkan sebagai pernyataan kesyukuran atas pencapaian suatu hasil usaha seperti bercocoktanam terutama menanam padi. Tarian ini bukan hanya semata-matasebuah bentuk kesenian (hiburan) namun tarian ini tidakdapat terlepas dari beberapa pelaksanaan upacara adat diwilayah Kulawi atau pun di lembah Bada. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Sulawesi Tengah.




54. Kalosara dari Sulawesi Tenggara
Kalosara dari Sulawesi Tenggara
Kalo atau kalosara merupakan sebuah benda yang terbuat dari tiga utas rotan yang dipilin atau dililit membentuk sebuah lingkaran.  Cara memilinnya adalah berlawanan dengan arah jarum jam atau dipilin kea rah kiri.  Ujung lilitannya tiga utas rotan ini kemudian disimpul dan diikat dimana dua ujung rotan disembunyikan dalam lilitan sedangkan satu ujung yang lainnya dibiarkan mencuat keluar.

Lilitan atau pilinan tiga utas rotan merupakan symbol yang memiliki makna persatuan dan kesatuan dari tiga stratifikasi orang Tolaki di jaman dahulu yakni : anakia atau golongan bangsawan, towonua/ penduduk asli, toono motuo/ orang-orang yang dituakan didalam suatu kampong, toono dadio/ orang kebanyakan, dan stratifikasi yang ketiga yakni o’ata atau golongan budak. Sebagai simbol hukum adat pada orang Tolaki yang dipercaya telah diwariskan secara turun temurun, maka Kalosara ditemukan dalam berbagai aturan hukum adat itu sendiri yakni dalam bidang-bidang : hukum di bidang pemerintahan yang saat ini khususnya dalam pemerintahan yang melibatkan tokoh-tokoh adat, hukum di bidang pertanahan, hukum di bidang perkawinan, hukum di bidang tatacara membangun  dan membina rumah tangga, hukum di bidang pewarisan, hukum di bidang utang-piutang, hukum di bidang konflik dan tatacara penyelesaiannya, dan hukum di bidang pencemaran nama baik dan mencelakakan orang lain.
 

55. Kabhanti dari Sulawesi Tenggara
Kabhanti dari Sulawesi Tenggara
Kabhanti
merupakan salah satu bentuk tradisi lisan yang ada pada masyarakat Suku Muna. Kabhanti memiliki ciri yang hampir sama dengan pantun / puisi lama. Kabhanti diciptakan oleh masyarakat Suku Muna. Tradisi berucap pantun yang ada pada masyarakat Suku Muna, Sulawesi Tenggara ini telah lama ada di Pulau Muna. Kabhanti merupakan tradisi berucap pantun, baik yang diucapkan sendiri ( monolog ) maupun secara berbalas dalam suatu kelompok (kelompok Laki-laki maupun kelompok perempuan. Isi dari kabhanti biasanya mengemukakan serta menyampaikan hal hal yang berupa pesan moral bagi masyarakat, nilai nilai keagamaan, petunjuk kehidupan / petuah, sindiran, percintaan, serta nilai nilai budaya dan adat istiadat. Bagi masyarakat muna, kabhanti bertujuan untuk memperkokoh nilai dan norma dalam masyarakat.

56. Lariangi dari Sulawesi Tenggara
Lariangi dari Sulawesi Tenggara
Seni tari masyarakat Kep. Buton dan Wakatobi Sulawesi Tenggara. Dimainkan oleh lima orang wanita. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Sulawesi Tenggara. Tarian ini merupakan tari persembahan dari Kaledupa untuk dimainkan di Istana Raja dalam wujud gerakan dan nyanyian dengan fungsi utamanya adalah sebagai penerangan.

Berdasarkan makna kata Lariangi yaitu terdiri dari dua suku kata :
• Lari yang berarti menghias atau mengukir, baik itu dalam bentuk formasinya yang kadangkala berbentuk melingkar dan sebagian ada yang duduk juga terlukis pada gerakan kipas atau lenso yang bervariasi sesuai lagu yang dibawakan

• Angi adalah orang-orang yang berhias dengan berbagai ornamen untuk menyampaikan informasi atau suatu maksud tertentu berupa nasihat (petuah), anjuran ataupun sebagai hiburan yang nampak pada gerkan tari dan nyanyiannya.


57. Layangan Kagati dari Sulawesi Tenggara
Layangan Kagati dari Sulawesi Tenggara
Permainan Layang-layang tradisional suku Raha. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Sulawesi Tenggara. Layang-layang tradisional dari Pulau Muna ini terbuat dari lembaran daun kolope (daun gadung) yang telah kering kemudian dipotong ujung-ujungnya. Satu per satu daun tersebut dijahit dengan lidi dari bambu sebagai rangka layangan, sementara talinya dijalin dari serat nanas hutan. Permainan layang-layang (kaghati) oleh nenek moyang masyarakat Muna telah dilakukan sejak 4 ribu tahun lalu. Hal ini berdasarkan penelitian Wolfgong Bick tahun 1997 di Muna.

58. Kapal Phinisi dari Sulawesi Selatan
Kapal Phinisi dari Sulawesi Selatan
Perahu layar tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Menurut cerita di dalam naskah Lontara La Galigo, mengatakan kapal Pinisi pertama sudah ada sejak abad ke-14 yang dibuat oleh putra mahkota Kerajaan Luwu, Sawerigading, untuk digunakan berlayar menuju Tiongkok. Kapal tersebut dibuat dari bahan yang diambil dari pohon welengreng (pohon dewata) yang kokoh dan tidak mudah rapuh. Sebelum menebang pohon tersebut, terlebih dahulu dilaksanakan ritual khusus agar penunggunya bersedia pindah ke pohon lainnya. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Sulawesi Selatan.

59. Pa’gellu dari Sulawesi Selatan
Pa’gellu dari Sulawesi Selatan
Tari Pa’gellu adalah suatu karya seni tari tradisional di Toraja (Tana Toraja, Toraja Utara) yang sejak dahulu dilakukan oleh gadis-gadis berjumlah 5 orang dengan iringan gendang, untuk upacara-upacara Rambu Tuka’ (syukuran panen, rumah adat yang baru dibangun), pesta perkawinan, penyambutan tamu-tamu agung dan pesta-pesta lainnya, kecuali upacara pemakaman orang Toraja. Tari Pa’gellu’ hanya bisa dilakukan oleh wanita, gadis dewasa karena seni Tari Pa’gellu’ tujuannya adalah hiburan dan bersifat rekreatif, selain menghibur juga membuat penonton menjadi senang dan khusus tamu yang di sambut merasa terhormat. Hampir setiap saat kita dapat menyaksikan penampilan seni Tari Pa’gellu’ ini di Toraja, bahwa luar Toraja dimana ada orang Toraja. Rasanya kurang lengkap sebuah pesta dan keramaian lainnya tanpa tari ini kecuali upacara kematian tidak ada Tari pa’gellu.


60. Sinliriq dari Sulawesi Selatan
Sinliriq dari Sulawesi Selatan
Tradisi lisan masyarakat Makassar yang berupa pembacaan sastra dengan diiringi rebab. Isi dari sastra sebagian diisi dengan pesan moral dan ajakan kepada masyarakat untuk menuju kebaikan. Selain itu, terkadang pemerintah juga menggunakan media Sinriliq untuk mensosialisasikan program-program pemerintah. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Sulawesi Selatan.

61. Tarian Pakkarena dari Sulawesi Selatan
Tarian Pakarena
dibawakan oleh penari perempuan yang mempertunjukkan kelemah-lembutan perempuan-perempuan Makassar. Tarian ini lebih banyak mempertunjukkan gerak tangan yang terayun ke samping kiri dan kanan serta ke depan secara beraturan dan lamban Namun gerakan tangan tersebut terangkat paling tinggi hanya setinggi bahu tidak pernah terangkat hingga setinggi kepala. Tangan kanannya selalu memegang kipas. 

Tari Pakarena adalah tarian tradisional dari Makassar. Pada abad 20, tari ini mulai keluar dari tradisi istana dan menjadi pertunjukan yang sangat populer. Tari ini sangat enerjik, terkadang juga begitu hingar bingar oleh musik, namun diiringi oleh tarian yang sangat lambat lemah gemulai dari para wanita muda. Dua kepala drum (gandrang) dan sepasang instrument alat semacam suling (puik-puik) mengiringi dua penari. Kelembutan mendominasi kesan pada tarian ini. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Sulawesi Selatan.

62. Molapi Sorande dari Gorontalo
Tari Molapi saronde
adalah tarian ritual pernikahan adat Gorontalo. Tarian ini dilaksanakan oleh pengantin laki-laki pada malam hari perkawinan mereka. Bahan yang digunakan adalah tiga macam selendang yakni warna hijau, kuning, dan kuning telur. Pelaksanaan ritual ini bertempatkan di tempat mempelai wanita. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Gorontalo.


 
 
 
63. Gendang Beleq dari Nusa Tenggara Barat
Gendang Beleq dari Nusa Tenggara Barat
Gendang beleq
adalah suatu peralatan musik, dan disebut gendang beleq karena gendang ini ukurannya besar dibandingkan dengan ukuran gendang pada umumnya. Gendang berarti kendang dan beleq berarti besar. Gendang besar (gendang beleq) ada dua jenis yang disebut gendang mama (laki-laki) dan gendang nina (perempuan). Perbedaan antara kedua gendang tersebut bukan pada bentuk fisiknya melainkan pada suara yang dihasilkan yaitu gendang mama lebih nyaring daripada gendang nina.m Gendang Beleq biasa dimainkan di panggung maupun di lapangan terbuka. Susunan pendukung musik gendang beleq dan penarinya yang baku terdiri dari 40 orang, dan dipertunjukkan pada acara-acara khusus seperti Maulud Nabi, Lebaran, upacara perkawinan, khitanan dan cukur rambut bayi. Sedangkan yang tidak baku terdiri dari 17 orang dipertunjukkan untuk menyambut tamu, perlombaan atau festival. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Nusa Tenggara Barat.

64. Wayang Kulit Sasak dari Nusa Tenggara Barat
Wayang Kulit Sasak dari Nusa Tenggara Barat
Wayang Kulit Sasak adalah Wayang kulit yang berkembang di Lombok yang pada dasarnya mengambil cerita Menak yang ceritanya bersumber dari Cerita Amir Hamsah yaitu paman Nabi Muhammad SAW. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Nusa Tenggara Barat.




 
 
 
65. SASANDO DARI NUSA TENGGARA TIMUR
Sasando adalah alat musik petik khas Orang Rote, Nusa Tenggara Timur, yang terbuat dari daun lontar dan kayu. Sasando yang seharusnya bernama Sasandu (bunyi yang dihasilkan dari getar) lahir dari inspirasi penemunya dari hasil interaksi dengan alam. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Nusa Tenggara Timur.

Sasando adalah sebuah alat musik dawai yang dimainkan dengan dipetik. Instumen musik ini berasal dari pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Secara harfiah nama Sasando menurut asal katanya dalam bahasa Rote, sasandu, yang artinya alat yang bergetar atau berbunyi. Suara sasando ada miripnya dengan alat musik dawai lainnya seperti gitar, biola, kecapi, dan harpa.

Bagian utama sasando berbentuk tabung panjang yang biasa terbuat dari bambu. Lalu pada bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah diberi ganjalan-ganjalan di mana senar-senar (dawai-dawai) yang direntangkan di tabung, dari atas kebawah bertumpu. Ganjalan-ganjalan ini memberikan nada yang berbeda-beda kepada setiap petikan senar. Lalu tabung sasando ini ditaruh dalam sebuah wadah yang terbuat dari semacam anyaman daun lontar yang dibuat seperti kipas. Wadah ini merupakan tempat resonansi sasando.

66. CACI DARI NUSA TENGGARA TIMUR
Caci atau tari Caci atau adalah tari perang sekaligus permainan rakyat antara sepasang penari laki-laki yang bertarung dengan cambuk dan perisai di Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.
Penari yang bersenjatakan cambuk (pecut) bertindak sebagai penyerang dan seorang lainnya bertahan dengan menggunakan perisai (tameng). Tari ini dimainkan saat syukuran musim panen (hang woja) dan ritual tahun baru (penti), upacara pembukaan lahan atau upacara adat besar lainnya, serta dipentaskan untuk menyambut tamu penting.

Caci adalah tradisi permainan pada suku manggarai dengan beranggotakan dua orang pemain yang saling memukul menggunakan rotan dan perisai kulit kerbau. Dalam permainan caci ada penangkis dan ada pemukul yang dilakukan secara bergantian berulang-ulang. Pemenang dalam permainan ini adalah orang yang telah berhasil melukai lawannya di bagian wajah. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Nusa Tenggara Timur.

Seorang laki-laki yang berperan sebagai pemukul (disebut paki) berusaha memecut lawan dengan pecut yang dibuat dari kulit kerbau/sapi yang dikeringkan. Pegangan pecut juga dibuat dari lilitan kulit kerbau. Di ujung pecut dipasang kulit kerbau tipis dan sudah kering dan keras yang disebut lempa atau lidi enau yang masih hijau (disebut pori). Laki-laki yang berperan sebagai penangkis (disebut ta’ang), menangkis lecutan pecut lawan dengan perisai yang disebut nggiling dan busur dari bambu berjalin rotan yang disebut agang atau tereng. Perisai berbentuk bundar, berlapis kulit kerbau yang sudah dikeringkan. Perisai dipegang dengan sebelah tangan, sementara sebelah tangan lainnya memegang busur penangkis.

67. RUMAH BALE DARI NUSA TENGGARA TIMUR
Arsitektur Sumba disebut juga Rumah Bale. dibedakan menurut status sosial pemiliknya, bala untuk rumah bangsawan dan bale untuk rumah rakyat jelata. Rumah Orang Sumbawa berbentuk panggung. Atap rumah Sumbawa tinggi seperti perahu dengan sudut sekitar 45 derajat. Di bagian depan atas terdapat lebang yang dahulu menunjukkan status sosial pemiliknya. Semakin banyak lebangnya, semakin tinggi status kebangsawanannya. Selain lebang, ukuran rumah juga menandakan status sosial pemiliknya. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Nusa Tenggara Timur.

68. TARI SEKA DARI MALUKU
Seni pertunjukan tari suku Babar yang mengunakan gerak kaki sebagai tumpuhan dasar pergerakannya. Tarian ini dijadikan sebagai tarian sakral bagi para ksatria negeri/kampung yang akan berperang dengan sebuah asumsi bahwa tari seka besar mampuh secarah magis melindungi, dan menjaga para pejuang negeri yang turun ke mendan perang. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Maluku .




69. TAIS PET DARI MALUKU
Kain tenun tradisional masyarakat Tanimbar. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Maluku. Tais Pet memiliki fungsi sosial yang sangat kuat dikalangan masyarakat tanimbar sebagai simbol identitas diri. Pengenalan identitas diri itu terabstraksi lewat ikatan emosional komunitas Tanimbar yang memberikan nuansa persaudaraan, tenggang rasa, saling menghormati dan rasa sepenanggungan. 
Kemudian fungsi ini juga berlanjut secara lokal, regional maupun secara nasional, sehingga merajut ikatan-ikatan sosial terhadap  pengenalan masyarakat Maluku dan atau bangsa Indonesia pada umumnya. Selain itu juga Tais pet memberikan nuansa warna sebagai simbol status sosial, sehingga memberikan petunjuk terhadap status seseorang dalam struktur masyarakat. Warna hitam dan coklat merupakan warna kebesaran atau kewibawaan dalam diri seorang pemimpin. Warna merah, kuning dan putih merupakan cermin keberanian, kejujuran, ketulusan, keiklasan dan kesucian hati masyarakat.

70. TARI MAKU-MAKU DARI MALUKU
Tari Maku-maku adalah tarian tradisional yang bersifat sosial yakni merupakan tarian pergaulan yang bertujuan untuk mempererat keakraban antara anggota masyarakat dalam hal ini anak cucu Maluku. Tarian ini secara garis besar merupakan lambang persekutuan anak-anak masyarakat Maluku. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Maluku.

 
 
71. BAMBU GILA DARI MALUKU UTARA
Tarian bambu gila atau yang dikenal juga dengan nama Buluh Gila atau Bara Suwen berasal dari Maluku Utara. Sesuai namanya, tarian ini menggunakan sarana utama bambu. Penduduk setempat percaya bahwa bambu memiliki kekuatan mistik dan dapat dirasuki.

Permainan bambu gila sudah ada di Ternate sejak ratusan tahun silam, sebelum masuknya agama Islam dan Kristen ke Kepulauan Maluku. Di masa lampau, permainan bambu gila dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, terutama untuk pekerjaan-pekerjaan berat, seperti memindahkan barang yang sulit diangkat jika hanya mengandalkan tenaga manusia semata.

Tarian /seni pertunjukan yang dilakukan oleh lebih dari sepuluh orang dengan memegang satu batang bambu sepanjang satu meter/ sesuai kebutuhan. Pemegang bambu dipertontonkan tidak kuat. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Maluku Utara.

Selain itu, bambu gila juga digunakan oleh masyarakat Kesultanan Ternate zaman dulu sebagai senjata untuk melumpuhkan musuh. Saat itu, bambu gila bisa dikerahkan dengan kekuatan supranatural untuk menyerang lawan.

Sampai saat ini, permainan bambu gila tetap dilestarikan di Ternate, tapi difungsikan sebagai permainan untuk hiburan rakyat. Permainan unik bambu gila kini bahkan telah menjadi salah satu daya tarik wisata di Ternate.

72. SOYA-SOYA DARI MALUKU UTARA
Pada tahun 1570-1583 telah terjadi sebuah penyerbuan ke markas Portugis di Benteng Kastella, Ternate oleh segenap rakyat Ternate yang
dipimpin oleh Sultan Baabullah. Penyerbuan ini memiliki latar belakang terbunuhnya Sultan Khairun, ayah dari Baabullah yang dijebak oleh Portugis di Benteng Kastella. Maksud utama dari penyerbuan ini sebenarnya bukan sekedar penyerangan, namun lebih kepada upaya penjemputan jenazah Sultan Khairun. Tetapi pada perkembangannya, penjemputan ini kemudian beralih menjadi kebangkitan perjuangan rakyat Kayoa, Maluku Utara terhadap penjajah Portugis pada akhir abad ke-16.


Seni Tradisi Tari Rakyat Maluku Utara. Tarian soya-soya tercipta pada masa Sultan Baabullah (Sultan Ternate Ke-24), dari Kesultanan Ternate, untuk mengobarkan semagat pasukan pasca-tewasnya Sultan Khairun pada 25 Februari 1570. Saat itu, tarian soya-soya dimaknai sebagai perang pembebasan dari Portugis hingga jatuhnya tahun 1575. Para penari akan menampilkan tarian yang lincah dimana merefleksikan gerak menyerang, mengelak dan menangkis. Jumlah penari soya-soya sendiri tidak ditentukan. Bisa hanya empat orang dan bahkan hingga ribuan penari.

Kisah heroik di atas adalah sejarah yang akan selalu menjadi penyemangat rakyat Ternate di dalam sebuah kebangkitan. Seiring berjalannya waktu, peristiwa di atas pun diabadikan dalam sebuah karya tari yang sarat akan nilai kepahlawanan. Tari ini bernama Soya-Soya yang berarti pantang menyerah dan juga dapat dimaknakan sebagai penjemputan. Soya-soya adalah tarian asli karya masyarakat Ternate yang merupakan ungkapan kebanggaan mereka terhadap perjuangan para pendahulu mereka dalam mengusir penjajah negeri Ternate yang sangat kaya.

73. TARI YOSIM PANCAR DARI PAPUA
Tari Yospan adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari daerah Papua. Tarian ini tergolong tarian pergaulan masyarakat yang bisa ditarikan oleh penari pria maupun penari wanita. Tari Yospan merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di Papua, khususnya di daerah
pesisir utara Papua. Tarian ini biasanya sering ditampilkan di berbagai acara, baik acara yang bersifat adat, penyambutan, maupun acara budaya.

Tari Yospan adalah tarian pergaulan atau persahabatan para muda-mudi masyarakat Papua. Pertunjukan Tarian Yosim Pancar biasanya dilakukan lebih dari satu orang, dan memiliki gerakan dasar yang penuh semangat. Tarian Yosim Pancar sama sekali bukan tarian tradisi, melainkan tarian kontemporer yang dimodifikasi dengan berbagai tarian rakyat. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Papua.

Menurut beberapa sumber, Tari Yospan merupakan penggabungan antara dua tarian rakyat Papua, yaitu Tari Yosim dan Tari Pancar. Tari Yosim sendiri merupakan tarian yang hampir mirip dengan Tari Poloneis (tarian dansa eropa), banyak sumber yang menjelaskan Tari Yosim ini berasal dari daerah pesisir utara Papua. Sedangkan Tari Pancar merupakan tarian yang tumbuh dan berkembang di daerah Biak, Numfor dan Manokwari. Awalnya Tari Pancar ini disebut dengan Tari Pancar Gas, agar lebih mudah disebut kemudian mereka menyingkatnya dengan Tari Pancar. Konon gerakan dalam Tari Pancar ini terinspirasi dari gerakan akrobatik pesawat pada masa penjajahan Belanda.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Tari Yospan merupakan tari penggabungan antara Tari Yosim dan Tari Pancar. Tari Yospan awalnya hanya menggunakan gerakan-gerakan yang ada pada kedua tari tersebut. Namun seiring dengan berjalannya waktu tarian ini kemudian dikembangkan oleh masyarakat disana, sehingga gerakannya lebih kaya dan bervariatif seperti yang sekarang ini.

74. UKIRAN ASMAD DARI PAPUA
Suku Asmat adalah suku besar yang cukup ternama di Bumi Papua. Keberadaannya sebagai suku yang mendiami wilayah pesisir selatan Papua sangat diperhitungkan dalam sejarah penyebaran masyarakat Papua. Asmat menjadi begitu ternama karena memiliki harkat hidup yang luar biasa, selain itu budaya yang dimiliki suku ini pun sangat menarik dan unik. Salah satu yang menonjol ketika membicarakan suku ini adalah hasil seni ukiran mereka yang sudah terkenal luas hingga ke mancanegara.

Seperti kehidupan pada umumnya, Suku Asmat juga membutuhkan media untuk menyatakan berbagai hal yang mereka alami dalam kehidupan. Kisah-kisah heroik, mistis, atau peraturan-peraturan adat biasanya mereka ungkapkan dalam bentuk media tertentu. Hal ini mereka lakukan dengan berbagai tujuan, antara lain sebagai sarana menjaga kelangsungan tradisi, sarana belajar bagi generasi selanjutnya, dan penghormatan spiritual bagi para roh leluhur. Oleh karena itulah, ukir-ukiran menjadi tidak terpisahkan dari kehidupan Suku Asmat dan mempunyai arti penting dalam berbagai upaya mengaktualisasikan kehidupan mereka. Namun, di masa modern saat ini, banyak dari mereka yang tidak hanya mengukir untuk mengaktualisasikan hidup, tetapi juga untuk alasan komoditas.

Sejak tahun 1700-an, suku Asmat di Papua telah dikenal dunia dengan keterampilan mengukirnya. Kesenian mengukir di Asmat merupakan aktualisasi dari kepercayaan terhadap arwah nenek moyang yang disimbolkan dalam bentuk patung serta ukiran. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Papua.

Ukiran Asmat memiliki ciri khas tersendiri bila dibandingkan berbagai ukiran dari daerah lain. Pengerjaan yang rapih dan detil-detil ukiran yang rumit menjadi alasan mengapa ukiran Asmat dapat tersohor hingga ke seluruh penjuru dunia. Motif-motif yang berhubungan dengan alam, makhluk hidup dan aktifitas kehidupan sehari-hari banyak ditemui di dalam ukiran Asmat. Bentuk yang umum ditemui misalnya adalah kelelawar, burung cendrawasih, dan ikan. Sedangkan bentuk aktifitas yang biasa mereka buat adalah manusia yang sedang berperang, berburu, atau mencari ikan, tidak jarang juga mereka membuat refleksi aktifitas hidup para leluhur Asmat. Yang pasti, motif maupun bentuk ini tidak akan terlepas dari kehidupan suku Asmat sendiri.

75. BARAPPEN DARI PAPUA DAN PAPUA BARAT
Bakar batu merupakan sebuah aktifitas memasak yang dilakukan oleh masayarakat suku Dani di Papua, dengan menggunakan media batu yang dipanaskan di api hingga menjadi berwarna merah dan benar-benar panas yang kemudian akan diselipkan di antara bahan-bahan yang akan diolah atau dimasak untuk dikonsumsi secara bersama-sama. Bahan utama yang digunakan adalah daging babi, saat ini dikembangkan selain babi (ikan, kelinci, ayam, kambing, dsb.) Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Papua dan Papua Barat.

 
 
76. TIFA DARI PAPUA, PAPUA BARAT, NTT, DAN MALUKU
Tifa merupakan alat musik khas Indonesia bagian Timur, khususnya Maluku dan Papua. Alat musik ini bentuknya menyerupai kendang dan terbuat dari kayu yang di lubangi tengahnya. Ada beberapa macam jenis alat musik Tifa seperti Tifa Jekir, Tifa Dasar, Tifa Potong, Tifa Jekir Potong dan Tifa Bas.

Tifa mirip dengan alat musik gendang yang dimainkan dengan cara
dipukul. Alat musik ini terbuat dari sebatang kayu yang dikosongi atau dihilangi isinya dan pada salah satu sisi ujungnya ditutupi, dan
biasanya penutupnya digunakan kulit rusa yang telah dikeringkan untuk menghasilkan suara yang bagus dan indah. Bentuknyapun biasanya dibuat dengan ukiran. Setiap suku di Maluku dan Papua memiliki tifa dengan ciri khas nya masing-masing.

Tifa biasanya digunakan untuk mengiringi tarian perang dan beberapa tarian daerah lainnya seperti tari Lenso dari Maluku yang diiringi juga dengan alat musik totobuang, tarian tradisional suku Asmat dan tari Gatsi.

Alat musik perkusi khas Papua simbol perdamaian bagi masyarakat Papua tempo dulu. Bilamana terjadi perang diantara suku-suku di Papua. Para tua adat lantas membunyikan tifa untuk memanggil wakil dari kedua pihak berdamai. Namun kini, tifa tak lagi digunakan bagi suatu perdamaian. Tapi lebih digunakan dalam rituil adat, seperti pesta adat, perkawinan, menyambut tamu-tamu penting dan lain-lain. Daerah sebarannya umumnya dapat ditemui pada provinsi Papua, Papua Barat, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur

77. RENDANG DARI SUMATERA BARAT
Rendang dalam bahasa Minangkabau disebut dengan rendang adalah salah satu makanan tradisional khas Minangkabau yang sangat terkenal ke seantaro penjuru nusantara. Rendang tersebut memiliki beberapa warna, yakni merah kecoklatan, coklat, sampai coklat kehitaman. Pengertian rendang yang diambil dari kata Marandang, yakni suatu proses pengolahan lauk berbahan dasar santan yang dimasak sampai kandungan airnya berkurang, bahkan sampai kering sehingga apabila disebut rendang itu artinya olahan masakan yang kering tanpa mengandung air.

Masakan daging bercita rasa pedas yang menggunakan campuran dari berbagai bumbu dan rempah-rempah. Masakan ini dihasilkan dari proses memasak yang dipanaskan berulang-ulang dengan santan kelapa. Proses memasaknya memakan waktu berjam-jam (biasanya sekitar empat jam) hingga kering dan berwarna hitam pekat. Dalam suhu ruangan, rendang dapat bertahan hingga berminggu-minggu. Rendang yang dimasak dalam waktu yang lebih singkat dan santannya belum mengering disebut kalio,
berwarna coklat terang keemasan. 


Rendang dapat dijumpai di Rumah Makan Padang di seluruh dunia. Masakan ini populer di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya, seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina, dan Thailand. Di daerah asalnya, Minangkabau, Rendang disajikan di berbagai upacara adat dan perhelatan istimewa. Meskipun rendang merupakan masakan tradisional Minangkabau, masing-masing daerah di Minangkabau memiliki teknik memasak serta pilihan dan penggunaan bumbu yang berbeda.